Raedu Basha Bedah Cerpen di Kendal, Angkat Wajah Pesantren dan Toko Kelontong Madura

- Pewarta

Kamis, 16 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sastrawan asal Madura, Raedu Basha (tengah), berfoto bersama peserta usai bedah buku Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas dalam acara NgopiSastra#31 yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di KopiSufi, Brangsong, Kabupaten Kendal. (Istimewa/Wawasannews)

Sastrawan asal Madura, Raedu Basha (tengah), berfoto bersama peserta usai bedah buku Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas dalam acara NgopiSastra#31 yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di KopiSufi, Brangsong, Kabupaten Kendal. (Istimewa/Wawasannews)

KENDAL, Wawasannews.com — Ruang diskusi sastra di Kabupaten Kendal kembali menghadirkan perbincangan yang menarik. Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) menggelar NgopiSastra#31 dengan menghadirkan sastrawan asal Madura, Raedu Basha, untuk membedah buku kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas.

Kegiatan yang berlangsung di KopiSufi, Kecamatan Brangsong, Senin (13/7/2026) malam itu dihadiri pegiat literasi, akademisi, penulis, hingga pecinta sastra. Diskusi dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dan dipandu Sekretaris Jenderal PSK, Lukluk Atsmara Anjaina.

Selama hampir seluruh sesi berlangsung, pembahasan tidak hanya berkutat pada isi buku. Berbagai cerita di balik proses kreatif penulisan, kehidupan pesantren, hingga persoalan sosial yang diangkat dalam setiap cerpen ikut menjadi bahan diskusi.

Raedu Basha, yang memiliki nama asli Muhammad Badrus Shaleh Sibqi atau akrab disapa Lora Badrus, dikenal sebagai sastrawan berlatar belakang pesantren. Ia merupakan alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep, Madura, serta Pondok Pesantren Sarang, Rembang.

Dalam kesempatan itu, Raedu mengungkapkan bahwa sebelas cerpen yang dimuat dalam buku tersebut lahir dari pengalaman, pengamatan, dan kegelisahannya terhadap kehidupan masyarakat, terutama lingkungan pesantren.

Ia mengatakan, karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk merekam perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Menurutnya, salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui buku tersebut adalah mengajak pembaca kembali mengenal sosok kiai yang benar-benar mengabdikan hidupnya kepada ilmu dan masyarakat.

“Melalui buku antologi ini, saya ingin mengingatkan publik pada sosok ‘kiai yang sebenarnya kiai’, menyoroti pergeseran nilai tabiat orang pesantren saat ini, sekaligus membudayakan tradisi menulis di kalangan santri,” ujar Raedu.

Diskusi kemudian berkembang ke berbagai tema yang muncul dalam cerpen-cerpennya. Salah satunya mengenai fenomena toko kelontong milik masyarakat Madura yang kini banyak ditemukan di berbagai daerah dan mampu bertahan di tengah persaingan dengan jaringan ritel modern.

Bagi Raedu, fenomena tersebut tidak hanya dapat dipandang dari sisi ekonomi. Ia melihatnya sebagai gambaran kuat mengenai cara pandang masyarakat Madura terhadap kehidupan dan rezeki.

Menurutnya, semangat membuka usaha lahir dari keyakinan bahwa rezeki merupakan kuasa Tuhan. Karena itu, masyarakat tetap berani membuka usaha meski harus bersaing dengan toko modern yang memiliki modal jauh lebih besar.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta diskusi karena memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat berangkat dari realitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selain Raedu, acara juga menghadirkan dua pemantik, yakni akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan Universitas Terbuka, Zulfa Fahmy, serta penulis sekaligus pegiat literasi Widyanuari Eko Putra.

Dalam pemaparannya, Zulfa Fahmy mengaku cukup akrab dengan karya-karya Raedu. Bahkan, salah satu cerpen berjudul Ruang Tamu Kyai Dahol beberapa kali dijadikan bahan pembahasan dalam Mata Kuliah Cerita Rekaan di Universitas Terbuka.

Menurutnya, banyak mahasiswa Universitas Terbuka yang berasal dari daerah pedesaan merasa dekat dengan cerita tersebut. Mereka menemukan gambaran kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Cerpen itu, kata Zulfa, menggambarkan hubungan yang sederhana tetapi hangat antara seorang kiai dengan warga desa yang hendak merantau mencari kehidupan lebih baik di kota.

