Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor

- Pewarta

Sabtu, 30 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KH Yusuf Chudlori. (Istimewa/Wawasannews)

KH Yusuf Chudlori. (Istimewa/Wawasannews)

Penulis : Toriqoh
(Kader GP Ansor Kabupaten Pemalang)

Saya masih ingat betul kalimat yang membuat ruangan kecil itu sejenak hening.

Seorang kader muda NU berdiri, lalu bicara pelan tapi tegas: “Saya lahir dari keluarga NU, ngaji di pesantren NU, aktif di banom NU. Tapi kadang merasa sulit menemukan pintu untuk benar-benar berkhidmah di struktur NU.”

Tidak ada yang menyangkal. Tidak ada yang menertawakan. Semuanya terdiam karena semua yang hadir, termasuk saya, merasakannya juga.

Kalimat itu saya temukan kembali dalam buku KH Yusuf Chudlori, Merawat Tradisi, Menumbuhkan Inovasi. Dan membacanya kembali dalam tulisan seorang kiai senior, perasaan saya campur aduk. lega, karena ada kiai yang mau jujur. Tapi juga getir, karena masalah ini nyata dan sudah berlangsung lama.

NU yang Kaya Kader, Tapi Pintunya Sempit

Gus Yusuf menulis dengan sangat gamblang tentang paradoks NU hari ini:

“Bukan karena NU kekurangan kader. Justru NU memiliki kader melimpah santri, akademisi, dokter, ekonom, budayawan, aktivis sosial, penggerak Desa, politisi, pengusaha, guru, tenaga kesehatan, dan anak-anak muda kreatif. Masalahnya, apakah organisasi sebesar NU sudah cukup matang untuk membuka ruang, mengelola potensi, dan menempatkan kader berdasarkan kebutuhan umat?”

Pertanyaan itu bukan retorika. Itu diagnosis. Dan sebagai kader Ansor yang sudah belasan tahun berkecimpung di lapangan, saya tahu jawabannya: belum cukup.

Terlalu banyak kader yang energinya besar tapi tidak punya panggung. Terlalu banyak gagasan yang matang tapi mentok di pintu-pintu birokrasi organisasi. Terlalu banyak anak muda yang akhirnya memilih jalan lain bukan karena tidak cinta NU, tapi karena NU belum cukup lapang menyambut mereka.

Rasulullah SAW bersabda: “Kullu mauludin yuladu ‘alal fithrah” setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Potensi selalu ada. Tugas pemimpinlah yang membuka ruang agar potensi itu bertumbuh, bukan memendam, bukan menghalangi.

Tua di Usia, Muda di Jiwa

Gus Yusuf menegaskan sesuatu yang pahit tapi perlu didengar :

“Usia panjang adalah anugerah. Tetapi usia panjang saja tidak cukup. Organisasi bisa tua karena kalender, tapi hanya bisa matang karena kebijaksanaan, tata kelola, dan kemampuan memperbaiki diri.”

NU sudah memasuki abad keduanya. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Tapi abad kedua bukan hadiah, ia adalah ujian. Apakah NU hanya akan menjadi organisasi yang bangga dengan masa lalunya? Atau ia akan terus bergerak, relevan, dan menjawab kebutuhan umat yang berubah?

Gus Yusuf memberi jawabannya lewat teladan nyata. Di Tegalrejo, ia merawat pesantren salaf warisan ayahandanya KH Chudlori. Kitab kuning, sanad, adab tanpa satu huruf pun dibuang. Tapi bersamaan dengan itu, ia membangun sekolah vokasi, radio komunitas, rumah sakit, dan kanal YouTube dakwah. Tradisi dan inovasi bukan dua hal yang diadu, melainkan dua sayap yang mengangkat pesantren terbang lebih tinggi.

Inilah model NU yang dibutuhkan di abad kedua. Bukan NU yang besar tapi kaku. Bukan NU yang ramai tapi kehilangan makna. Tapi NU yang berakar kuat, bergerak lincah, dan selalu hadir di mana umat membutuhkan.

Kaderisasi Bukan Formalitas

Salah satu hal yang paling saya kagumi dari Gus Yusuf adalah keputusannya mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU (PMKNU) di Cirebon pada bulan Mei 2026. Ia bukan pemuda yang baru masuk NU. Ia kiai pengasuh pesantren besar, tokoh yang sudah dikenal luas. Tapi ia tetap memilih duduk, mengikuti proses kaderisasi dengan serius, dan menempatkan diri sebagai bagian dari sistem.

Buku ini mencatatnya:

“Gus Yusuf ingin menunjukkan bahwa berkhidmah di NU tidak cukup hanya bermodal nama besar, pengalaman pesantren, atau jaringan sosial. Seorang kader tetap harus bersedia masuk dalam disiplin organisasi, mengikuti proses, mendengarkan materi, dan menempatkan diri sebagai bagian dari sistem kaderisasi jam’iyah.”

Ini bukan sekadar gestur. Ini adalah pesan yang sangat kuat kepada seluruh kader NU, bahwa pemimpin yang baik bukan yang merasa sudah di atas, melainkan yang terus mau belajar, mau tunduk pada proses, dan mau menunjukkan bahwa aturan jam’iyah berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali.

