Hutan Mangrove Jadi Penyelamat Nelayan Maros saat Angin Barat Mengamuk

- Pewarta

Sabtu, 25 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawasan hutan mangrove yang kini memenuhi area seluas 12 hektar di Dusun Kure Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Istimewa/Wawasannews)

Kawasan hutan mangrove yang kini memenuhi area seluas 12 hektar di Dusun Kure Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Istimewa/Wawasannews)

Makasar, Wawasannews.com – Angin barat yang bertiup menjelang subuh kembali membawa kegelisahan bagi warga pesisir Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Hembusan angin yang semakin kencang membuat suasana pantai berubah. Atap rumah bergemuruh, sementara deretan perahu nelayan yang bersandar di bibir pantai mulai bergoyang diterpa angin.

Bagi sebagian orang, angin kencang mungkin hanya mengganggu waktu istirahat. Namun, bagi para nelayan di Kuri Caddi, kondisi itu menjadi pertanda bahwa mereka harus segera memastikan perahu tetap aman. Perahu bukan sekadar alat transportasi, melainkan sumber penghasilan yang menopang kehidupan keluarga.

Hal itu juga dirasakan Abdul Latif, nelayan kepiting rajungan yang telah lama menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Begitu mendengar angin bertiup semakin keras, ia langsung mengambil senter yang tergantung di tiang rumah. Tanpa menunggu lama, ia berjalan menuju pantai untuk melihat kondisi perahunya.

Kekhawatiran Latif ternyata beralasan. Angin yang berembus dari arah barat mengguncang perahu-perahu nelayan yang berjejer di sepanjang pesisir. Beberapa di antaranya roboh dan saling berbenturan karena tidak mampu menahan kuatnya terpaan angin.

Sesampainya di pantai, Latif memastikan perahunya masih berdiri dengan baik. Meski demikian, ia menyadari tidak banyak yang bisa dilakukan ketika angin sedang berada pada puncaknya. Nelayan hanya dapat memastikan perahu berada di tempat yang lebih aman sambil menunggu cuaca kembali bersahabat.

Bagi warga Kuri Caddi, pemandangan seperti itu bukan hal baru. Setiap musim angin muson datang, kekhawatiran yang sama selalu muncul. Ancaman terhadap perahu nelayan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir selama bertahun-tahun.

Latif mengaku kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan sekarang. Belasan tahun lalu, kawasan pesisir Kuri Caddi belum memiliki hutan mangrove yang tumbuh lebat. Saat itu, nelayan harus menghadapi langsung terjangan angin dan ombak tanpa perlindungan alami.

Keadaan mulai berubah setelah kawasan mangrove berkembang di sekitar pesisir. Pohon-pohon mangrove yang kini tumbuh rapat menjadi benteng alami yang mampu meredam terpaan angin sekaligus memberikan tempat berlindung bagi perahu nelayan.

“Kalau musim barat, kita lari ke sana, ke hutan mangrove, untuk berlindung. Semua perahu, sekitar 100 unit, dibawa masuk ke sana,” ujar Latif yang juga menjabat Ketua Kelompok Nelayan Kure Bete-betea.

Menurutnya, alur sungai yang berada di dalam kawasan mangrove kini menjadi lokasi paling aman untuk menyimpan perahu. Saat angin barat datang, hampir seluruh nelayan memindahkan perahu mereka ke kawasan tersebut agar terhindar dari terpaan ombak dan angin kencang.

Keberadaan mangrove memberi rasa tenang bagi masyarakat pesisir. Sekitar 100 perahu nelayan dapat berlindung di balik rapatnya vegetasi mangrove ketika cuaca memburuk. Cara itu jauh lebih aman dibandingkan membiarkan perahu tetap berada di garis pantai.

Manfaat mangrove tidak hanya dirasakan oleh para nelayan, tetapi juga sekitar 600 warga yang tinggal di Dusun Kuri Caddi. Bagi sekitar 200 kepala keluarga, keberadaan hutan mangrove ikut menjaga sumber penghasilan yang berasal dari aktivitas melaut.