Ia menilai kekuatan Raedu terletak pada kemampuannya menghadirkan tokoh-tokoh yang terasa hidup dan dekat dengan masyarakat.

“Raedu sedang melakukan pembelaan estetik terhadap para kiai yang sunyi. Di luar lingkaran elit yang korup, masih ada kiai yang didasari kemurnian ilmu dan ketulusan spiritual, bukan syahwat politik atau materi,” kata Zulfa.

Menurut dosen Bahasa Indonesia UIN Walisongo Semarang itu, karya sastra Raedu memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu dapat dipahami melalui pendekatan rasional semata.

Ada pengalaman batin, nilai spiritual, dan hubungan antarmanusia yang justru menjadi inti dari cerita-cerita dalam antologi tersebut.

Pandangan serupa disampaikan Widyanuari Eko Putra. Penulis dan pegiat literasi itu melihat benang merah dari kumpulan cerpen karya Raedu berkaitan dengan relasi kekuasaan yang sering bersinggungan dengan institusi keagamaan maupun tokoh masyarakat.

Meski demikian, menurutnya, kritik yang disampaikan Raedu tidak disajikan secara gamblang. Kritik tersebut hadir melalui alur cerita, tokoh, dan dialog yang mengajak pembaca menafsirkan sendiri maknanya.

“Meski demikian, saya memilih fokus pada substansi kritik kekuasaan itu sendiri,” ujar Widyanuari.

Selama diskusi berlangsung, peserta juga aktif mengajukan pertanyaan mengenai proses kreatif Raedu dalam menulis cerpen. Mulai dari penentuan tema, pencarian tokoh, hingga alasan memilih latar pesantren sebagai ruang utama dalam sebagian besar karyanya.

Raedu menjelaskan bahwa lingkungan pesantren merupakan bagian dari perjalanan hidupnya. Karena itu, banyak cerita yang lahir dari pengalaman nyata, meski kemudian dikembangkan menjadi karya fiksi.

Baginya, sastra menjadi cara untuk menyimpan ingatan tentang kehidupan masyarakat yang sederhana sekaligus menyampaikan berbagai nilai kemanusiaan kepada pembaca.

NgopiSastra#31 pun berlangsung hangat hingga acara berakhir. Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang bedah buku, tetapi juga tempat bertemunya penulis, akademisi, dan pegiat literasi untuk bertukar pandangan mengenai sastra, budaya, hingga realitas sosial yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Raedu Basha sendiri bukan nama baru di dunia sastra Indonesia. Selain dikenal sebagai sastrawan dan antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), ia juga pernah terpilih sebagai penulis Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015. Sejumlah penghargaan nasional dan internasional juga pernah diraihnya, di antaranya Nusantara Academic Award 2019 dan Anugerah Sutasoma 2020.

Melalui buku Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas, Raedu kembali mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut yang sederhana. Dari ruang pesantren, desa, hingga toko kelontong, ia menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian sekaligus mengundang pembaca untuk memaknai ulang berbagai persoalan kemanusiaan.

Pewarta : Zidnal
Editor : Riyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal
Guru SMPN 2 Cepiring Tiga Tahun Berturut-turut Raih Penghargaan MURI Lewat Karya Literasi
Pemkab Kendal Padukan Nobar Piala Dunia dengan Pesta UMKM, Dongkrak Ekonomi Lokal
Kapolres Kendal sambangi Makodim 0715 Kendal perkuat sinergi TNI Polri
Kapolres Kendal Sambangi Kejari, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum
Jambore Anak Panti 2026 Jadi Wadah Pengembangan Karakter dan Prestasi Anak Asuh di Kendal
Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Pengabdian Empat Hari di Dusun Duren, Warga Antusias Ikuti Berbagai Kegiatan
PT Pupuk Indonesia dan Kementan Luncurkan Program Nature-Based Solution Agroforestry di Kendal

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:42

Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal

Kamis, 16 Juli 2026 - 09:10

Raedu Basha Bedah Cerpen di Kendal, Angkat Wajah Pesantren dan Toko Kelontong Madura

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:15

Guru SMPN 2 Cepiring Tiga Tahun Berturut-turut Raih Penghargaan MURI Lewat Karya Literasi

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:34

Pemkab Kendal Padukan Nobar Piala Dunia dengan Pesta UMKM, Dongkrak Ekonomi Lokal

Rabu, 15 Juli 2026 - 08:25

Kapolres Kendal sambangi Makodim 0715 Kendal perkuat sinergi TNI Polri

Berita Terbaru