Tragedi di Sungai Batang Paparian, Pencari Lokan di Pasaman Barat Tewas Diterkam Buaya

- Pewarta

Rabu, 20 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim gabungan Basarnas Pasaman saat menemukan dan mengevakuasi korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di Sungai Batang Paparian Kecamatan Parik Koto Balingka, Rabu (20/5/2026). (Istimewa/Wawasannews)

Tim gabungan Basarnas Pasaman saat menemukan dan mengevakuasi korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di Sungai Batang Paparian Kecamatan Parik Koto Balingka, Rabu (20/5/2026). (Istimewa/Wawasannews)

PASAMAN BARAT, Wawasannews.com – Suasana pencarian lokan di Sungai Batang Paparian, Kecamatan Parik Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat, berubah mencekam setelah seorang warga bernama Darwin (61) diterkam buaya saat berada di sungai, Selasa (19/5) sore.

Korban sebelumnya pergi bersama seorang rekannya untuk mencari lokan, sejenis kerang sungai yang biasa diambil warga di kawasan tersebut. Aktivitas itu sudah lama menjadi pekerjaan sampingan masyarakat sekitar sungai.

Namun sekitar pukul 15.00 WIB, situasi tiba-tiba berubah panik. Saat berada di aliran sungai, korban mendadak diserang seekor buaya. Rekan korban yang berada tidak jauh dari lokasi langsung berusaha menyelamatkan diri. (Dikutip dari antaranews)

Koordinator Pos SAR Pasaman, Novi Yurandi, mengatakan saksi yang selamat segera memberitahukan kejadian itu kepada warga sekitar. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada petugas gabungan untuk dilakukan pencarian.

“Korban diterkam saat mencari lokan bersama temannya. Temannya berhasil selamat lalu melapor ke masyarakat,” kata Novi Yurandi, Rabu (20/5).

Tidak lama setelah laporan diterima, tim gabungan dari Basarnas Pasaman, BPBD, TNI AL, Polri, serta masyarakat langsung bergerak menuju lokasi kejadian. Pencarian dilakukan dengan menyisir area sungai menggunakan perlengkapan SAR air.

Petugas juga memantau titik-titik yang diduga menjadi lokasi buaya muncul. Warga sekitar ikut membantu pencarian dari tepi sungai sambil menggunakan penerangan seadanya.

Pencarian berlangsung hingga malam hari. Namun kondisi cuaca yang memburuk membuat proses evakuasi tidak bisa dilanjutkan.

“Hingga pukul 19.30 WIB pencarian masih dilakukan. Karena cuaca tidak memungkinkan, operasi dilanjutkan keesokan paginya,” ujarnya.

Rabu pagi, tim kembali menyisir Sungai Batang Paparian sejak sekitar pukul 07.30 WIB. Proses pencarian dilakukan lebih luas dari titik awal korban diterkam.

Selain menggunakan perahu dan perlengkapan SAR air, petugas juga menurunkan drone untuk memantau area sungai dari udara. Ambulans dan motor trail disiagakan untuk mendukung proses evakuasi.

Sekitar pukul 08.00 WIB, korban akhirnya ditemukan sekitar 20 meter dari lokasi awal kejadian. Saat ditemukan, kondisi korban sudah meninggal dunia.

Penemuan korban membuat suasana di lokasi berubah haru. Warga yang sejak pagi ikut membantu pencarian tampak berkumpul di sekitar tepi sungai saat jasad korban dievakuasi.

“Korban langsung kami evakuasi ke rumah duka,” kata Novi.

Pihak keluarga kemudian membawa jenazah korban untuk dimakamkan. Sejumlah warga juga terlihat mendatangi rumah duka setelah kabar penemuan korban tersebar.

Kawasan Sungai Batang Paparian sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih memiliki populasi buaya liar. Meski warga sudah terbiasa beraktivitas di sekitar sungai, ancaman satwa liar masih sering menjadi kekhawatiran.

Sebagian warga tetap memanfaatkan sungai untuk mencari ikan, lokan, hingga kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu membuat aktivitas masyarakat bersentuhan langsung dengan habitat buaya.

Basarnas mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai, terutama di wilayah yang diketahui rawan kemunculan buaya.

Petugas meminta warga tidak turun sendirian ke sungai dan tetap memperhatikan kondisi sekitar saat mencari ikan atau lokan. Kewaspadaan dinilai penting untuk mengurangi risiko serangan satwa liar.

Peristiwa ini menambah daftar kasus serangan buaya terhadap warga yang terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir. Selain faktor habitat yang berdekatan dengan permukiman, aktivitas masyarakat di sungai juga dinilai meningkatkan risiko pertemuan dengan predator tersebut.

Meski demikian, hingga kini sungai masih menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga di kawasan Pasaman Barat. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gandeng Investor Singapura-India, Muhammadiyah Bangun Pabrik Obat Rp150 Miliar di Kendal
Polemik Perangkat Desa Kedunggading Potong Kabel Pengeras Suara Masjid Jadi Perhatian Kejari Kendal
Kerap Bolak-balik karena Berkas Belum Lengkap, Warga Kendal Kini Bisa Cek Syarat PBG dan SLF Online
Seragam PDU Baru TNI Diperkenalkan di HUT ke-81, Bawa Filosofi Beskap dan Kearifan Lokal
HUT ke-81 TNI, Ketua DPRD Kendal Mahfud Sodiq: TNI Penjaga Rakyat, DPRD Siap Bersinergi Kawal Pembangunan
HUT TNI ke-81, Kapolres Kendal Dorong Soliditas TNI-Polri Jaga Kamtibmas
Rogoh Rp340,86 Miliar, Jababeka Caplok 51 Persen Saham Kawasan Industri Seafer Kendal, Siapkan Pengembangan 500 Hektare
Gara-gara Tantangan Medsos, Pelajar di Kendal Terlibat Tawuran hingga Berujung Proses Hukum

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:54

Gandeng Investor Singapura-India, Muhammadiyah Bangun Pabrik Obat Rp150 Miliar di Kendal

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:40

Polemik Perangkat Desa Kedunggading Potong Kabel Pengeras Suara Masjid Jadi Perhatian Kejari Kendal

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:38

Kerap Bolak-balik karena Berkas Belum Lengkap, Warga Kendal Kini Bisa Cek Syarat PBG dan SLF Online

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:32

Seragam PDU Baru TNI Diperkenalkan di HUT ke-81, Bawa Filosofi Beskap dan Kearifan Lokal

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:53

HUT TNI ke-81, Kapolres Kendal Dorong Soliditas TNI-Polri Jaga Kamtibmas

Berita Terbaru

Secret Link