Sebelum mangrove tumbuh seperti sekarang, kerusakan perahu menjadi persoalan yang hampir selalu muncul setiap musim penghujan. Perahu yang dihantam angin dan ombak umumnya hanya mampu bertahan sekitar empat tahun sebelum membutuhkan perbaikan.

Tidak sedikit pula perahu yang mengalami kerusakan lebih parah. Ada yang karam, tenggelam, bahkan tidak bisa digunakan lagi untuk melaut. Kondisi tersebut membuat nelayan harus mengeluarkan biaya tambahan agar bisa kembali bekerja.

Kerusakan perahu tentu berdampak langsung terhadap kehidupan keluarga nelayan. Ketika perahu tidak bisa digunakan, aktivitas melaut terhenti dan penghasilan ikut berkurang. Situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang bergantung pada hasil laut.

Kini kondisinya jauh lebih baik. Sekitar 20 jenis mangrove tumbuh di kawasan Kuri Caddi dan memberikan perlindungan alami bagi pesisir. Vegetasi tersebut membantu mengurangi dampak terpaan angin barat yang setiap tahun datang saat musim penghujan.

Perubahan itu juga dirasakan dari sisi ekonomi. Biaya perawatan dan perbaikan perahu dapat ditekan karena risiko kerusakan tidak sebesar sebelumnya. Nelayan pun memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan aktivitas melaut tanpa harus terus-menerus mengeluarkan biaya perbaikan.

Bagi masyarakat Kuri Caddi, hutan mangrove kini bukan sekadar deretan pohon di kawasan pesisir. Mangrove telah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Selain menjaga kawasan pantai, hutan tersebut ikut melindungi perahu, membantu nelayan tetap bekerja, dan menjaga keberlangsungan penghasilan ratusan keluarga yang menggantungkan hidup pada laut.

Kisah warga Kuri Caddi menunjukkan bahwa manfaat mangrove dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat pesisir. Benteng alami itu kini menjadi tempat berlindung ketika angin barat datang, sekaligus memberi rasa aman bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

PT Pupuk Indonesia dan Kementan Luncurkan Program Nature-Based Solution Agroforestry di Kendal
PDKN Gandeng Kementerian UMKM RI, Siapkan Program Kewirausahaan bagi Mahasiswa dan Alumni KIP Kuliah
Prabowo Saksikan Atraksi Polri dan Defile 6.000 Personel di HUT Ke-80 Bhayangkara
Dewi Avivah Tegaskan Perempuan sebagai Katalis Perubahan dan Pemimpin Peradaban
Globalizing KOPRI: SKKN IV 2026 Cetak Pemimpin Perempuan sebagai Katalis Ketahanan Pangan Berkelanjutan dan Transformasi Global
Tekan Stunting Lebih Cepat, Cak Imin Dukung MBG Fokus ke Ibu Hamil dan Balita
Jelang Muktamar NU, Kita Muda Nahdliyin Deklarasikan Dukungan untuk Gus Yusuf
Komnas HAM: Putusan MK soal Kuota 30 Persen Perempuan Perkuat Kesempatan Setara di Politik

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:10

Hutan Mangrove Jadi Penyelamat Nelayan Maros saat Angin Barat Mengamuk

Senin, 13 Juli 2026 - 19:03

PT Pupuk Indonesia dan Kementan Luncurkan Program Nature-Based Solution Agroforestry di Kendal

Senin, 6 Juli 2026 - 19:27

PDKN Gandeng Kementerian UMKM RI, Siapkan Program Kewirausahaan bagi Mahasiswa dan Alumni KIP Kuliah

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:40

Prabowo Saksikan Atraksi Polri dan Defile 6.000 Personel di HUT Ke-80 Bhayangkara

Selasa, 30 Juni 2026 - 16:09

Dewi Avivah Tegaskan Perempuan sebagai Katalis Perubahan dan Pemimpin Peradaban

Berita Terbaru