JAKARTA, Wawasannews.com – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menargetkan jumlah entitas usaha di lingkungan PLN Group berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Dari saat ini berjumlah 44 entitas, jumlah tersebut ditargetkan menjadi 23 entitas pada 2028.
Target tersebut disampaikan Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, dalam pembahasan bersama jajaran direksi PLN. Selain membicarakan restrukturisasi perusahaan, pertemuan itu juga membahas perkembangan proyek ketenagalistrikan nasional hingga langkah penguatan sistem pascagangguan yang sempat terjadi di Sumatera.
Dony menilai transformasi di tubuh PLN perlu terus dipercepat agar perusahaan listrik milik negara itu dapat bergerak lebih efektif dalam menghadapi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
Menurutnya, penyederhanaan struktur usaha menjadi salah satu pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam beberapa tahun ke depan. Melalui program perampingan tersebut, PLN diharapkan memiliki struktur bisnis yang lebih sederhana, fokus, dan mudah dikelola.
Program penyederhanaan itu akan dilakukan melalui berbagai skema. Mulai dari konsolidasi perusahaan, divestasi, restrukturisasi portofolio bisnis hingga penataan kembali struktur usaha yang saat ini berada di bawah PLN Group.
Dengan jumlah entitas yang lebih sedikit, proses pengambilan keputusan diharapkan menjadi lebih cepat. Selain itu, pengelolaan operasional perusahaan juga diharapkan lebih efisien dibandingkan kondisi saat ini yang melibatkan puluhan entitas usaha.
Perampingan tersebut bukan hanya menyangkut aspek administrasi perusahaan. Langkah itu juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola korporasi sehingga pengawasan dan pengendalian bisnis dapat dilakukan lebih optimal.
Dalam kesempatan yang sama, PLN juga memaparkan perkembangan pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Program tersebut merupakan peta jalan pembangunan sektor ketenagalistrikan nasional dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.
Direksi PLN melaporkan bahwa pelaksanaan sejumlah proyek yang masuk dalam RUPTL terus berjalan. Dari total proyek yang telah direncanakan, sekitar 1.634 proyek atau hampir 40 persen sudah memasuki tahap eksekusi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur kelistrikan di berbagai daerah terus berlangsung. Proyek yang dikerjakan mencakup pembangunan pembangkit listrik, jaringan transmisi, hingga gardu induk yang menjadi bagian penting dalam sistem distribusi energi nasional.
Kebutuhan terhadap infrastruktur ketenagalistrikan memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan kawasan industri, investasi baru, serta bertambahnya kebutuhan listrik rumah tangga menjadi faktor yang mendorong perlunya penambahan kapasitas dan penguatan jaringan.
Bagi daerah yang tengah berkembang seperti Kabupaten Kendal dan sejumlah kawasan industri di Jawa Tengah, keandalan pasokan listrik menjadi salah satu kebutuhan utama. Gangguan pasokan listrik dapat berdampak pada aktivitas produksi, distribusi barang hingga pelayanan publik.
Karena itu, pembangunan jaringan dan pembangkit baru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga ketersediaan energi di masa mendatang.
Selain membahas perkembangan proyek, pertemuan antara Danantara dan PLN juga menyoroti kondisi sistem kelistrikan di Sumatera. Evaluasi dilakukan setelah sebelumnya terjadi gangguan yang memengaruhi pasokan listrik di sejumlah wilayah.
PLN menyatakan terus melakukan berbagai langkah perbaikan untuk memperkuat sistem yang ada. Upaya tersebut dilakukan agar kejadian serupa dapat diminimalkan pada masa mendatang.
Beberapa proyek penguatan jaringan saat ini tengah disiapkan. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur backbone kelistrikan Sumatera yang akan menjadi tulang punggung distribusi energi di pulau tersebut.
Tak hanya itu, PLN juga menyiapkan pembangunan jaringan transmisi bertegangan tinggi 500 kilovolt (kV), 275 kV, dan 150 kV. Infrastruktur tersebut berperan penting dalam menyalurkan listrik dari pembangkit menuju pusat-pusat kebutuhan energi. (Dilansir dari antaranews)
Penambahan kapasitas pembangkit listrik di sejumlah wilayah juga masuk dalam agenda pengembangan yang sedang berjalan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan sistem sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
Menurut Dony, transformasi korporasi dan pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan. Struktur perusahaan yang lebih sederhana perlu didukung sistem kelistrikan yang kuat agar PLN mampu menjalankan perannya secara optimal.
Di sisi lain, kebutuhan listrik nasional diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya investasi dan aktivitas ekonomi. Karena itu, kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui program restrukturisasi perusahaan, pelaksanaan RUPTL, serta penguatan jaringan kelistrikan, PLN diharapkan dapat menjawab kebutuhan energi masyarakat dan dunia usaha dalam beberapa tahun mendatang. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi tantangan sektor energi yang terus berkembang. (Red)






