Mendikdasmen: Sekolah Harus Jadi Tempat Membangun Karakter dan Memperkuat Kebangsaan

- Pewarta

Rabu, 3 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti (kedua dari kiri) menghadiri peresmian groundbreaking Sekolah Pelita Harapan di Jakarta pada Selasa (2/6/2026). (Istimewa/Wawasannews)

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti (kedua dari kiri) menghadiri peresmian groundbreaking Sekolah Pelita Harapan di Jakarta pada Selasa (2/6/2026). (Istimewa/Wawasannews)

JAKARTA, Wawasannews.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Menurutnya, sekolah juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter peserta didik sekaligus memperkuat rasa kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan apresiasi kepada Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) yang dinilai konsisten berkontribusi dalam pengembangan pendidikan nasional. Kontribusi itu tidak hanya melalui pembangunan fasilitas pendidikan, tetapi juga pembinaan karakter siswa.

Dalam pandangannya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya akan menentukan kualitas bangsa pada masa mendatang. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari berdirinya gedung sekolah atau tingginya capaian akademik siswa.

“Pendidikan adalah investasi manusia. Bukan hanya membangun sekolah secara fisik, tetapi juga membangun karakter generasi dan membangun bangsa yang kuat,” ujar Mu’ti di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Ia mengatakan, pembangunan sumber daya manusia menjadi pekerjaan yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur pendidikan. Gedung sekolah yang baik memang diperlukan, namun yang lebih utama adalah bagaimana sekolah mampu melahirkan generasi yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan rasa tanggung jawab.

Menurut Mu’ti, sekolah seharusnya menjadi tempat yang mampu mempertemukan berbagai latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan agama. Di lingkungan sekolah, anak-anak belajar hidup bersama, mengenal perbedaan, serta membangun sikap saling menghormati.

Karena itu, ia berharap sekolah tidak menjadi ruang yang menciptakan sekat-sekat sosial. Sebaliknya, sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya kebersamaan dan persaudaraan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kata dia, terus mendorong satuan pendidikan agar mampu menjalankan fungsi tersebut. Sekolah diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang sehat bagi peserta didik dari berbagai kelompok masyarakat.

“Anak-anak dari berbagai kalangan bertemu di ruang kelas. Dari interaksi yang baik itu mereka membangun karakter sekaligus memperkuat identitas keindonesiaannya,” katanya.

Menurut Mu’ti, Indonesia memiliki keberagaman yang sangat besar. Oleh karena itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai persatuan sejak usia dini.

Ia menilai pengalaman berinteraksi dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Dari pengalaman tersebut, siswa belajar memahami perbedaan pandangan, budaya, maupun kebiasaan yang ada di masyarakat.

Lebih jauh, Mu’ti juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital yang berkembang semakin cepat. Kemajuan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara belajar dan memperoleh informasi.

Saat ini, siswa dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan hanya melalui perangkat digital yang ada di tangan mereka. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru.

Menurutnya, kemampuan mengakses informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, pendidikan karakter tetap dibutuhkan agar generasi muda dapat menggunakan pengetahuan yang dimiliki secara bijak.

Ia menilai keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan penguatan nilai-nilai moral menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

“Ilmu dapat memberikan jawaban-jawaban, tetapi iman memberikan pilihan-pilihan,” ujar Mu’ti.

Menurut dia, teknologi memang membantu manusia memahami banyak hal dengan lebih cepat. Namun, nilai-nilai kehidupan tetap diperlukan untuk menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan bagi kepentingan yang lebih luas.

Dengan kata lain, kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Tanpa fondasi moral yang kuat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dikhawatirkan tidak memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan Executive Director Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), Stephanie Riady.

Ia mengatakan perkembangan teknologi yang begitu cepat tidak mengubah posisi karakter sebagai fondasi utama pendidikan. Justru di tengah perubahan yang berlangsung sangat dinamis, karakter menjadi semakin penting.

Menurut Stephanie, teknologi saat ini mampu membantu manusia menemukan berbagai jawaban dan solusi. Namun, karakter tetap menjadi penentu dalam memilih tindakan yang benar.

“Teknologi dapat membantu menemukan jawaban, tetapi karakter membantu menentukan pilihan yang benar,” katanya. (Dilansir dari antaranews)

Stephanie menilai pendidikan ideal tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik tinggi. Pendidikan juga harus mampu melahirkan individu yang memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, jiwa kepemimpinan, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Ia menambahkan, peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu, YPPH terus mengembangkan pendidikan yang menggabungkan aspek akademik dengan pembentukan karakter. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Melalui pembangunan Sekolah Pelita Harapan, yayasan berharap semakin banyak anak Indonesia memperoleh akses pendidikan berkualitas. Tidak hanya dalam hal pembelajaran, tetapi juga dalam pembentukan kepribadian dan kepemimpinan.

Bagi masyarakat di daerah, termasuk di Jawa Tengah dan Kabupaten Kendal, penguatan karakter melalui pendidikan tetap menjadi kebutuhan yang relevan. Di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi digital oleh pelajar, sekolah diharapkan tetap menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal dalam bermasyarakat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan pada akhirnya tidak hanya berbicara soal nilai rapor atau prestasi akademik. Lebih dari itu, pendidikan berperan membentuk manusia yang mampu hidup berdampingan, menghargai perbedaan, serta menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memberi manfaat bagi sesama. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

KSP Gelar 81 Verifikasi Lapangan, Awasi 17 Program Prioritas Pemerintah hingga Daerah
Danantara Targetkan Entitas PLN Group Berkurang Hampir Separuh pada 2028
KPK Buka Identitas Empat Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan, Kerugian Negara Diperkirakan Rp151 Miliar
Komnas Perempuan Soroti Tingginya Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, Nilai Pancasila Dinilai Belum Sepenuhnya Terwujud
Permohonan Pulang WNI dari Kamboja Melonjak, KBRI Phnom Penh Tangani Lebih dari 10 Ribu Kasus dalam Lima Bulan
Ombudsman RI Gandeng Mahkamah Agung Perkuat Pengawasan Peradilan, Lebih dari 1.400 Aduan Masyarakat Tercatat
Prabowo Hadiri Persemayaman Ryamizard Ryacudu di Kemhan, Akan Dimakamkan Militer di TMP Kalibata
Kebakaran Rumah Dinas TPU Kebon Nanas Jatinegara, Kerugian Capai Rp10 Juta

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:45

Mendikdasmen: Sekolah Harus Jadi Tempat Membangun Karakter dan Memperkuat Kebangsaan

Rabu, 3 Juni 2026 - 12:17

KSP Gelar 81 Verifikasi Lapangan, Awasi 17 Program Prioritas Pemerintah hingga Daerah

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:56

Danantara Targetkan Entitas PLN Group Berkurang Hampir Separuh pada 2028

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:35

KPK Buka Identitas Empat Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan, Kerugian Negara Diperkirakan Rp151 Miliar

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:56

Komnas Perempuan Soroti Tingginya Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, Nilai Pancasila Dinilai Belum Sepenuhnya Terwujud

Berita Terbaru