Sebagai kader Ansor, saya terharu membaca ini. Karena selama ini yang kami rindukan adalah pemimpin NU yang mau memimpin dengan cara yang bisa kami teladani, bukan yang minta dihormati tanpa mau mengikuti proses yang ia minta para kader ikuti.

NU Harus Kembali ke Khittahnya

Gus Yusuf tidak segan mengkritik kondisi NU dengan bahasa yang tepat dan terukur:

“NU tidak boleh hanya bangga karena usianya panjang. Usia adalah catatan waktu. Kedewasaan adalah kemampuan menanggung amanah.”

Dan dalam bagian lain yang sangat menyentuh:

“Apakah NU hadir ketika warga kecil sulit berobat? Apakah NU memberi ruang kepada kader-kader baik dari berbagai latar belakang? Apakah NU mampu menjaga marwah jam’iyah dari kepentingan sempit?”

Pertanyaan itu bukan serangan dari luar. Itu pertanyaan dari dalam, dari seorang kiai yang mencintai NU justru karena ia tidak mau NU berhenti di tempat.

Kami di GP Ansor merasakannya. Terlalu banyak energi NU tersedot oleh konflik internal. Terlalu banyak waktu habis untuk urusan kekuasaan. Sementara di desa-desa, santri pesantren kecil kekurangan fasilitas. Kader muda tidak punya ruang. Warga nahdliyin yang sakit bingung mengurus haknya.

NU besar bukan karena gedung kantornya megah. NU besar karena selama ratusan tahun ia hadir di tengah tani, di tepian desa, di serambi pesantren, di dapur keluarga kecil yang berdoa sebelum makan.

NU Butuh Pemimpin Seperti Gus Yusuf

Menjelang Muktamar ke-35 NU, sebagai kader GP Ansor saya tidak berbicara tentang siapa yang harus dipilih. Itu hak para muktamirin yang mewakili jutaan nahdliyin di seluruh Indonesia. Tapi saya bisa berbicara tentang pemimpin seperti apa yang kami butuhkan.

Kami butuh pemimpin yang paham bahwa NU bukan perusahaan yang dipimpin dari atas. NU adalah gerakan yang hidup dari bawah, dari ranting, dari pesantren kecil, dari majelis taklim, dari kelompok petani nahdliyin di pelosok desa.

Kami butuh pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara di podium, tapi mau duduk mendengar di warung kopi bersama kader akar rumput.

Kami butuh pemimpin yang sudah terbukti. Bukan hanya punya visi, tapi punya rekam jejak nyata. Yang membangun, bukan hanya berjanji.

Gus Yusuf menulis di penghujung mukadimah bukunya:

“Masa depan tidak cukup dijemput dengan kebanggaan. Masa depan harus disiapkan dengan ilmu, kerja, keberanian, dan khidmah.”

Kalimat itu bukan slogan. Itu refleksi dari seseorang yang sudah menjalaninya merawat pesantren dengan lebih dari 10.000 santri, membangun radio, mendirikan rumah sakit, membuka SMK di pesantren, hingga menyiapkan cabang pesantren di IKN. Semua dengan tangan dan keringat, bukan hanya dengan kata-kata.

Inilah sosok yang kami rindukan untuk NU ke depan. Pemimpin yang akarnya dalam di tanah pesantren, tangannya terbiasa bekerja, telinganya selalu terbuka, dan hatinya tetap berada di tengah umat.

Sebab NU ke depan bukan milik pengurus PBNU di Jakarta. NU ke depan adalah milik kita semu.  Kader Ansor di desa, santri di pesantren terpencil, ibu-ibu Fatayat di majelis taklim, dan jutaan nahdliyin yang setiap harinya bekerja keras dan berdoa agar NU tetap menjadi rumah bagi mereka.

NU jangan menua. NU harus terus tumbuh.

Penulis adalah kader aktif Gerakan Pemuda Ansor, alumnus pesantren,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Psikologi Self Control: Kunci Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern
Gus Yusuf Melihat Kami (Perempuan): Bukan Objek, tapi Kekuatan
Gus Yusuf, Kiai Yang Mendengar Bukan Hanya Bicara.
Era Visual Semakin Mendominasi, Apakah Literasi Akan Bertahan?
KH. Yusuf Chudlori: Sosok Harapan untuk Kepemimpinan PBNU di Abad Kedua
Istiqomah di Jalan Sunyi: Gus Yusuf Chudlori dan Masa Depan NU
Banyak Orang Menyerah karena Bosan, Padahal Konsistensi Adalah Jawabannya
Rahasia Hidup Lebih Tenang, Mulai dari Kebiasaan Sederhana Sehari-hari

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 14:36

Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:05

Psikologi Self Control: Kunci Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:14

Gus Yusuf Melihat Kami (Perempuan): Bukan Objek, tapi Kekuatan

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:36

Gus Yusuf, Kiai Yang Mendengar Bukan Hanya Bicara.

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:36

Era Visual Semakin Mendominasi, Apakah Literasi Akan Bertahan?

Berita Terbaru

KH Yusuf Chudlori. (Istimewa/Wawasannews)

Kolom Tokoh

Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor

Sabtu, 30 Mei 2026 - 14:36