KENDAL, Wawasannews.com – Hambatan logistik akibat keterbatasan kapasitas Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mulai menjadi perhatian serius pelaku industri di Kabupaten Kendal. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kelancaran produksi sekaligus menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Sejumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan industri Jawa Tengah mengeluhkan antrean kapal yang semakin panjang dalam beberapa tahun terakhir. Kapal pengangkut bahan baku maupun produk ekspor disebut harus menunggu hingga lima sampai tujuh hari sebelum dapat bersandar.
Presiden Direktur PT BTR, Wu Lei, mengatakan keterlambatan tersebut berdampak langsung pada proses produksi baterai litium-ion untuk kendaraan listrik.
Menurutnya, bahan baku grafit anoda yang dikirim dari Sulawesi menggunakan kapal curah kerap mengalami penundaan akibat antrean di pelabuhan.
“Bahan baku ini sangat kami butuhkan untuk produksi. Ketika kapal harus menunggu lama, proses produksi juga ikut terdampak,” ujarnya, Rabu (29/4).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berbeda dibanding dua hingga tiga tahun lalu ketika kapal masih dapat bersandar lebih cepat. Saat ini, meningkatnya aktivitas ekspor-impor membuat kapasitas pelabuhan dinilai semakin terbatas.
PT BTR sendiri saat ini mengekspor sekitar 600 kontainer per bulan. Jika distribusi berjalan lebih efisien, volume ekspor perusahaan diproyeksikan dapat meningkat hingga 800 kontainer per bulan.
Keluhan serupa juga disampaikan Executive Vice President PT Matahari Tire Indonesia, Wu Yuejun. Menurutnya, antrean kapal hingga satu pekan turut memengaruhi ketersediaan bahan baku yang didatangkan dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Vietnam.
Perusahaan tersebut saat ini mempekerjakan sekitar 3.600 karyawan dan melakukan ekspor sekitar 1.000 kontainer per bulan ke pasar internasional seperti Amerika dan Brasil.
Sementara itu, General Manager Polygroup Manufaktur Indonesia, Nicholas Lau, menilai tantangan logistik menjadi salah satu perhatian utama investor.
Ia menyebut hambatan tidak hanya terjadi di pelabuhan, tetapi juga diperburuk oleh pembatasan operasional truk di sejumlah jalur distribusi.
“Investor tentu melihat efisiensi rantai pasok. Jika hambatan logistik tidak segera diatasi, kekhawatiran terhadap kelancaran operasional akan semakin besar,” katanya.
Nicholas menambahkan, perusahaannya saat ini mengirim sekitar 1.000 kontainer per bulan dengan target peningkatan hingga 3.000 kontainer pada masa mendatang.
Pelaku industri berharap ada penguatan infrastruktur logistik dan optimalisasi kapasitas pelabuhan agar pertumbuhan investasi di Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Kendal, dapat terus terjaga.
Pewarta : Zidnal
Editor : Riyadi









