Oleh : Ferial Farkhan IA
Di tengah hiruk-pikuk dinamika Muktamar NU yang sarat dengan lobi, strategi, dan hitung-hitungan suara, ada satu peristiwa sederhana yang justru berbicara lebih lantang daripada segala manuver politik: Gus Yusuf menyempatkan diri menjenguk KH. Ahmad Mahin Thoha, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Lirboyo Kediri, yang tengah menjalani sakit. Sebuah langkah kecil, namun sarat makna besar. Di saat banyak calon lain sibuk memoles citra dan merapatkan barisan pendukung, beliau memilih untuk hadir di sisi seorang kiai sepuh yang tengah membutuhkan doa dan perhatian.
Langkah ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ia adalah cerminan dari watak seorang santri yang tak pernah lupa pada akar keteladanan pesantren: bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan yang dikejar, melainkan dari kepekaan hati terhadap sesama, terlebih kepada para masyayikh yang telah mendidik generasi ulama. Di tengah gemuruh kontestasi menuju kursi Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf justru menunjukkan bahwa kursi kepemimpinan bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus disandingkan dengan ketulusan menjaga silaturahmi dan penghormatan kepada para guru.
Tak berhenti di situ, jejak kepedulian Gus Yusuf juga terlihat nyata dalam gerakannya menggalang donasi kemanusiaan untuk saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur yang tertimpa musibah. Beliau tidak hanya menyerukan solidaritas dari atas mimbar, tetapi turut menyumbangkan dana pribadi sebesar seratus juta rupiah, yang kemudian diterima langsung oleh perwakilan Pengurus Cabang NU dari NTT. Sebuah tindakan nyata yang melampaui retorika, membuktikan bahwa kepedulian sosial bukan sekadar jargon kampanye, melainkan panggilan jiwa yang telah lama tertanam.
Dua peristiwa ini, menjenguk kiai sepuh yang sakit dan menggerakkan bantuan bagi korban musibah, menyingkap satu benang merah yang sama: bahwa bagi Gus Yusuf, Muktamar bukanlah semata arena perebutan kekuasaan. Ia memaknainya sebagai momentum untuk menghidupkan kembali ruh Nahdlatul Ulama yang sesungguhnya, yakni jam’iyyah yang lahir dari semangat ta’awun, saling menopang, dan saling menjaga di antara sesama anak bangsa, tanpa memandang sekat wilayah maupun kepentingan sesaat.
Sikap ini menjadi pengingat penting bagi seluruh muktamirin dan warga nahdliyin, bahwa kompetisi kepemimpinan yang sehat semestinya tidak pernah menanggalkan nilai-nilai luhur ke-NU-an. Ketika sebagian pihak terjebak dalam logika menang-kalah, Gus Yusuf memilih jalan yang berbeda: tetap merawat silaturahmi dengan para kiai sepuh, sembari terus menebar kepedulian kepada mereka yang tertimpa musibah di ujung negeri.
Kepemimpinan yang dirindukan oleh Nahdlatul Ulama bukanlah kepemimpinan yang lahir dari ambisi semata, melainkan yang tumbuh dari akar kepedulian dan kerendahan hati. Dalam diri sosok yang tetap menyempatkan waktu di sela kesibukan Muktamar untuk menjenguk seorang kiai yang sakit, dan yang turun tangan langsung membantu korban bencana, tergambar jelas karakter seorang pemimpin yang memahami bahwa jabatan hanyalah wasilah, bukan tujuan.
Barangkali inilah pesan terbesar yang ingin disampaikan Gus Yusuf kepada seluruh nahdliyin: bahwa di atas segala hitung-hitungan politik organisasi, ada nilai kemanusiaan yang tidak boleh pudar. Menjenguk yang sakit, membantu yang tertimpa musibah, dan merawat silaturahmi dengan para masyayikh adalah bahasa cinta yang paling nyata—bahasa yang jauh lebih fasih daripada segala janji kampanye.
Pada akhirnya, sejarah NU selalu dicatat bukan oleh siapa yang paling gencar berkampanye, melainkan oleh siapa yang paling istiqamah menjaga nilai-nilai perjuangan ulama salaf: tawadhu’, peduli, dan senantiasa hadir untuk sesama. Dan dari dua peristiwa sederhana ini, publik NU mendapat gambaran jernih tentang sosok pemimpin yang tidak hanya layak dipertimbangkan karena gagasannya, tetapi juga karena keteladanan hatinya.
Wallahu a’lam bishawaf.
Jombang, 29 Agustus 2026






