Oleh: Tazkiyatul Muthmainah
Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah
Saya sudah lama terbiasa membaca buku-buku tentang pesantren dan NU yang ditulis oleh para kiai atau cendekiawan. Biasanya, perempuan hadir di dalamnya sebagai subjek yang perlu diurus, dibimbing, dilindungi, diberi pengajian, didoakan. Baik dan mulia, tentu. Tapi jarang sekali perempuan ditempatkan sebagai kekuatan yang harus diaktifkan, bukan sekadar disertakan.
Maka ketika saya membaca buku Merawat Tradisi, Menumbuhkan Inovasi karya KH Yusuf Chudlori, ada sesuatu yang berbeda terasa. Gus Yusuf tidak menulis tentang perempuan sebagai catatan kaki. Ia menempatkan Muslimat, Fatayat, ibu-ibu pengajian, dan perempuan desa sebagai bagian inti dari gerakan NU: penggerak kesehatan keluarga, penjaga gizi generasi, agen perubahan sosial yang paling dekat dengan akar rumput. Bagi kami di Fatayat, itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah pengakuan.
Ibu Adalah Garda Depan, Bukan yang Paling Mudah Disalahkan
Salah satu bagian buku yang paling menohok bagi saya adalah ketika Gus Yusuf membahas stunting. Di tengah banyak diskusi yang langsung menuding ibu sebagai penyebab anak kurang gizi, ia justru berhenti dan berkata dengan tegas:
“Ada kecenderungan yang harus kita kritik: ketika anak stunting, yang pertama disalahkan sering kali ibunya. Ibu dianggap tidak pintar memberi makan, tidak rajin ke posyandu, atau tidak peduli pada anak. Ini tidak adil.”
Saya membaca kalimat itu dua kali. Karena dalam banyak forum kesehatan, bahkan forum keagamaan, kalimat seperti ini jarang keluar dari mulut seorang kiai laki-laki.
Gus Yusuf melanjutkan dengan analisis yang jernih: ibu tidak hidup sendirian. Ia berada dalam struktur keluarga, ekonomi, budaya, dan layanan publik. Kalau suami merokok sementara anak kekurangan telur, itu masalah keluarga. Kalau air bersih sulit dijangkau, itu masalah lingkungan. Kalau posyandu lemah, itu masalah sistem. Maka intervensi stunting harus menyasar keluarga secara utuh. Bapak harus dilibatkan, kakek-nenek perlu diberi pemahaman, dan tokoh agama harus ikut bersuara.
Perspektif ini bukan hanya adil secara sosial. Ia adalah perspektif ilmiah yang selaras dengan pendekatan gender-responsive nutrition yang direkomendasikan WHO, bahwa persoalan gizi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyasar ibu, melainkan harus mengubah ekosistem keluarga dan masyarakat secara menyeluruh.
Fatayat dan Muslimat: Bukan Pelengkap, tapi Penggerak
Dalam buku ini, Gus Yusuf berulang kali menyebut Muslimat dan Fatayat bukan sebagai organisasi yang “ikut serta” dalam gerakan NU, melainkan sebagai motor penggerak yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun.
Soal stunting, ia menulis bahwa “Muslimat dan Fatayat bisa menjadi penggerak edukasi ibu dan anak.” Soal layanan kesehatan, ia menegaskan bahwa “setiap cabang Muslimat dan Fatayat bisa memperkuat edukasi ibu-anak.”
Dan dalam konteks pelayanan sosial yang lebih luas, ia menempatkan Fatayat sebagai bagian dari jaringan NU yang tidak boleh bergerak sendiri-sendiri, melainkan harus tersambung dalam satu ekosistem besar dari ranting sampai PBNU, dari posyandu sampai rumah sakit.
Ini bukan peran kecil. Ini adalah pengakuan bahwa organisasi perempuan adalah tulang punggung pelayanan umat, bukan sekadar sayap seremonial.
Perempuan di Pesantren: Tangan yang Berkarya
Satu gambar dalam buku ini terus saya kenang. Gus Yusuf menceritakan momen ketika ia menyaksikan siswi SMK Syubbanul Wathon API Tegalrejo memperlihatkan rancangan baju hasil karya mereka sendiri. Ada pola, jahitan, pilihan warna, dan rasa percaya diri yang tumbuh perlahan dari proses belajar.
“Dari tangan-tangan santri putri itu lahir sesuatu yang nyata, busana yang bisa dipakai, dinilai, diperbaiki, bahkan kelak bisa menjadi jalan usaha.”
Dan kemudian ia merenung:
“Saya melihat karya-karya itu agak lama. Dalam hati saya berkata, inilah salah satu wajah masa depan pesantren.”
