Semarang, wawasannews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) sukses menyelenggarakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM TM) pada 27–28 Juni 2026. Mengusung tema “Manifesto Nalar Kritis: Kepemimpinan Mahasiswa Berbasis Aswaja dalam Menavigasi Krisis Geopolitik dan Disrupsi Global”, kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas kepemimpinan sekaligus pembentukan nalar kritis mahasiswa dalam menghadapi tantangan nasional maupun global.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti oleh 35 peserta yang merupakan delegasi organisasi kemahasiswaan dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Wahid Hasyim. Menariknya, LKMM TM tahun ini juga diikuti oleh *dua peserta dari luar universitas, menunjukkan bahwa pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan BEM Unwahas mendapat perhatian dari mahasiswa lintas perguruan tinggi.
Menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten di bidang kepemimpinan, organisasi, geopolitik, hingga ke-Aswaja-an, LKMM TM dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan manajerial mahasiswa, tetapi juga membentuk karakter pemimpin yang mampu berpikir kritis, strategis, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Dalam sambutannya, Presiden BEM Universitas Wahid Hasyim menegaskan bahwa gerakan mahasiswa pada era saat ini harus dibangun di atas fondasi intelektual yang kuat, bukan sekadar respons spontan terhadap suatu persoalan.
“Mahasiswa hari ini perlu kembali menguatkan nalar kritisnya. Gerakan mahasiswa tidak boleh hanya berhenti pada aksi yang bersifat reaktif, tetapi harus diawali dengan advokasi, kajian, riset, dan diskusi yang mendalam. Perubahan tidak dapat diwujudkan secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang untuk merumuskan arah yang lebih baik bagi Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah (Aswaja), Universitas Wahid Hasyim memiliki tanggung jawab untuk melahirkan kader pemimpin yang tidak hanya kritis dalam berpikir, tetapi juga bijaksana dalam bertindak.
“Aswaja bukan hanya identitas, tetapi merupakan manhaj al-fikr atau metode berpikir. Karena itu, kami menghadirkan materi Aswaja sebagai Manhaj Al-Fikr agar mahasiswa memiliki cara pandang yang moderat, objektif, dan mampu menyikapi berbagai persoalan secara komprehensif sesuai prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” tambahnya.
Selama pelaksanaan LKMM TM, peserta mengikuti berbagai sesi materi, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi kepemimpinan, hingga forum refleksi yang dirancang untuk mengasah kemampuan analisis serta pengambilan keputusan. Tema mengenai krisis geopolitik dan disrupsi global menjadi salah satu pembahasan utama agar mahasiswa mampu memahami perubahan dunia yang berdampak langsung terhadap kehidupan sosial, ekonomi, politik, maupun pendidikan di Indonesia.
Selain penyampaian materi, panitia juga memberikan fasilitas yang mendukung kenyamanan peserta sehingga proses pembelajaran berlangsung secara optimal. Suasana kegiatan yang interaktif membuat peserta tetap antusias mengikuti setiap sesi hingga akhir acara.
Salah satu peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti LKMM TM.
“Saya sangat puas dengan materi yang diberikan. Seluruh pemateri menyampaikan materi dengan sangat baik, mudah dipahami, dan relevan dengan tantangan mahasiswa saat ini. Ditambah lagi fasilitas yang memadai membuat kami merasa nyaman mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai sehingga tidak merasa bosan,” ungkap salah satu peserta LKMM TM.
Kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat sinergi antarlembaga kemahasiswaan di lingkungan Universitas Wahid Hasyim. Delegasi dari berbagai organisasi mahasiswa saling bertukar pengalaman, membangun jejaring, serta menyusun gagasan kolaboratif untuk menghadirkan gerakan mahasiswa yang lebih progresif, solutif, dan berlandaskan nilai-nilai Aswaja.
Melalui penyelenggaraan LKMM TM 2026, BEM Universitas Wahid Hasyim berharap lahir generasi pemimpin mahasiswa yang memiliki integritas, kecakapan intelektual, kemampuan manajerial, serta nalar kritis yang kuat. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Aswaja sebagai manhaj al-fikr, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya vokal dalam menyampaikan aspirasi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara di tengah dinamika geopolitik serta disrupsi global yang terus berkembang.






