OPINI, Wawasannews.com – Sebuah penelitian dari Universitas Colorado Anschutz, Amerika Serikat, menemukan bahwa stres yang dialami ayah sebelum pembuahan dapat memengaruhi perkembangan awal anak.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal iScience dan dilaporkan melalui Neuroscience News, Rabu (27/5/2026).
Hasil riset menunjukkan stres berkepanjangan pada ayah dapat memicu perubahan biologis dalam sperma yang kemudian memengaruhi pertumbuhan anak sejak tahap awal perkembangan embrio.
Para peneliti menemukan adanya peningkatan molekul kecil bernama let-7f-5p pada sperma pria yang mengalami stres.
Molekul tersebut termasuk RNA non-coding kecil yang responsif terhadap tekanan psikologis.
Menurut para ilmuwan, molekul ini bukan mengubah DNA, tetapi membawa sinyal biologis yang dapat memengaruhi perkembangan embrio.
Penelitian dilakukan menggunakan tikus untuk melihat dampak biologis tersebut.
Dalam percobaan itu, peneliti meningkatkan kadar molekul let-7f-5p pada sel telur yang telah dibuahi agar menyerupai kondisi stres pada ayah.
Hasilnya, anak tikus jantan yang terpapar molekul lebih tinggi tumbuh lebih besar dan memiliki tulang lebih panjang meski pola makannya normal.
Penulis utama penelitian, Tracy Bale, mengatakan sperma ternyata tidak hanya membawa informasi genetik dari ayah.
Menurutnya, sperma juga dapat membawa sinyal biologis yang dipengaruhi pengalaman hidup seseorang, termasuk stres.
“Mereka membawa informasi tentang pengalaman seorang ayah yang dapat membentuk perkembangan awal dan kesehatan jangka panjang,” ujar Bale.
Ia menjelaskan stres berkepanjangan bisa muncul dari berbagai kondisi kehidupan sehari-hari.
Mulai dari merawat anggota keluarga yang sakit, tekanan pekerjaan, hingga masalah keuangan.
Kondisi tersebut disebut dapat meningkatkan kadar molekul tertentu dalam sperma.
Molekul itu kemudian diduga memengaruhi pengaturan pertumbuhan tubuh anak sebelum lahir.
Bale menggambarkan pengaruh stres ayah terhadap anak seperti proses diam-diam yang baru terlihat dampaknya di kemudian hari.
Sementara itu, Ketua Departemen Psikiatri Universitas Colorado Anschutz, Neill Epperson, mengatakan penelitian ini memperkuat bukti bahwa kondisi biologis sebelum pembuahan dapat berubah mengikuti pengalaman hidup seseorang.
Karena itu, pengalaman emosional dan tekanan mental dinilai bisa berdampak pada perkembangan awal keturunan.
Para peneliti juga menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik dan mental sebelum merencanakan kehamilan.
Mengelola stres, menjaga pola makan, tidur cukup, dan mendapat dukungan emosional disebut dapat membantu menciptakan kondisi biologis yang lebih sehat.
Penelitian ini juga membuka pemahaman baru bahwa kesehatan calon ayah sama pentingnya dalam proses tumbuh kembang anak.
Bagi masyarakat Indonesia, termasuk di Jawa Tengah dan Kabupaten Kendal, hasil penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa tekanan hidup dan stres berkepanjangan dapat berdampak lebih luas terhadap keluarga.
Karena itu, menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup dinilai penting, bukan hanya bagi ibu, tetapi juga calon ayah sebelum memiliki anak. (red)






