KENDAL, Wawasannews.com — Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Kabupaten Kendal. Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 2 Cepiring, Ana Rahmawati Ningsih, S.Pd., M.Pd., kembali menerima piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan tersebut menjadi pencapaian ketiganya secara berturut-turut sejak 2024.
Keberhasilan itu diraih melalui keterlibatannya dalam proyek literasi yang diselenggarakan Dandelion Publisher pada 2026. Dalam kegiatan tersebut, Ana dipercaya menjadi salah satu penulis kontributor buku Nandikara Arutala, sebuah buku yang kemudian berhasil mencatatkan rekor MURI.
Tak hanya dikenal sebagai pendidik, Ana juga aktif berkarya di bidang literasi dan industri kreatif. Ia merupakan penulis buku, produser, penulis naskah, sekaligus sutradara film pendek. Berbagai pengalaman tersebut terus mendorongnya menghasilkan karya-karya baru di luar aktivitas mengajar.
Pada proyek kali ini, Ana menulis puisi akrostik berjudul Berjalan di Cahaya Terang. Puisi tersebut disusun dengan teknik akrostik, yakni setiap baris diawali huruf-huruf yang membentuk nama lengkapnya.
Karya itu kemudian mengikuti proses seleksi bersama naskah dari penulis lain. Setelah dinyatakan lolos kurasi, puisi Ana diterbitkan dalam buku Nandikara Arutala yang melibatkan lebih dari 1.000 penulis dari berbagai daerah di Indonesia.
Buku tersebut akhirnya mencatatkan rekor MURI sebagai buku puisi akrostik dengan jumlah penulis terbanyak. Atas keterlibatannya dalam proyek itu, Ana kembali menerima piagam penghargaan dari MURI.
“Puisi ini saya tulis menggunakan huruf-huruf dari nama saya sebagai awalan setiap baris. Setelah lolos kurasi, karya saya diterbitkan dalam buku Nandikara Arutala. Piagam penghargaan dari MURI saya terima setelah bukunya terbit,” ujar Ana, Kamis (16/7).
Prestasi ini melanjutkan capaian yang telah diraihnya dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, Ana memperoleh penghargaan MURI melalui proyek penulisan puisi akrostik yang melibatkan tiga peserta didiknya. Setahun kemudian, pada 2025, ia kembali menerima penghargaan MURI melalui karya pentigraf atau cerpen tiga paragraf bersama seorang siswa.
Berbeda dengan dua proyek sebelumnya, pada tahun ini Ana mengikuti kegiatan tersebut secara mandiri. Hal itu karena pelaksanaan proyek berlangsung saat masa libur sekolah, sehingga para siswa belum dapat ikut berpartisipasi.
“Tahun ini saya mencoba mengikuti proyek sendiri karena siswa masih libur sekolah. Alhamdulillah, karya saya kembali lolos kurasi,” katanya.
Menurut Ana, penghargaan yang diterimanya bukan sekadar pencapaian pribadi. Baginya, keberhasilan tersebut menjadi penyemangat untuk terus berkarya sekaligus membawa nama SMP Negeri 2 Cepiring dan Kabupaten Kendal semakin dikenal melalui dunia literasi.
Ia berharap semakin banyak guru maupun pelajar yang berani mencoba menulis dan mengikuti berbagai kegiatan literasi. Menurutnya, kesempatan untuk menghasilkan karya selalu terbuka bagi siapa saja yang mau belajar dan berlatih.
Ana juga berpesan kepada para siswanya agar tidak membatasi diri hanya pada prestasi akademik. Setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan sesuai minat dan bakat masing-masing.
“Jangan pernah takut mencoba dan berkarya. Prestasi tidak hanya diperoleh dari nilai akademik, tetapi juga bisa melalui menulis, seni, maupun bidang lain yang ditekuni. Terus belajar, membaca, dan berlatih agar dapat menghasilkan karya yang bermanfaat,” pesannya.
Keberhasilan Ana menjadi bukti bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik di ruang kelas. Melalui karya literasi, mereka juga dapat menginspirasi peserta didik sekaligus mengharumkan nama sekolah dan daerah di tingkat nasional.
Raihan penghargaan MURI selama tiga tahun berturut-turut sekaligus menegaskan konsistensi Ana dalam berkarya. Di tengah kesibukannya mengajar, ia tetap aktif menghasilkan karya yang mampu bersaing dalam berbagai proyek literasi nasional.
Pewarta : Zidnal
Editor: Riyadi






