Kepada Yang saya Muliakan Para Muasis NU :
1. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari,
2. KH. Abdul Wahab Chasbullah,
3. KH. Bisri Syansuri
Rahimahumullahu
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jombang, Wawasannewa.com – Mohon Izin Mbah Yai, izinkan kami cucu2 panjenengan, anak-anak kandung ideologis dari rahim jam’iyah yang panjenengan lahirkan dengan air mata, dan doa panjang. izinkan pula kami sowan melalui surat ini dengan bersimpuh dan diselimuti parasaan duka. lewat kata-kata yang kami rangkai dengan hati yang berat namun tetep berusaha menjaga secercah harapan .
Mbah Yai, hari ini di Tambakberas, Jombang, tanah yang njenengan pijak, tanah yang menyaksikan njenengan berjuang dan meletakkan pondasi jam’iyah ini akan digelar sebuah hajat besar yaitu Muktamar Nahdlatul Ulama yang ke-35. Sebuah amanat mulia yang panjenengan titipkan turun-temurun, dari generasi ke generasi, agar terus dijaga, dirawat untuk menjaga Akidah Ahlussunah wal Jama’ah dan Bangsa Indonesia. Di forum inilah nasib Jam’iyah ini dipertaruhkan.
Mbah, kami mohon Restu dan Izin dari panjenengan. Sungguh, tanpa ridho dari panjenengan, apalah artinya hajat besar ini. Tambakberas bukan sekadar titik di peta, ia adalah rahim sejarah, tempat yang menyimpan jejak langkah panjenengan dan para masayikh lainnya. Maka doakanlah Muktamar kali ini menjadi Muktamar yang bermartabat, berkah dan memberkahi. Sebagaimana yang panjenengan wariskan. Melahirkan keputusan yang benar2 dapat memberikan manfaat kepada umat. Sebagaimana tujuan utama panjenengan melahirkan Jam’iyah ini. Jangan biarkan kami melangkah tanpa doa restu panjenengan semua.
Mbah, mohon juga Doa Kelancaran dan Kemuliaan
dari penjenengan semua,
Doakanlah kami agar Muktamar ini berjalan dengan lancar. Jangan biarkan hajat besar ini ternoda oleh kegaduhan, oleh kepentingan sesaat, oleh nafsu segelintir orang yang lupa bahwa NU ini didirikan dengan niat yang suci, bukan untuk diperjualbelikan.
Mbah, Izinkan kami mengadu, sebagaimana anak kecil yang berlari pulang dengan tangis kepada orang tuanya. Ada luka yang kami tanggung saat ini, ada kegelisahan yang tak sanggup lagi kami pendam sendiri. Di Muktamar ini, kami menyaksikan sendiri betapa ada tangan-tangan dari luar yang mencoba mencederai marwah jam’iyah yang njenengan bangun dengan penuh keikhlasan. Kami mendengar dan menyaksikan, bagaimana ada upaya-upaya transaksional, intimidasi, culik menculik kepada yang dapat merusak kedaulatan Muktamirin. Sungguh sangat ngeri kami melihatnya Mbah.
Mbah, dada kami sesak. Air mata kami menetes membayangkan bagaimana jam’iyah suci ini, yang njenengan dirikan dengan istikharah, dengan restu para wali Allah, dengan hati yang tulus, kini hendak dipermainkan oleh mereka yang memandang NU sekedar sebagai lahan kepentingan dan kekuasaan.
Ke mana lagi kami mengadu Mbah. kalau bukan kepada panjenengan semua para pendiri, para muasis, yang ruhnya kami yakini masih menjaga jam’iyah ini dari alam yang berbeda.
Namun Mbah, di tengah situasi yang kacau, kami masih tetep menjaga asa dan harapan untuk Jam’iyah ini. Ada sosok yang kami yakini bisa menjadi jawaban dari semua problematika yang ada. Sosok yang kami anggap mampu membawa kemajuan NU di abad kedua. Sosok Kiai muda yang hampir selama hidupnya mendedikasikan diri untuk pesantren dan NU. Sosok yang teduh dan meneduhkan dengan keilmuan yang dalam, yang insya Allah bisa menjadi solusi dari keruwetan yang ada. Beliau adalah Gus Yusuf Chudlori, permata yang lahir dari Pesantren API Tegalrejo.
Mbah, kami mohon restu panjenengan untuk Gus Yusuf memimpin Jam’iyah ini. Kami mohon doa dari panjenengan agar beliau bisa menjadi harapan seluruh PWNU dan PCNU yang menginginkan sebuah perubahan dan perbaikan. Doakanlah beliau agar senantiasa diberi kekuatan untuk memimpin Organisasi yang mulia ini.
Mbah, kami juga mohon dengan sangat kepada panjenengan, doakanlah kami, doakanlah para kiai kami, doakanlah para pengurus PCNU dan PWNU di seluruh penjuru negeri, agar hati mereka dikuatkan Allah. Agar mereka tidak tergoda oleh bujuk rayu oknum-oknum yang tak bertanggung jawab itu. Agar mereka ingat, amanah yang mereka pikul bukanlah amanah manusia semata, melainkan amanah yang bersambung sampai kepada njenengan semua hingga kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kuatkanlah iman mereka. Jangan biarkan recehan dunia menukar marwah jam’iyah yang telah dijaga hampir seabad lamanya.
Mbah, kami selalu ingat pesan panjenengan, bahwa barang siapa yang ngurusi NU, maka akan dijadikan santri penjenengan, dan barang siapa yang menjadi santri panjenengan akan didoakan hidupnya Husnul khotimah sampai anak cucu keturunannya. Kami selalu ingat pesan itu mbah. Dan itu yang selalu jadi pedoman kita dalam berkhidmat di Jam’iyah ini.
Mbah, sekarang kita minta permohonan Penjagaan dari panjenengan Mbah, kami yakin, walaupun panjenengan semua sudah tidak ada, namun ruh dan keberkahan panjenengan akan hadir di saat Muktamar berlangsung. Di titik ini, bantulah kami menjaga NU, Turunkanlah barokah dan penjagaan panjenengan atas jam’iyah yang njenengan titipkan kepada kami.
Dan kepada siapa pun pengurus PWNU/PCNU, atau siapa saja yang tergoda mempermainkan marwah NU, yang tega memanfaatkan NU demi kepentingan pribadi, yang menjual amanah umat dengan harga recehan dunia. kami mohon mbah, tegur mereka dengan cara penjenengan. Biarlah itu menjadi peringatan, agar mereka sadar bahwa jam’iyah ini bukan warisan yang boleh diperjualbelikan, melainkan amanah suci yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.
Mbah, maafkan kami jika surat ini penuh keluh dan air mata. Tapi kepada siapa lagi kami mengadu, kalau bukan kepada panjenengan para muasis yang telah menanamkan jam’iyah ini dengan cinta yang begitu dalam. Tidak ada yang bisa kami mintai pertolongan kecuali kepada Allah SWT melalui wasilah panjenengan.
Kami hanya ingin, Muktamar ke-35 di Tambakberas ini berlangsung penuh dengan kebahagiaan. Bisa menjadi bukti bahwa kami, anak cucu njenengan, masih sanggup menjaga apa yang telah njenengan titipkan.
Mbah, cukup sekian dulu surat dari kami, sekali lagi kami mohon maaf. Al-Fatihah dari kami kirimkan untuk panjenengan semua. Salam rindu dari kami yang ingin diakui santri penjenengan.
🙏🙏🙏
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jombang, 27 Agustus 2026
Penulis : Ferial Farkhan IA.






