OPINI, Wawasannews.com – Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang merasa sedang berjalan, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana arah yang hendak dituju. Langkah terus diambil, pekerjaan dijalani, pertemuan dengan banyak orang terjadi, berbagai kesempatan datang dan pergi, tetapi tujuan besar dalam hidup terkadang masih menjadi sesuatu yang samar. Kondisi semacam ini bukanlah sesuatu yang harus selalu ditakuti. Sebab, tidak semua perjalanan harus dimulai dengan peta yang lengkap.
Barangkali, kehidupan memang tidak selalu memberikan jawaban di awal perjalanan. Ada hal-hal yang baru dapat dipahami setelah seseorang melewati cukup banyak pengalaman. Ada jalan yang baru terlihat setelah seseorang berani melangkah. Ada pula keinginan yang begitu lama didambakan, tetapi belum kunjung hadir karena memang waktunya belum tiba.
Dalam perjalanan kehidupan, banyak orang pernah berada pada posisi tersebut. Mereka memiliki banyak keinginan, tetapi belum mengetahui secara pasti bagaimana semuanya akan diwujudkan. Mereka memiliki mimpi, tetapi belum tahu kapan mimpi itu akan menjadi kenyataan. Mereka memiliki harapan, tetapi harus berhadapan dengan keadaan yang terkadang jauh berbeda dari apa yang telah direncanakan.
Pada titik itulah kesabaran dan keteguhan menjadi penting.
Sebab, sebuah keinginan yang baik tidak selalu harus segera terwujud. Ada kalanya sesuatu memang harus menunggu waktu. Bukan karena Tuhan tidak mendengar doa dan harapan manusia, melainkan karena manusia sering kali hanya mengetahui apa yang diinginkannya, sementara Allah mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkannya.
Perjalanan dengan kereta api barangkali menjadi salah satu gambaran sederhana tentang kehidupan. Seseorang dapat duduk di dalam sebuah gerbong, melihat pemandangan berganti dari satu tempat ke tempat lain. Ada stasiun yang dilewati, ada tempat yang menjadi persinggahan, ada orang yang turun, dan ada pula orang baru yang kemudian naik. Tidak semuanya diketahui sejak awal. Namun kereta tetap bergerak menuju arah yang telah ditentukan.
Begitu pula kehidupan.
Tidak semua manusia memiliki tujuan yang jelas sejak awal. Tidak semua orang mengetahui dengan pasti akan menjadi apa dirinya beberapa tahun ke depan. Bahkan, mereka yang terlihat begitu yakin dengan masa depannya pun tetap memiliki ketidakpastian yang tidak diketahui oleh orang lain.
Namun menariknya, di tengah ketidakpastian itu, sering kali selalu ada jalan yang terbuka.
Satu kesempatan membawa kepada kesempatan berikutnya. Satu pertemuan mempertemukan seseorang dengan orang lain. Satu kegagalan justru membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Bahkan sebuah keterlambatan terkadang menjadi cara Tuhan menyelamatkan seseorang dari pilihan yang sebenarnya belum tepat.
Maka, mungkin tugas manusia bukanlah mengetahui seluruh perjalanan sejak awal. Tugas manusia adalah terus berjalan sebaik mungkin dengan apa yang dimiliki hari ini.
Berjalan dengan rasa syukur. Berjalan dengan tanggung jawab. Berjalan sambil terus memperbaiki diri. Dan yang paling penting, berjalan dengan keyakinan bahwa ada Allah yang mengetahui seluruh perjalanan tersebut secara utuh.
Manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari kehidupannya. Allah mengetahui awal, proses, bahkan akhir dari segala sesuatu.
Karena itu, tidak ada alasan untuk terlalu berlebihan dalam mencemaskan masa depan. Bukan berarti manusia tidak perlu memiliki perencanaan. Justru perencanaan tetap penting. Tetapi setelah ikhtiar dilakukan, ada bagian yang harus diserahkan kepada Allah.
Sebab terkadang manusia terlalu sibuk memikirkan kapan dirinya akan sampai, sampai lupa menikmati perjalanan yang sedang dijalani.
Ada pula persoalan lain yang sering muncul dalam perjalanan menuju masa depan. Ketika seseorang mulai membayangkan kejayaan, kesuksesan, jabatan, kehidupan yang lebih baik, atau pencapaian tertentu, muncul perasaan bahwa kelak akan ada banyak orang yang menunggu keberhasilannya.
Namun pada akhirnya, keberhasilan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai pencapaian yang dapat dipamerkan kepada orang lain.
Kejayaan yang sesungguhnya mungkin justru terletak pada kemampuan seseorang untuk tetap menjadi manusia yang baik ketika berada di mana pun ia ditempatkan. Tetap bermanfaat ketika tidak memiliki banyak hal. Tetap rendah hati ketika memiliki kesempatan. Tetap bertanggung jawab ketika diberikan amanah. Dan tetap bersyukur ketika kehidupan belum berjalan sesuai harapan.
Sebab, hidup bukan semata-mata tentang seberapa tinggi seseorang dapat mencapai sesuatu. Hidup juga tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat ditinggalkan dalam setiap tempat yang pernah disinggahi.
Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah mendapatkan panggung besar, tetapi kehadirannya begitu berarti bagi banyak orang. Ada yang tidak dikenal secara luas, tetapi setiap hari berusaha membantu orang di sekitarnya. Ada yang tidak memiliki banyak kekayaan, tetapi mampu memberikan ketenangan dan harapan kepada orang lain.
