KEDIRI, Wawasannews.com – Dukungan terhadap KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf terus mengalir menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Kali ini, aspirasi tersebut datang dari kalangan pemuda dan santri yang tergabung dalam Kita Muda Nahdliyin (KMN).
Dukungan itu mengemuka dalam Rembug Nasional Kita Muda Nahdliyin se-Indonesia yang berlangsung di Mojo, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6). Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga kawasan Indonesia Timur.
Dalam forum bertajuk Future of PBNU: Menakar Kepemimpinan Harapan Warga NU tersebut, peserta membahas arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama di tengah berbagai tantangan yang dihadapi organisasi pada abad kedua perjalanannya.
Koordinator Nasional KMN, Alfan A, mengatakan hasil diskusi dan aspirasi yang berkembang dalam forum mengerucut pada satu nama, yakni Gus Yusuf. Menurutnya, banyak peserta memandang pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, itu sebagai figur yang memiliki kapasitas untuk memimpin PBNU ke depan.
Rembug nasional tersebut juga menghadirkan sejumlah tokoh muda dari berbagai latar belakang. Mereka membahas kondisi organisasi, tantangan kaderisasi, perkembangan teknologi, hingga kebutuhan NU dalam menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Sekretaris Nasional KMN, Adi, menjelaskan bahwa dukungan kepada Gus Yusuf bukan muncul secara tiba-tiba. Nama Gus Yusuf telah lama menjadi bagian dari diskusi di kalangan warga Nahdliyin, khususnya menjelang agenda Muktamar ke-35 NU.
Menurut Adi, Gus Yusuf dinilai memiliki kombinasi pengalaman organisasi, kapasitas keilmuan, serta kedekatan dengan dunia pesantren. Faktor tersebut dianggap penting karena NU merupakan organisasi yang memiliki basis kuat di lingkungan pesantren dan masyarakat akar rumput.
“Kami melihat Gus Yusuf sebagai figur yang mampu menjembatani berbagai kalangan di NU. Beliau dekat dengan generasi muda, tetapi juga memiliki hubungan baik dengan para masyayikh dan tokoh pesantren,” ujarnya, Senin (22/6).
Selain dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Gus Yusuf selama ini aktif dalam berbagai kegiatan keumatan dan penguatan organisasi. Kehadirannya dalam sejumlah forum nasional maupun regional membuat namanya semakin dikenal di kalangan warga Nahdliyin.
Dalam diskusi tersebut, peserta rembug nasional menilai NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi fondasi organisasi.
Tantangan yang dihadapi NU saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan keagamaan. Perubahan sosial, perkembangan teknologi digital, dinamika ekonomi, hingga kebutuhan pemberdayaan generasi muda juga menjadi perhatian yang harus dijawab oleh kepemimpinan organisasi ke depan.
Salah satu pemantik diskusi, Hudalloh, menegaskan bahwa dukungan kepada Gus Yusuf merupakan aspirasi moral dari kalangan muda Nahdliyin. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk menciptakan kelompok-kelompok yang saling berhadapan menjelang muktamar.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam proses pemilihan merupakan hal yang wajar. Namun seluruh proses harus tetap berada dalam semangat musyawarah dan persaudaraan yang selama ini menjadi tradisi Nahdlatul Ulama.
“Kami tidak sedang membangun polarisasi. Kami hanya menyampaikan harapan agar PBNU ke depan dipimpin sosok yang mampu menjaga tradisi, memperkuat kaderisasi, dan menghadirkan pembaruan organisasi sesuai kebutuhan zaman,” katanya.
KMN juga berharap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU berlangsung damai dan bermartabat. Mereka menginginkan forum tertinggi organisasi tersebut dapat menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi warga NU dan masyarakat Indonesia secara luas.
Selain itu, KMN meminta panitia pelaksana muktamar menjaga prinsip keadilan dan keterbukaan dalam seluruh tahapan pelaksanaan. Mereka berharap tidak ada perlakuan berbeda terhadap peserta maupun kelompok tertentu yang terlibat dalam proses muktamar.
Dalam pernyataannya, KMN juga menyoroti pentingnya menjaga marwah para ulama yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Menurut mereka, para masyayikh harus tetap mendapatkan ruang dan penghormatan sebagaimana tradisi yang selama ini hidup di tubuh Nahdlatul Ulama.
Di sisi lain, kelompok pemuda Nahdliyin tersebut juga memberikan perhatian terhadap pengembangan tata kelola organisasi berbasis digital. Sebagai komunitas yang banyak diisi generasi Z dan Alpha, mereka menilai transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
KMN mengapresiasi penerapan sistem Digdaya yang mulai digunakan sebagai bagian dari digitalisasi organisasi. Namun mereka mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tetap digunakan sesuai fungsi organisasi dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, berbagai aspirasi dari warga Nahdliyin diperkirakan akan terus berkembang. Nama-nama yang dianggap memiliki kapasitas memimpin PBNU pun mulai diperbincangkan di berbagai forum. Di antara nama yang mengemuka, Gus Yusuf menjadi salah satu figur yang kini mendapat dukungan dari kalangan muda Nahdliyin melalui forum nasional yang digelar di Kediri tersebut.
Pewarta : Slamet
Editor : Riyadi






