DPP Kendal Genjot Produktivitas Kopi, Petani Limbangan Belajar Perawatan Tanaman ke Sukorejo

- Pewarta

Senin, 25 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani kopi dari Kecamatan Limbangan dan Sukorejo berfoto bersama di kebun kopi Desa Tamanrejo, Kendal, usai mengikuti studi tiru budidaya kopi yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal. (Istimewa/Wawasannews)

Petani kopi dari Kecamatan Limbangan dan Sukorejo berfoto bersama di kebun kopi Desa Tamanrejo, Kendal, usai mengikuti studi tiru budidaya kopi yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal. (Istimewa/Wawasannews)

KENDAL, Wawasannews.com – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal terus mendorong peningkatan hasil produksi kopi di wilayah pegunungan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui kegiatan studi tiru yang melibatkan petani kopi dari Kecamatan Limbangan ke Kecamatan Sukorejo.

Kegiatan tersebut diikuti Kelompok Tani Sumber Rejeki dari Desa Pakis, Kecamatan Limbangan. Mereka berkunjung ke Kelompok Tani Taman Tani di Desa Tamanrejo, Kecamatan Sukorejo untuk belajar langsung soal pengelolaan tanaman kopi.

Lewat kegiatan itu, para petani tidak hanya menerima materi, tetapi juga melihat langsung cara perawatan tanaman di lapangan. Mulai dari teknik pemangkasan, pembuatan pupuk organik, pestisida organik, sampai pemanfaatan mikroorganisme untuk menjaga kesuburan tanah.

Kepala Tim Kerja Produksi Perkebunan DPP Kabupaten Kendal, Hadi Winarno, mengatakan peningkatan produksi kopi perlu dibarengi perubahan pola budidaya di tingkat petani.

Menurutnya, selama ini sebagian petani masih memakai cara konvensional yang hasilnya belum maksimal.

Karena itu, melalui studi tiru ini petani diajak melihat langsung praktik budidaya yang sudah berjalan dan terbukti memberi hasil lebih baik.

“Petani kami kenalkan dengan agrosistem yang mencakup pengelolaan air, udara dan tanah. Selain itu juga teknik pemangkasan tanaman kopi mulai pangkas bentuk hingga pangkas pasca panen,” ujarnya.

Hadi menjelaskan, persoalan harga kopi di pasaran memang tidak bisa dikendalikan petani. Fluktuasi harga sering terjadi dan bergantung pada pasar.

Kondisi itu membuat petani perlu mencari cara lain agar pendapatan tetap terjaga. Salah satunya dengan meningkatkan hasil panen dan menjaga kualitas kopi.

“Kalau harga pasar petani tidak bisa mengatur. Maka yang bisa dilakukan bagaimana hasil panennya meningkat dan kualitasnya bagus,” katanya.

Ia mencontohkan pada budidaya kopi robusta yang selama ini umum dilakukan petani.

Biasanya satu ranting tanaman dibiarkan berbuah sampai lima kali panen. Padahal setelah panen ketiga, produktivitas buah mulai menurun.

Jika dibiarkan terlalu lama tanpa peremajaan, hasil yang didapat petani justru berkurang.

Lewat studi tiru ini, petani didorong berani memangkas cabang setelah panen ketiga. Cara itu dinilai lebih efektif karena membantu pertumbuhan tunas baru dan menjaga produksi tetap stabil.

“Normalnya satu ranting kopi bisa menghasilkan sekitar 30 sampai 45 biji kopi. Kalau dibiarkan terlalu lama tanpa dipangkas, hasilnya justru menurun dan petani bisa merugi,” jelas Hadi.

Ketua Kelompok Tani Taman Tani Desa Tamanrejo, Kusnan, menambahkan hasil panen kopi sangat bergantung pada perawatan tanaman.

Menurutnya, potensi kopi dari wilayah Kendal cukup besar untuk terus berkembang.

Ia menilai kualitas kopi dari daerah pegunungan Kendal tidak kalah dengan wilayah lain. Hanya saja, selama ini nama kopi Kendal masih sering ikut dikenal lewat daerah lain, terutama Temanggung.

“Kalau perawatannya bagus, hasilnya pasti meningkat. Potensi kopi Kendal sebenarnya besar, hanya saja selama ini nama kopi Kendal masih menginduk ke daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Debyo, peserta studi tiru dari Kecamatan Limbangan, berharap ilmu yang didapat selama kunjungan bisa langsung diterapkan oleh petani di desanya.

Menurut dia, petani di Limbangan ingin hasil panen kopi terus bertambah dan kualitasnya makin baik.

Ia juga berharap potensi kopi dari wilayah Kendal bagian atas semakin dikenal masyarakat luas.

“Kami ingin mengenalkan potensi kopi Sukorejo kepada petani di Limbangan. Harapannya produksi kopi di Limbangan juga bisa melimpah seperti di Desa Tamanrejo,” ujarnya.

Melalui kegiatan seperti ini, petani berharap bisa mendapat tambahan pengalaman lapangan dan menerapkannya di kebun masing-masing saat musim panen berikutnya.

Pewarta : Fuad
Editor : Riyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rupiah Menguat ke Rp17.696 per Dolar AS, Sentimen Perdamaian Timur Tengah Jadi Penopang
Prabowo Dorong Tambak Udang dan Ikan Produktif, Kebumen Disiapkan Jadi Penguat Protein Nasional
Harga Emas Pegadaian Awal Pekan Stabil, Antam Bertahan di Rp2,87 Juta per Gram
Menkeu Pastikan Rupiah Melemah Tak Sama dengan Krisis 1998, Investor Diminta Tak Panik
Nasabah Harus Tahu! Ini Ketentuan Saldo Minimum Bank Mandiri, BRI, dan BNI Terbaru
Update Harga Pangan Nasional: Cabai Rp52 Ribu, Beras Tetap Stabil
Gubernur Jateng Minta Investor Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal di Jateng
Krisis Ganda Hantui Pantura Jawa, AHY Minta Penanganan Serius dan Cepat

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 16:26

DPP Kendal Genjot Produktivitas Kopi, Petani Limbangan Belajar Perawatan Tanaman ke Sukorejo

Senin, 25 Mei 2026 - 10:48

Rupiah Menguat ke Rp17.696 per Dolar AS, Sentimen Perdamaian Timur Tengah Jadi Penopang

Senin, 25 Mei 2026 - 10:17

Prabowo Dorong Tambak Udang dan Ikan Produktif, Kebumen Disiapkan Jadi Penguat Protein Nasional

Senin, 25 Mei 2026 - 10:07

Harga Emas Pegadaian Awal Pekan Stabil, Antam Bertahan di Rp2,87 Juta per Gram

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:46

Menkeu Pastikan Rupiah Melemah Tak Sama dengan Krisis 1998, Investor Diminta Tak Panik

Berita Terbaru