KENDAL, Wawasannews.com – Ancaman banjir rob di wilayah Kabupaten Kendal diperkirakan akan terus meluas dalam beberapa tahun ke depan. Jika tidak ditangani secara menyeluruh, genangan air laut diprediksi dapat menjangkau kawasan Alun-alun Kendal pada dekade 2030-an.
Perkiraan tersebut disampaikan tokoh pelestari lingkungan Kendal, Wasito. Menurutnya, kondisi pesisir Kendal terus mengalami perubahan akibat abrasi, penurunan muka tanah, serta perkembangan kawasan industri yang cukup pesat. Ketiga faktor itu dinilai ikut mempercepat meluasnya wilayah yang terdampak rob.
“Kalau prediksi saya di tahun 2030-an itu rob mencapai Alun-alun Kendal,” ujarnya belum lama ini.
Prediksi tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian yang dilakukan akademisi menunjukkan wilayah pesisir utara Kabupaten Kendal memang mengalami penurunan muka tanah dari tahun ke tahun.
Penelitian yang dilakukan B. Fadhlurrohman, Yoga Prasetyo, dan Nurhadi Bashit dari Universitas Diponegoro pada 2020 mencatat laju penurunan muka tanah di kawasan pesisir utara Kendal berkisar antara 2,8 hingga 3 sentimeter setiap tahun. Kondisi itu menjadi salah satu penyebab meningkatnya kerentanan wilayah pesisir terhadap banjir rob.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian Lutfiyatul Kamilan pada 2025. Hasil penelitian tersebut menunjukkan laju penurunan muka tanah di Kabupaten Kendal berada pada kisaran 0,79 hingga 5,53 sentimeter per tahun, dengan rata-rata mencapai 2,87 sentimeter setiap tahun.
Kawasan permukiman dan area industri tercatat sebagai wilayah yang mengalami penurunan muka tanah paling tinggi. Apabila kondisi itu terus berlangsung, dampaknya diperkirakan akan semakin luas dalam beberapa tahun mendatang.
Berdasarkan proyeksi penelitian tersebut, akumulasi penurunan muka tanah pada 2030 diperkirakan mencapai 14,36 sentimeter. Angka tersebut berpotensi memicu banjir rob dengan kedalaman hingga 138,23 sentimeter dan menggenangi sekitar 10,68 persen wilayah Kabupaten Kendal.
Wasito menilai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak rob adalah pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa. Namun menurutnya, keberadaan tanggul saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan banjir di kawasan pesisir.
Ia menjelaskan, sistem pendukung seperti kolam retensi dan pompa air tetap dibutuhkan agar air hujan yang berasal dari daratan bisa dialirkan ke laut. Tanpa sistem tersebut, genangan air tetap berpotensi terjadi meski tanggul telah dibangun.
“Rob bisa teratasi, tetapi air harus tetap punya saluran keluar. Karena itu perlu kolam retensi dan pompa,” jelasnya.
Selain terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan pesisir, Wasito mengaku selama hampir dua dekade terakhir aktif melakukan rehabilitasi lingkungan melalui penanaman mangrove.
Sejak 2006, lebih dari 248 ribu bibit mangrove telah ditanam di kawasan Pantai Utara Jawa. Kegiatan itu melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari warga pesisir, pelajar, mahasiswa hingga komunitas pecinta alam sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian kawasan pantai.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kendal memastikan pembangunan Giant Sea Wall telah masuk dalam program pemerintah pusat untuk penanganan rob di kawasan Pantai Utara Jawa.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo, mengatakan Kabupaten Kendal menjadi salah satu daerah yang masuk dalam rencana pembangunan tanggul laut raksasa bersama sejumlah daerah lain di Pantura.
Menurut Hudi, kepastian tersebut diperoleh setelah adanya rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.
“Berdasarkan hasil rapat bersama Menteri Agus Harimurti Yudhoyono, Kendal masuk rencana pembangunan tanggul raksasa atau Giant Sea Wall,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Kendal mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya warga pesisir. Sosialisasi tersebut berkaitan dengan rencana penataan ruang serta persiapan pelaksanaan program penanganan rob yang akan dilakukan secara bertahap.
Di sisi lain, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan proyek Giant Sea Wall direncanakan mulai memasuki tahap groundbreaking pada 2027. Kendal menjadi salah satu wilayah prioritas bersama Kota Semarang dan Kabupaten Demak dalam program penanganan rob di Pantai Utara Jawa.
“Kick off penanganan rob sudah dilakukan, dan groundbreaking direncanakan pada 2027,” ujar Bupati yang akrab disapa Tika.
Ia menambahkan, pembangunan Giant Sea Wall membutuhkan anggaran yang sangat besar sehingga pembiayaannya akan ditanggung oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, proyek tersebut tidak membebani APBD Kabupaten Kendal.
Pemkab Kendal berharap pembangunan tanggul laut raksasa beserta sistem pendukungnya dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mengurangi dampak banjir rob yang selama ini mengancam kawasan pesisir dan permukiman warga di Kabupaten Kendal.
Pewarta : Zidnal
Editor : Riyadi