Di situlah makna kebermanfaatan menemukan tempatnya.
Manusia tidak harus menunggu sukses untuk menjadi baik. Tidak harus menunggu kaya untuk berbagi. Tidak harus menunggu memiliki jabatan untuk memberikan kontribusi. Dan tidak harus menunggu mencapai tujuan besar untuk merasa bahwa hidupnya berarti.
Kebaikan dapat dimulai dari tempat seseorang berada hari ini.
Terlebih lagi, perjalanan kehidupan tidak pernah benar-benar dilalui sendirian. Selalu ada orang-orang yang hadir dengan semangat, gagasan, pengalaman, dan energi yang berbeda. Ada keluarga, sahabat, rekan kerja, guru, mentor, komunitas, dan banyak orang lain yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan warna dalam perjalanan seseorang.
Berada di tengah orang-orang hebat seharusnya tidak membuat seseorang merasa kecil. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah ruang untuk saling melengkapi.
Setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda. Ada yang kuat dalam berpikir, ada yang kuat dalam bekerja, ada yang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, ada yang memiliki kemampuan membangun hubungan, dan ada pula yang mampu memberikan ketenangan ketika keadaan sedang sulit.
Perbedaan tersebut bukanlah kekurangan. Justru itulah kelengkapan.
Allah mempertemukan manusia dengan orang-orang tertentu bukan tanpa alasan. Bisa jadi, seseorang hadir untuk mengajarkan keberanian. Orang lain hadir untuk mengajarkan kesabaran. Ada yang mengajarkan keteguhan, sementara yang lain mengajarkan keikhlasan.
Pada akhirnya, semua pertemuan itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk manusia menjadi lebih dewasa.
Karena itu, ketika masa depan masih terlihat samar, tidak perlu merasa bahwa hidup telah kehilangan arah. Selama masih ada kemauan untuk belajar, bekerja, berbuat baik, dan terus melangkah, sesungguhnya perjalanan itu masih berlangsung.
Pertanyaan tentang masa depan boleh tetap ada. Keraguan juga merupakan bagian dari manusia. Namun pertanyaan dan keraguan tersebut seharusnya berjalan berdampingan dengan keyakinan.
Keyakinan bahwa setiap usaha memiliki nilai. Keyakinan bahwa setiap doa didengar. Keyakinan bahwa setiap perjalanan memiliki maksud. Dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan waktu.
Mungkin hari ini belum waktunya.
Mungkin sesuatu yang didambakan masih harus menunggu. Mungkin ada proses yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Mungkin ada karakter yang harus dibentuk, pengalaman yang harus dilewati, atau orang-orang yang harus ditemui sebelum sampai pada titik yang selama ini diharapkan.
Maka, yang dapat dilakukan adalah terus berjalan.
Tidak perlu tergesa-gesa mengejar masa depan sampai melupakan hari ini. Tidak perlu terlalu takut terhadap sesuatu yang belum terjadi. Tidak perlu membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain.
Setiap manusia memiliki kereta kehidupannya masing-masing. Ada yang sampai lebih cepat, ada yang harus berhenti lebih lama. Ada yang jalurnya lurus, ada pula yang harus melewati banyak tikungan.
Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat sampai, tetapi bagaimana seseorang menjalani setiap perjalanan dengan sebaik-baiknya.
Pada akhirnya, manusia hanyalah seorang hamba yang memiliki banyak pertanyaan, tetapi juga memiliki keyakinan. Manusia boleh memiliki mimpi besar, tetapi tetap harus menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan.
Di tengah segala ketidakpastian itulah, berserah diri kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha. Berserah diri adalah bentuk kesadaran bahwa setelah ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh, ada kehendak Tuhan yang tidak dapat dikendalikan manusia.
Allah Maha Baik. Dan terkadang kebaikan-Nya hadir dalam bentuk yang tidak langsung dipahami.
Sebuah penolakan bisa jadi sedang mengarahkan pada tempat yang lebih tepat. Sebuah keterlambatan bisa jadi sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih matang. Sebuah kehilangan bisa jadi sedang membuka ruang untuk sesuatu yang baru.
Maka, barangkali tidak semua hal dalam hidup harus segera mendapatkan jawaban.
Ada beberapa hal yang cukup dijalani dengan sabar.
Ada beberapa impian yang cukup diperjuangkan dengan konsisten.
Ada beberapa ketidakpastian yang cukup diserahkan kepada Allah.
Dan ada satu hal yang harus selalu dijaga di mana pun perjalanan membawa kita: tetap menjadi manusia yang baik dan bermanfaat.
Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang sampai di mana seseorang pergi, tetapi tentang kebaikan apa yang ia tinggalkan di sepanjang perjalanan.
Jika hari ini belum sampai pada tujuan, tidak apa-apa. Selama masih mampu melangkah, masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik, dan masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri, perjalanan itu belum selesai.
Teruslah berjalan dengan syukur.
Teruslah bekerja dengan tanggung jawab.
Teruslah berbuat baik tanpa terlalu sibuk memikirkan kapan semuanya akan terbalas.
Dan ketika arah kehidupan terasa samar, percayalah bahwa Allah tidak pernah kehilangan arah.
Manusia mungkin tidak mengetahui ke mana perjalanan ini akan berakhir. Tetapi Allah mengetahuinya secara penuh.
Tugas manusia adalah berikhtiar sebaik mungkin, menjaga hati tetap rendah, membuka diri terhadap setiap pelajaran, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Sang Pemilik Kehidupan.