Di sini, Gus Yusuf tidak menempatkan santri putri sebagai kelompok yang sekadar perlu dilindungi nilai-nilainya. Ia menempatkan mereka sebagai pelaku ekonomi masa depan yang tangan-tangannya terampil, yang pikirannya kreatif, yang sekolah kejuruannya bukan pelarian dari pesantren, tapi perluasan dari maknanya.
Ini selaras dengan apa yang dikatakan Amartya Sen, ekonom peraih Nobel, bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan kerja produktif adalah investasi terpenting yang bisa dilakukan sebuah masyarakat, bukan hanya untuk perempuan itu sendiri, tapi untuk seluruh keluarga dan generasi berikutnya.
Gerakan Kesehatan Dimulai dari Majelis Taklim
Satu gagasan Gus Yusuf yang paling relevan bagi Fatayat adalah ide bahwa gerakan kesehatan tidak harus dimulai dari klinik atau rumah sakit besar. Ia bisa dimulai dari majelis taklim tempat ibu-ibu berkumpul, saling percaya, dan saling mendengar.
Ia menulis:
“Majelis taklim bisa menjadi ruang edukasi penyakit tidak menular, gizi, kesehatan reproduksi keluarga, dan pencegahan stunting.”
Dan lebih jauh, ia membayangkan pesantren sebagai pusat dapur gizi komunitas, menggunakan dapur besar pesantren, jaringan donatur, santri, dan alumni untuk membantu edukasi menu bergizi dan distribusi makanan bergizi bagi keluarga rentan.
Ini bukan sekadar program. Ini adalah strategi kebudayaan, menggunakan ruang-ruang sosial yang sudah ada dan dipercaya masyarakat, bukan membangun struktur baru yang asing.
Bagi saya dan rekan-rekan di Fatayat Jawa Tengah, gagasan ini menjadi cermin sekaligus undangan. Selama ini Fatayat sudah melakukan banyak hal. Tapi buku ini mengingatkan kami bahwa potensi kami jauh lebih besar dari yang sudah kami kerjakan, jika ada kepemimpinan NU yang benar-benar memandang kami sebagai kekuatan, bukan sekadar kepanitiaan.
Pemimpin yang Mau Mendengar Perempuan
Satu hal yang tidak bisa diabaikan ketika membaca buku Gus Yusuf: ia berulang kali menulis tentang pentingnya mendengar. Dan dalam banyak kesempatan, yang ia sebut pertama kali dalam daftar suara yang harus didengar adalah perempuan.
Ia menulis:
“Kepemimpinan NU harus punya telinga yang panjang, mendengar pesantren, ranting, anak muda, perempuan, profesional, warga desa, petani, guru madrasah, pengurus banom, dan kader yang selama ini bekerja tanpa banyak disebut.”
“Yang selama ini bekerja tanpa banyak disebut” — kalimat itu terasa sangat personal bagi saya. Karena itulah realitas kerja-kerja perempuan NU selama bertahun-tahun: hadir di barisan terdepan pelayanan umat, tapi namanya jarang disebut dalam forum-forum pengambilan keputusan.
Kader muda dan perempuan, kata Gus Yusuf, “harus diberi ruang bicara yang nyata. Bukan hanya diminta hadir, tetapi dilibatkan dalam perumusan agenda.”
Perbedaan antara diminta hadir dan dilibatkan dalam perumusan agenda adalah perbedaan antara dekorasi dan substansi. Dan Gus Yusuf, dengan sangat sadar, menegaskan bahwa NU membutuhkan yang kedua.
Kiai Bersuara untuk Ulama Perempuan
Ada gerakan yang dalam sepuluh tahun terakhir terus tumbuh secara masif yaitu Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Sejak pertama kali digelar pada 2017 di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, KUPI hadir bukan sebagai tandingan ulama laki-laki, melainkan sebagai penegasan bahwa otoritas keagamaan perempuan adalah sah, nyata, dan sudah lama bekerja — hanya saja belum cukup diakui.
Seluruh kerja KUPI digerakkan oleh tiga paradigma utama: Ma’ruf yang menghadirkan kebaikan universal bagi semua, Mubadalah yang menegaskan relasi kesalingan antara laki-laki dan perempuan, serta keadilan hakiki yang memastikan keadilan substantif bagi setiap manusia. Tiga nilai ini bukan impor dari Barat. Ia sangat Qur’ani, sangat pesantren, dan sangat NU.
Saya ingin menyebut dua contoh nama yang bagi saya menjadi bukti nyata bahwa ulama perempuan bukan hanya pelengkap dalam dunia pesantren.
Pertama, Nyai Hj Masriyah Amva, Pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy, Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Beliau adalah ulama perempuan, penulis, penyair, spiritualis, sekaligus pemimpin pesantren yang sosoknya sangat istimewa.
