KENDAL, Wawasannews.com – Laut Utara Kendal dipenuhi iring-iringan perahu nelayan saat tradisi Sedekah Laut digelar di Dukuh Birusari, Kelurahan Kalibuntu Wetan, Kecamatan Kendal, Minggu (28/6). Lebih dari 200 perahu mengikuti prosesi tahunan yang menjadi wujud syukur atas rezeki hasil laut sekaligus doa memohon keselamatan bagi para nelayan.
Sejak pagi, ratusan nelayan bersama istri dan anak-anak mereka telah memadati perahu masing-masing. Mereka membawa sesaji menuju tengah laut untuk dilarung. Iring-iringan ratusan perahu membentuk pemandangan unik di perairan Laut Utara Kendal.
Tradisi yang rutin digelar setiap Bulan Muharam tersebut tidak hanya diisi prosesi larung sesaji. Di atas perahu, keluarga nelayan juga menggelar kenduri sederhana dengan membawa berbagai hidangan dari rumah, seperti ingkung ayam, aneka sayuran, dan buah-buahan.
Sebelum menikmati hidangan, seluruh keluarga memanjatkan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan harapan agar para nelayan selalu diberikan keselamatan, cuaca yang bersahabat, serta hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Pemilik Perahu Al-Ghazali, Sudarmaji, warga Desa Korowelanganyar, Kecamatan Cepiring, mengatakan Sedekah Laut menjadi tradisi yang selalu dinantikan para nelayan setiap tahunnya.
“Sedekah Laut ini bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan. Kami juga berdoa semoga seluruh nelayan diberi keselamatan saat melaut, hasil tangkapan semakin melimpah, dan cuaca bersahabat sehingga kami bisa mencari nafkah dengan tenang,” ujarnya.
Ia mengakui kehidupan nelayan tradisional saat ini semakin berat. Selain hasil tangkapan yang bergantung pada kondisi cuaca, nelayan juga masih menghadapi kendala dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk operasional melaut.
“Sekarang melaut semakin berat. Cuaca sering tidak menentu, hasil ikan kadang sedikit, ditambah solar subsidi juga sulit didapat. Karena itu kami hanya bisa berikhtiar dan berdoa lewat Sedekah Laut ini,” katanya.
Prosesi Sedekah Laut juga menghadirkan suasana haru bagi keluarga nelayan. Banyak istri dan anak yang ikut berlayar hingga ke tengah laut sehingga dapat merasakan langsung besarnya ombak yang setiap hari dihadapi para pencari ikan.
Salah seorang anggota keluarga nelayan, Susiati, mengaku baru memahami beratnya perjuangan suaminya setelah ikut dalam iring-iringan tersebut.
“Kalau ikut sampai ke tengah laut rasanya campur aduk. Baru merasakan sendiri besarnya ombak yang setiap hari dihadapi suami. Kadang tidak terasa air mata keluar. Kami hanya bisa terus mendoakan supaya mereka selalu selamat dan pulang membawa rezeki,” tuturnya.
Selain prosesi di laut, para nelayan Birusari secara swadaya menggelar hiburan rakyat berupa kesenian Barongan di lapangan setempat. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus menghibur masyarakat.
Momentum Sedekah Laut juga dimanfaatkan warga untuk membuka lapak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ratusan pengunjung memadati kawasan Birusari untuk menyaksikan rangkaian acara sekaligus berburu aneka kuliner dan jajanan.
Warga setempat, Saifudin, menilai Sedekah Laut telah menjadi identitas masyarakat pesisir Birusari karena mampu menjaga tradisi sekaligus menggerakkan perekonomian warga.
“Sedekah Laut bukan sekadar tradisi. Ini sudah menjadi identitas masyarakat pesisir Birusari. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga menghidupkan kampung karena banyak warga berjualan dan banyak pengunjung yang datang setiap tahun,” katanya.
Dukuh Birusari merupakan salah satu kampung nelayan terbesar di pesisir Kabupaten Kendal. Tercatat terdapat lebih dari 1.000 nelayan dengan sekitar 260 perahu yang beroperasi dari kawasan tersebut. Tradisi Sedekah Laut rutin dilaksanakan setiap Bulan Muharam sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa agar para nelayan senantiasa diberi keselamatan dan rezeki yang melimpah. (red)






