KENDAL, Wawasannews.com – Tradisi weh-wehan kembali menghidupkan suasana Kampung Pandean, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin (24/8/2026). Warga berbondong-bondong saling berbagi dan bertukar makanan dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Beragam makanan dibawa warga untuk ditukar dengan makanan milik tetangga. Mulai dari jajanan pasar, ketan, hingga sayuran. Namun, ada satu jenis bawaan yang mencuri perhatian, yakni ayam hidup.
Di Kampung Pandean, tepatnya di rumah tokoh masyarakat setempat, Nurul Mujib, turut memeriahkan weh-wehan dengan membagikan puluhan ayam hidup kepada warga. Selain ayam, keluarganya juga membagikan jajanan dan berbagai jenis sayuran.
Nurul Mujib yang juga anggota DPRD Kendal dari Fraksi PKB mengatakan, berbagi makanan dalam tradisi weh-wehan sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Kampung Pandean setiap tahun.
“Yang dibagikan ada jajanan, sayuran dan ayam hidup. Ayam yang kami bagikan ada puluhan,” ujar Nurul Mujib.
Kehadiran ayam hidup membuat tradisi weh-wehan semakin menarik, terutama bagi anak-anak dan remaja yang ikut bertukar makanan.
Nurul Mujib berharap tradisi tersebut terus dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, keterlibatan anak-anak dan remaja menjadi bagian penting agar tradisi weh-wehan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Ini tradisi setiap tahun. Kami berharap weh-wehan tetap dijaga dan terus dilestarikan,” ujarnya.
Salah satunya Quin (17). Remaja Kampung Pandean itu mengaku senang mendapatkan ayam hidup setelah menukarnya dengan ketan.
“Ayamnya ayam hidup. Senang banget. Tadi nukar dengan ketan. Iya, ini tradisi setiap tahun,” kata Quin.
Bagi Quin, mendapatkan ayam hidup dari weh-wehan tahun ini menjadi pengalaman yang membuat perayaan Maulid Nabi terasa semakin berkesan.
Begitu juga bagi warga Kampung Pandean lainnya, weh-wehan bukan sekadar kegiatan berbagi makanan. Tradisi tersebut menjadi kesempatan untuk saling bertemu dan mempererat hubungan antarwarga.
Warga yang datang membawa makanan dari rumah kemudian saling menukarnya. Tidak ada ketentuan khusus mengenai jenis makanan yang dibawa. Semua dilakukan secara sukarela sebagai bentuk berbagi rezeki dan kebersamaan.(Red)