Bu Nyai Masriyah juga salah satu ulama perempuan yang masuk dalam jajaran Pengurus PBNU. Ketika suaminya, KH Muhammad, wafat pada 2007, seluruh tanggung jawab pesantren dengan 1.300 santri beralih sepenuhnya ke pundaknya.
Yang membuat kisah beliau semakin luar biasa adalah cobaan yang datang dari dalam: pengurus dan alumni sempat meragukan kemampuan perempuan memimpin pesantren. Namun Nyai Masriyah tidak mundur. Ia membuktikan dengan kerja nyata bahwa kepemimpinan perempuan bukan hanya sah secara hukum Islam, tetapi juga mampu membawa pesantren tumbuh lebih maju.
Kedua, Nyai Hj Husnul Khotimah Warson, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q, Krapyak, Yogyakarta. Ibu Nyai Warsun adalah ulama Al-Qur’an yang mencetuskan kemandirian pesantren.
Di bawah pengasuhan beliau, Komplek Q menjadi pesantren yang kaya akan nilai-nilai entrepreneurship. Beliau adalah ikon ulama perempuan yang fokus mendidik santri dan mengajar Al-Quran, namun tetap berhasil menanamkan jiwa kemandirian pesantren.
Yang membuat saya kagum, beliau memimpin bukan karena bayangan nama suami — beliau memimpin karena ilmunya, karena amanahnya.
Dua sosok ini bukan pengecualian yang aneh dalam dunia pesantren. Masih banyak sosok perempuan yang qualified sebagai seorang pemimpin pesantren. Mereka adalah bukti bahwa kepemimpinan perempuan di pesantren adalah kapasitas yang nyata, yang selama ini hanya perlu ruang dan pengakuan yang lebih besar.
Pertanyaan yang sering saya ajukan kepada diri sendiri sebagai aktivis Fatayat adalah: mengapa gerakan seperti ini masih kurang mendapat dukungan eksplisit dari para kiai senior NU?
Bukan karena mereka menolak, tapi karena dukungan itu belum cukup keras terdengar. Dan tanpa suara para kiai, gerakan ulama perempuan akan terus berjuang melawan tembok budaya yang tidak tertulis namun sangat terasa.
Di sinilah pemikiran Gus Yusuf sangat relevan. Dalam bukunya, ia menulis bahwa pesantren yang kuat bukan pesantren yang semua keputusannya bergantung pada satu figur, melainkan pesantren yang “mampu melahirkan orang-orang kuat di sekelilingnya.”
Pernyataan itu, secara implisit, adalah ruang bagi ulama perempuan untuk tumbuh dan diakui, bukan sebagai pelengkap para kiai, tapi sebagai pemimpin atas kekuatan dan kapasitasnya sendiri.
Penutup: NU yang Kami Impikan
Sebagai Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, saya tidak berani berbicara tentang siapa yang harus memimpin PBNU. Itu adalah hak para muktamirin. Tapi saya bisa berbicara tentang seperti apa pemimpin yang kami impikan.
Kami ingin pemimpin yang tidak melihat perempuan sebagai masalah yang perlu dikelola. Kami ingin pemimpin yang melihat perempuan sebagai solusi yang perlu diaktifkan.
Pemimpin yang membaca ibu bukan sebagai objek penyuluhan, tapi sebagai agen perubahan. Pemimpin yang tahu bahwa majelis taklim bisa menjadi posyandu, bahwa pengajian bisa menjadi ruang edukasi gizi, bahwa tangan santri putri yang menjahit baju adalah wajah masa depan pesantren.
Kami juga ingin pemimpin yang berani bersuara mendukung gerakan ulama perempuan, yang tidak hanya diam mengagumi Nyai Khusnul Khotimah dan Umi Waheeda, tapi secara aktif membuka ruang agar semakin banyak perempuan pesantren yang bisa memimpin atas kekuatan mereka sendiri, tanpa harus selalu bernaung di balik nama suami atau ayah mereka.
Pemikiran Gus Yusuf dalam buku Merawat Tradisi, Menumbuhkan Inovasi memberikan kami gambaran bahwa pemimpin seperti itu ada. Dan kami bersyukur ada pemimpin pesantren yang melihat kami, bukan hanya melihat ke arah kami, tapi benar-benar melihat kami.
“`







Sangat menarik apa yg dipaparkan oleh ketua pw Fatayat..dalam buku yg ditulis KH Yusuf khudori.semoga kedepan perempuan bisa masuk dalam jajaran PBNU dan memegang peran penting untuk membangun masyarakat..semoga buku dan tulisan ini bermanfaat.
Buku di jual di mn yah??