Oleh: Ferial Farkhan IA, Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
Ada satu kegelisahan yang diam-diam tumbuh di kalangan warga nahdliyin: mengapa organisasi sebesar NU terasa makin jauh dari kehidupan nyata umatnya?
Pengajian tetap ramai. Spanduk bertebaran. Acara-acara besar digelar. Tapi ketika seorang warga miskin sakit dan bingung mengurus BPJS, tidak ada yang datang. Ketika santri dipesantren kecil kekurangan fasilitas, tidak ada yang mendengar.Ketika kader muda ingin berkontribusi, pintunya terasa sempit.Ini bukan soal NU tidak aktif. Bukan soal NU tidak punya tokoh pandai bicara. Justru sebaliknya, NU punya terlalu banyak suara, tapi terlalu sedikit telinga.
Diam Itu Juga Ilmu
Dalam tradisi pesantren, seorang santri diajarkan untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ada adab yang disebut inshaat, menyimak dengan sepenuh hati, tanpa buru-buru memotong, tanpa sibuk menyiapkan sanggahan. Ini bukan kelemahan. Ini adalah kematangan.
KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, tumbuh dalam tradisi itu. Dan iamembawanya ke dalam cara memimpin. Dalam bukunya Merawat Tradisi, Menumbuhkan Inovasi, ia menulis:
“Organisasi besar tidak rusak hanya karena ada kritik.Organisasi besar justru bisa rusak ketika kehilangan kemampuan mendengar.”
Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah pengakuan jujur dari seorang kiai yang telah puluhan tahun memimpin pesantren dengan ribuan santri. Kiai yang setiap hari bertemu dengan masyarakat, dan tahu betul bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak ditentukan oleh seberapa keras suara pemimpinnya, tapi oleh seberapa dalam ia mampu menyerap kebutuhan yang ada di sekelilingnya.
Ilmu kepemimpinan modern pun sampai pada kesimpulan yang sama. Peter Drucker, salah satu pemikir manajemen paling berpengaruh abad ke-20, pernah berkata: “The most important thing in communication is hearing what isn’t said.” Hal-hal yang tidak terucap, kegelisahan yang disimpan, kekecewaan yang ditelan, itulah yang justru paling menentukan arah sebuah organisasi. Dan hanya pemimpin yang benar-benar mendengar yang bisa membacanya.
Mendengar Bukan Gaya, Ini Bukti Nyata
Gus yusuf bukan Kiai yang hanya selalu ingin tampil, ia juga tak hanya jago orasi membakar semangat di panggung-panggung besar. Tapi beliau mau membuka telinga untuk mendengar. Hampir setiap hari pintu rumahnya terbuka untuk masyarakat yang ingin sowan. Mulai dari urusan minta barokah doanya hingga urusan kenegaraan. Semua jenis tamu diterima tanpa pandang status sosial. Dan banyak juga aksi nyata hasil dari ia mendengar realitas kehidupan yang ada.
Ketika ia mendirikan Radio Fast FM pada 2003, itu bukan karena ingin terkenal di udara. Itu karena ia mendengar bahwa masyarakat pedesaan Magelang membutuhkan teman, bukan ceramah panjang, tapi suara yang hangat, yang menyapa di pagi hari, yang menemani perjalanan ke pasar. Radio itu lahir bukan dari ego, tapi dari empati yang dalam terhadap kebutuhan nyata umat.
Ketika RSU Syubbanul Wathon berdiri dan mulai beroperasi pada Januari 2019, itu pun lahir dari telinga yang peka.Bertahun-tahun ia mendengar keluhan warga Tegalrejo yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. Santri yang sakit harus dibawa jauh. Keluarga miskin bingung menghadapi sistem rujukan. Ia tidak langsung berpidato soal pentingnya kesehatan umat. Ia diam, mendengar, lalu bergerak.
Inilah perbedaan nyata antara pemimpin yang bicara tentangmasalah, dan pemimpin yang bergerak dari dalam masalah.
Umat Sedang Rindu Didengar
Survei Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) awal 2026 menemukan bahwa 80 persen warga dan pengurus NU menyatakan tidak puas dengan kepemimpinan PBNU saat ini. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah tanda bahwa jarak antara pemimpin dan umat sudah terasa nyata di akar rumput.
KH Hasyim Muzadi pernah mengingatkan bahwa kepercayaan antara pemimpin dan umat hanya lahir dari hubungan dua arah, bukan dari instruksi yang mengalir satu arah dari atas ke bawah. Ketika hubungan itu putus, jabatan boleh tetap ada, tapi wibawa moral perlahan pergi.
Peter Senge dalam The Fifth Discipline menyebutnya lebih teknis: organisasi yang benar-benar belajar dan bertahan hanya bisa lahir jika pemimpinnya mampu menciptakan ruang di mana suara dari bawah benar-benar didengar, dihargai, dan diolah menjadi kebijakan. Bukan ditampung lalu dilupakan.
NU hari ini membutuhkan pemimpin seperti itu. Bukan yang paling sering tampil di layar kaca. Bukan yang paling lantang di podium. Bukan pemimpin yang orientasinya hanya kekuasaan.Tapi yang paling sabar duduk bersama umat, mendengar apayang dirasakan, membaca apa yang tidak terucap, lalu bergerak untuk mewujudkannya.
Telinga yang Baik, Itulah Pemimpin yang Kuat
Gus Yusuf bukan kiai tanpa suara. Ia bisa berceramah. Ia bisa berdebat. Ia bisa memimpin organisasi. Tapi yang paling membedakannya adalah kemampuan yang justru paling langka di kalangan pemimpin organisasi besar: ia tahu kapan harus berhenti bicara dan mulai mendengar.
Di NU yang sedang haus didengar, itulah kualitas yang paling dibutuhkan. Bukan pemimpin yang paling pintar berkata-kata.Tapi pemimpin yang paling tulus memasang telinga untuk umat, untuk pesantren, untuk kader muda yang selama ini berteriak dalam
“Amanah kepemimpinan bukan hak untuk selalu didengar, tapi kewajiban untuk lebih banyak mendengar.” — KH Yusuf Chudlori, Merawat Tradisi Menumbuhkan Inovasi









