Pengamat: NU Jangan Sampai Berada Dalam Kendali Kekuasaan

- Pewarta

Senin, 24 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat Politik Ujang Komarudin saat berbicara dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk 'Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU' di Resto Trisnoku, Jakarta, Senin (24/8/2026). (Istimewa/Wawasannews)

Pengamat Politik Ujang Komarudin saat berbicara dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk 'Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU' di Resto Trisnoku, Jakarta, Senin (24/8/2026). (Istimewa/Wawasannews)

JAKARTA, Wawasannews.com – Pengamat politik Ujang Komarudin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar harus senantiasa menjaga independensinya.

Dia mengingatkan agar NU tidak berada dalam kendali atau terkooptasi oleh kepentingan kekuasaan politik.

“Kalau NU tidak bisa dikendalikan oleh kekuasaan atau oleh negara, maka negara bisa guncang. NU sebagai salah satu kekuatan negara. Karena itu, jangan sampai NU berada dalam kendali kekuasaan,” ujar Ujang saat Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk ‘Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU’ di Resto Trisnoku, Jakarta, Senin (24/8/2026).

Ujang menilai dengan jumlah warga dan jaringan yang besar, NU memiliki peran krusial dalam pemberdayaan umat serta menjaga fungsi-fungsi keadilan sosial.

Menurutnya, keterlibatan yang terlalu jauh dalam politik praktis justru berpotensi mengganggu fungsi utama keormasan tersebut.

Dia pun mendorong lahirnya gagasan “new NU”—sebuah format gerakan di mana NU tidak terkooptasi oleh kekuasaan, melainkan fokus memperkuat pemberdayaan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan keagamaan.

Menyongsong Muktamar NU yang diselenggarakan pada akhir Agustus 2026 ini, Ujang berharap warga NU dapat memilih figur Rais Aam yang memiliki kapasitas keulamaan yang kuat dan mampu menjaga moral serta marwah organisasi.

“Kalau itu terkooptasi oleh kekuasaan, maka mohon maaf, NU akan sama dengan organisasi masyarakat lainnya yang berada dalam kendali kekuasaan,” tegasnya.

Ujang menambahkan, menjaga jarak dari politik kekuasaan bukan berarti NU bersikap anti-pemerintah.

Sebaliknya, independensi tersebut diperlukan agar NU tetap dapat menjalankan fungsi moralnya secara objektif demi kepentingan publik dan umat secara luas. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

BRI Luncurkan BRImo Taiwan, Permudah Transaksi dan Kirim Uang bagi PMI Indonesia
Gempa NTT Tewaskan 91 Orang, Jumlah Pengungsi Capai 161.084 Jiwa
Gempa M7,7 Guncang Flores, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Tsunami untuk Sejumlah Wilayah
Korwil Ikadin Jateng Apresiasi Regenerasi Pengurus, Dorong Soliditas Organisasi dan Penegakan Hukum
Hutan Mangrove Jadi Penyelamat Nelayan Maros saat Angin Barat Mengamuk
PT Pupuk Indonesia dan Kementan Luncurkan Program Nature-Based Solution Agroforestry di Kendal
PDKN Gandeng Kementerian UMKM RI, Siapkan Program Kewirausahaan bagi Mahasiswa dan Alumni KIP Kuliah
Prabowo Saksikan Atraksi Polri dan Defile 6.000 Personel di HUT Ke-80 Bhayangkara

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 22:12

Pengamat: NU Jangan Sampai Berada Dalam Kendali Kekuasaan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:38

BRI Luncurkan BRImo Taiwan, Permudah Transaksi dan Kirim Uang bagi PMI Indonesia

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:15

Gempa NTT Tewaskan 91 Orang, Jumlah Pengungsi Capai 161.084 Jiwa

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:15

Gempa M7,7 Guncang Flores, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Tsunami untuk Sejumlah Wilayah

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:37

Korwil Ikadin Jateng Apresiasi Regenerasi Pengurus, Dorong Soliditas Organisasi dan Penegakan Hukum

Berita Terbaru

Gus Yusuf Chudlori berbincang dengan KH. Mustofa Bisri Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Leteh, Rembang dalam suasana penuh keakraban. (Istimewa/Wawasannews)

Opini

Muktamar Untuk Ulama, Bukan Untuk Istana

Senin, 24 Agu 2026 - 21:58

Secret Link