Keadilan Ekologis Dipertaruhkan: Saat Bencana Alam Menghantam Lingkungan dan Melumpuhkan Pendidikan

- Pewarta

Minggu, 15 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Murni Faktor Alam ?, Istimewa/WawasanNews

Murni Faktor Alam ?, Istimewa/WawasanNews

Jakarta, Wawasannews.com –Indonesia kembali diuji rentetan bencana alam sepanjang 2025 hingga awal 2026. Dari banjir bandang dan longsor di Aceh, luapan sungai di sejumlah wilayah Sumatera, hingga tanah bergerak dan banjir di berbagai kabupaten di Jawa Tengah, deretan peristiwa ini menghadirkan duka sekaligus pertanyaan besar: apakah semua ini murni faktor alam?

Curah hujan ekstrem dan perubahan iklim memang menjadi variabel penting. Namun, menempatkan bencana semata sebagai takdir alam adalah penyederhanaan yang berbahaya. Fakta di lapangan menunjukkan adanya problem serius dalam regulasi tata ruang, alih fungsi lahan, hingga tata kelola hutan yang belum optimal. Pembukaan lahan yang masif tanpa pengawasan ketat, lemahnya penegakan hukum terhadap perusakan kawasan lindung, serta inkonsistensi kebijakan lingkungan memperbesar risiko bencana yang sebenarnya bisa diminimalisir.

Di beberapa wilayah terdampak, kawasan resapan air berubah menjadi permukiman dan perkebunan. Hutan yang seharusnya menjadi benteng ekologis justru terdegradasi. Sungai kehilangan daerah penyangga alaminya. Ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, air tak lagi memiliki ruang untuk meresap dan akhirnya meluap, menghantam pemukiman warga. Di titik inilah kritik terhadap regulasi pemerintah menjadi relevan. Kebijakan pembangunan yang tidak berlandaskan prinsip keberlanjutan berpotensi memperparah siklus bencana tahunan.

Dampaknya tidak hanya pada kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan. Ratusan sekolah di berbagai daerah terdampak mengalami kerusakan ringan hingga berat. Proses belajar mengajar terhenti, ruang kelas berubah menjadi tempat pengungsian, dan siswa kehilangan akses pendidikan dalam waktu yang tidak singkat. Anak-anak dari keluarga terdampak harus menghadapi trauma sekaligus ketertinggalan akademik. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan antarwilayah.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ketua PDKN (Permadani Diksi KIP-K Nasional), sahabat Ulin Nuha, “Sebagai ketua organisasi yang bergerak dalam sektor pendidikan, penting untuk menegaskan bahwa bencana ekologis adalah persoalan lintas sektor. Ketika tata kelola lingkungan diabaikan, generasi muda yang menanggung konsekuensinya. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan harus berpijak pada prinsip keadilan ekologis, bahwa setiap warga negara berhak atas lingkungan yang sehat dan aman, serta tidak menjadi korban dari kebijakan yang abai terhadap keberlanjutan, Indonesia emas 2045 bukan hanya secercak harapan yang dapat diraih hanya dengan gaungan belaka, melainkan dibutuhkan aksi nyata, salah satunya adalah kepedulian terhadap lingkungan kita” tambahnya.

Keadilan ekologis menuntut negara untuk tidak hanya hadir saat tanggap darurat, tetapi juga serius dalam pencegahan. Evaluasi izin alih fungsi lahan, penguatan pengawasan hutan, penataan ulang tata ruang berbasis risiko bencana, serta transparansi kebijakan lingkungan harus menjadi prioritas. Tanpa itu, bencana akan terus berulang dan sektor pendidikan akan terus menjadi korban tak terlihat.

Momentum 2025-2026 seharusnya menjadi refleksi nasional. Bahwa menjaga hutan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan investasi masa depan pendidikan dan keselamatan generasi bangsa. Jika negara sungguh-sungguh berkomitmen pada keadilan ekologis, maka perlindungan lingkungan dan hak atas pendidikan harus berjalan beriringan, bukan saling dikorbankan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rupiah di Bawah Tekanan: Membaca Akar Struktural dan Arah Kebijakan Ekonomi 2026
Mengurangi Doomscrolling dan Memperluas Wawasan, Ini Caranya
Bayang-Bayang Perlambatan Ekonomi Indonesia: Antara Optimisme dan Tantangan Nyata
Dari Peci ke Pesantren Entrepreneur : Cara Gus Yusuf Mengubah Pesantren Menjadi Kekuatan Ekonomi NU
Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor
Psikologi Self Control: Kunci Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern
Gus Yusuf Melihat Kami (Perempuan): Bukan Objek, tapi Kekuatan
Gus Yusuf, Kiai Yang Mendengar Bukan Hanya Bicara.

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:21

Rupiah di Bawah Tekanan: Membaca Akar Struktural dan Arah Kebijakan Ekonomi 2026

Senin, 8 Juni 2026 - 19:37

Mengurangi Doomscrolling dan Memperluas Wawasan, Ini Caranya

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:20

Bayang-Bayang Perlambatan Ekonomi Indonesia: Antara Optimisme dan Tantangan Nyata

Rabu, 3 Juni 2026 - 21:53

Dari Peci ke Pesantren Entrepreneur : Cara Gus Yusuf Mengubah Pesantren Menjadi Kekuatan Ekonomi NU

Sabtu, 30 Mei 2026 - 14:36

Gus Yusuf dan Harapan NU Masa Depan : Cacatan Kader GP Ansor

Berita Terbaru

Jawa Tengah

DPRD Kendal Dorong Gen Z Tampil sebagai Motor Inovasi Daerah

Kamis, 11 Jun 2026 - 07:30