JAKARTA, Wawasannews.com — Dewan Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (DPP PERBASI) memanggil panitia penyelenggara Campus League Basketball Regional Jakarta setelah insiden cedera yang terjadi pada laga semifinal di Basketball Court Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten.
Pemanggilan dilakukan untuk meminta penjelasan langsung dari panitia terkait kejadian yang menimpa salah satu atlet saat pertandingan berlangsung.
Insiden itu terjadi dalam laga semifinal antara Institut Perbanas Jakarta melawan Bina Nusantara pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Saat pertandingan berlangsung, seorang pemain Perbanas terjatuh ketika berebut bola. Dalam momen itu, ia kemudian tertimpa pemain Binus dan kepalanya membentur permukaan lapangan.
Benturan tersebut mengenai bagian pelipis. Dari hasil pemeriksaan medis, pemain itu dilaporkan mengalami retak pada pelipis.
Sekretaris Jenderal DPP PERBASI Nirmala Dewi mengatakan pihaknya langsung meminta keterangan dari penyelenggara karena keselamatan atlet menjadi perhatian utama.
Menurut dia, setiap kompetisi harus memberikan rasa aman kepada pemain saat berada di lapangan.
“Kami memanggil panitia pelaksana Campus League Basketball Regional Jakarta untuk memberikan penjelasan atas kejadian tersebut. Kami berkomitmen memberikan rasa aman dan nyaman bagi atlet selama bertanding,” kata Nirmala dalam keterangannya, Minggu.
Rapat dilakukan secara daring pada Minggu, 31 Mei 2026.
Pertemuan itu dipimpin langsung Nirmala Dewi.
Sejumlah pengurus DPP PERBASI juga ikut hadir, di antaranya Wakil Ketua Umum Bidang SDM Christopher Tanuwidjaja, Wakil Ketua Umum Zona Jawa Grace Evi Ekawati, Technical Delegate Abdul Rozak, serta jajaran pengurus lainnya.
Dari pihak Campus League, rapat dihadiri CEO Ryan Gozali bersama Head of Competition and Talent Development Dave Leopold.
Dalam pertemuan itu, PERBASI menyampaikan keprihatinan atas insiden yang menimpa atlet tersebut.
Meski begitu, organisasi basket nasional itu tetap mengapresiasi penanganan cepat yang dilakukan panitia di lokasi.
Menurut Nirmala, atlet yang mengalami cedera langsung mendapat pelayanan medis dan dibawa ke rumah sakit.
“DPP PERBASI mengapresiasi langkah cepat panitia yang langsung memberikan pelayanan maksimal untuk atlet yang mengalami cedera dengan fasilitas VIP dalam perawatan di rumah sakit,” ujarnya.
Selain membahas kejadian di lapangan, PERBASI juga mengingatkan pentingnya komunikasi antara panitia kompetisi dan pengurus basket di daerah.
Menurut Nirmala, meski sebuah event sudah mendapat rekomendasi dari DPP PERBASI, koordinasi dengan pengurus wilayah tetap perlu dilakukan agar pelaksanaan berjalan lancar.
Sementara itu, CEO Campus League Ryan Gozali menyambut baik pemanggilan tersebut dan menyampaikan penjelasan soal kondisi arena pertandingan yang sempat menjadi perhatian.
Ryan membantah anggapan bahwa lapangan di UPH menggunakan beton tanpa lapisan pelindung.
Ia menegaskan permukaan lapangan memakai Plexipave Cushion System, yaitu lapisan peredam benturan yang umum dipakai di fasilitas olahraga internasional.
“Kualitas permukaan lapangan dilapisi menggunakan Plexipave Cushion System. Jadi tidak benar jika permukaan lapangan beton murni,” kata Ryan. (Dilansir dari antaranews)
Ia menjelaskan lapangan tersebut melewati enam tahap pelapisan sebelum digunakan.
Tahapan itu meliputi lapisan dasar, leveling polymer, rubber silica compound, acrylic sealer hingga top coat.
Seluruh proses itu disebut dirancang untuk memberi kenyamanan dan mengurangi risiko benturan bagi atlet.
Ryan juga menyebut sebelum pertandingan digelar, pihak Campus League telah berkoordinasi dengan technical delegate dari DPP PERBASI dan pihak Universitas Pelita Harapan untuk memastikan kelayakan venue.
Terkait penanganan korban, Ryan mengatakan pihak panitia juga mengikuti keinginan keluarga atlet mengenai lokasi perawatan.
Setelah berdiskusi dengan orang tua pemain, panitia memutuskan membawa atlet ke rumah sakit yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal keluarga.
Seluruh biaya perawatan, kata dia, ditanggung panitia.
“Setelah berdiskusi dengan orang tua, kami mengikuti keinginan mereka agar anaknya dirawat di rumah sakit dekat tempat tinggalnya. Semua perawatan kami tanggung dengan fasilitas VIP,” ujar Ryan.
Campus League sendiri menegaskan kompetisi basket antar kampus tetap diarahkan untuk berkembang di lingkungan perguruan tinggi.
Selain menghadirkan pertandingan, ajang tersebut juga mendorong kampus memiliki fasilitas olahraga yang layak dan mendukung siaran pertandingan.
Sebelumnya, Campus League telah digelar di sejumlah kampus di berbagai daerah.
Di antaranya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Surabaya, hingga Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Insiden di semifinal Regional Jakarta kini menjadi perhatian panitia dan pengurus basket nasional.
Evaluasi dilakukan agar pertandingan berikutnya tetap berjalan aman dan atlet dapat bermain dengan nyaman.






