Dari Peci ke Pesantren Entrepreneur : Cara Gus Yusuf Mengubah Pesantren Menjadi Kekuatan Ekonomi NU

- Pewarta

Rabu, 3 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis (kanan) bersama Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, KH Yusuf Chudlori. Foto: Dok. Pribadi (Wawasannews)

Penulis (kanan) bersama Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, KH Yusuf Chudlori. Foto: Dok. Pribadi (Wawasannews)

Oleh: Saeful Kamaludin | Wakil Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)

Saya punya kebiasaan kecil yang mungkin terdengar sepele. Setiap kali membeli peci, entah untuk saya sendiri atau sebagai oleh-oleh, saya selalu bertanya kepada penjualnya: “Ini buatan mana?” Dan hampir selalu jawabannya bukan dari pesantren. Bukan dari koperasi NU. Bukan dari UMKM nahdliyin.

Padahal peci adalah benda paling nahdliyin di muka bumi. Ia ada di kepala santri setiap hari. Ia hadir di pengajian, tahlilan, haul, rapat organisasi, hingga sidang kabinet. Tapi uang dari peci itu mengalir ke mana? Nyaris tidak ke kantong umat NU sendiri.

Ini bukan soal peci semata. Ini cermin dari satu masalah besar yang sudah terlalu lama kita biarkan: NU dan pesantren belum serius membangun kemandirian ekonominya sendiri.

Nahdlatut Tujjar: Pelajaran yang Terlupakan

Banyak yang tidak tahu atau mungkin lupa, bahwa sebelum Nahdlatul Ulama berdiri pada 1926, para kiai pendirinya sudah terlebih dahulu mendirikan Nahdlatut Tujjar pada 1918. Sebuah organisasi dagang. Kumpulan para saudagar muslim yang ingin membangun kekuatan ekonomi umat secara mandiri.

Ini bukan kebetulan. Para kiai besar seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah paham betul bahwa umat yang lemah secara ekonomi akan mudah ditekan. Umat yang tidak punya produksi akan menjadi pasar saja. Umat yang tidak punya jaringan usaha akan sulit menjaga martabatnya.

Artinya, sejak awal para pendiri NU tidak pernah memisahkan agama dari kemandirian ekonomi. Pesantren dan pasar bukan dua dunia yang terpisah. Mereka adalah satu ekosistem yang harus saling menguatkan.

Tapi di manakah semangat Nahdlatut Tujjar itu hari ini?

Gus Yusuf: Kiai yang Membaca Kebutuhan, Bukan Sekadar Ceramah

Di sinilah saya ingin berbicara tentang sosok yang menurut saya paling konsisten menghidupkan kembali semangat itu: KH Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

“Kalau bicara ekonomi umat, harus ada koperasi, usaha, dan pemberdayaan. Bukan hanya niat baik.”

Dan ia tidak berhenti di kalimat itu. Ia menjalankannya.

Di bawah kepemimpinannya, Pesantren Entrepreneur Tegalrejo bukan sekadar nama keren di brosur. Ia adalah program nyata di mana santri dan alumni dididik bukan hanya mengaji, tetapi juga berwirausaha. Unit usaha pesantren diperlakukan sebagai laboratorium lapangan. Mentor dipilih dari mereka yang benar-benar kompeten dan memiliki visi pemberdayaan, bukan sekadar kenalan kiai.

Pada 2024, Gus Yusuf menerima penghargaan Akselerator Pesantren Entrepreneur dari detikJateng. Dalam kesempatan itu ia berpesan bahwa santri harus lebih tekun, giat, inovatif, memiliki keterampilan, serta jiwa bertahan dalam persaingan global.

Gus Yusuf pernah mengangkat contoh yang sangat membumi dalam bukunya terkait peci.

Bayangkan berapa juta peci yang dipakai nahdliyin setiap harinya. Di kepala santri, di kepala kiai kampung, di kepala pengurus ranting yang rapat di kantor kecamatan, hingga di kepala petani NU yang salat di musala pinggir sawah.

Kalau NU jeli, peci saja bisa menjadi ekosistem ekonomi yang luar biasa.

  • UMKM warga dilatih membuat peci dengan standar mutu yang konsisten.
  • Santri vokasi belajar desain, pola, jahit, kemasan, dan pemasaran digital.
  • Koperasi pesantren menjadi titik distribusi yang menjangkau ranting hingga cabang.
  • Alumni membantu modal, mesin, jaringan toko, dan penjualan daring.
  • PCNU dan MWCNU menjadi kanal distribusi ke masjid, madrasah, dan jamaah.

Dari satu peci, ada puluhan mata rantai pekerjaan. Dan seluruh rantai itu bisa dipegang oleh umat NU sendiri.

Ini bukan mimpi. Ini logika ekonomi yang sangat sederhana, yang hanya butuh satu hal: kemauan untuk memulai dan keberanian untuk tidak bergantung.

Kemandirian ekonomi tidak selalu harus dimulai dari usaha-usaha yang muluk-muluk. Justru langkah yang paling realistis adalah mengoptimalkan potensi yang sudah dekat dengan kehidupan warga dan pesantren, lalu mengelolanya secara serius, profesional, dan berkelanjutan.

Dari situlah ekosistem ekonomi umat dapat tumbuh secara organik, kuat, dan memberi manfaat yang lebih luas.

Mandiri Bukan Berarti Menutup Diri

Satu hal yang perlu saya tegaskan: kemandirian ekonomi NU dan pesantren bukan berarti kita harus anti kerja sama atau menutup diri dari pihak luar.

Gus Yusuf sendiri membuktikan hal ini. RSU Syubbanul Wathon yang ia dirikan lahir dari kemitraan antara Yayasan Syubbanul Wathon, PBNU, dan Lippo Group.

“Pesantren tidak perlu merasa harus menguasai semua hal sendirian. Justru di situlah kedewasaan lembaga diuji, mampu menggandeng pihak yang ahli tanpa kehilangan arah nilai.”

Yang harus dihindari bukan kerja sama, melainkan ketergantungan. Ada perbedaan besar antara bermitra secara setara dan menjadi bergantung kepada kekuatan ekonomi luar yang tidak memiliki kepentingan yang sama dengan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor
Psikologi Self Control: Kunci Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern
Gus Yusuf Melihat Kami (Perempuan): Bukan Objek, tapi Kekuatan
Gus Yusuf, Kiai Yang Mendengar Bukan Hanya Bicara.
Era Visual Semakin Mendominasi, Apakah Literasi Akan Bertahan?
KH. Yusuf Chudlori: Sosok Harapan untuk Kepemimpinan PBNU di Abad Kedua
Istiqomah di Jalan Sunyi: Gus Yusuf Chudlori dan Masa Depan NU
Banyak Orang Menyerah karena Bosan, Padahal Konsistensi Adalah Jawabannya

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:53

Dari Peci ke Pesantren Entrepreneur : Cara Gus Yusuf Mengubah Pesantren Menjadi Kekuatan Ekonomi NU

Sabtu, 30 Mei 2026 - 14:36

Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:05

Psikologi Self Control: Kunci Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:14

Gus Yusuf Melihat Kami (Perempuan): Bukan Objek, tapi Kekuatan

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:36

Gus Yusuf, Kiai Yang Mendengar Bukan Hanya Bicara.

Berita Terbaru