Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, satu nama dari lereng Merapi terus menguat, sosok kiai yang selama ini memilih jalan sunyi merawat pesantren, kini dipanggil untuk memimpin organisasi Islam terbesar di dunia.
NU di Persimpangan Jalan
Ada sebuah pertanyaan yang belakangan ini sering terdengar di warung-warung kopi, di serambi masjid, di grup-grup WhatsApp para nahdliyin, Forum NU, bahkan di forum-forum diskusi pesantren: “Mau dibawa ke mana NU ini?”
Pertanyaan itu bukan lahir dari kekosongan. Ia lahir dari kegelisahan nyata. Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan disebut-sebut sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, tengah berada di persimpangan yang tidak mudah. Di satu sisi, NU memasuki abad keduanya dengan segala warisan besar yang membanggakan. Di sisi lain, organisasi ini dihadapkan pada sejumlah persoalan internal yang tidak bisa lagi disimpan dalam lemari.
Konflik antara Ketua Umum dan Rais Aam yang populer disebut Genk Kramat versus Genk Sultan sempat menghiasi pemberitaan beberapa waktu lalu menjadi salah satu luka yang masih terasa. Belum lagi isu tambang yang menjadi gorengan netizen di dunia maya. PBNU yang seharusnya menjadi pengayom umat justru kerap terlihat lebih sibuk mengurus perseteruan di dalam. Para kiai di daerah ngelus dada dengan perseteruan yang tak kunjung selesai sehingga suara mereka tidak terdengar. Perbincangan di media sosial pun tak sedikit diisi cuitan mencemooh Jam’iyah ini. Pesantren-pesantren yang menjadi tulang punggung NU merasa kurang diperhatikan. Dan jutaan nahdliyin di akar rumput bertanya-tanya: “Apakah PBNU masih memikirkan umat?”
Survei Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) yang dirilis Maret 2026 menjadi cermin yang pahit namun jujur. Sebanyak 80 persen responden menyatakan tidak puas dengan kepemimpinan PBNU periode ini. Angka itu bukan kecil. Itu adalah suara mayoritas yang menginginkan perbaikan di tubuh NU.
Maka menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026, wajar jika publik nahdliyin berharap besar. Mereka tidak sekadar butuh nama baru. Mereka butuh karakter baru pemimpin yang akarnya dalam di tanah pesantren, yang tidak tergoda oleh gemerlap kekuasaan, yang tahu betul apa yang dibutuhkan oleh warga nahdliyin di seluruh tanah air.
Dan dari lereng Gunung Merapi, dari sebuah pesantren tua di Tegalrejo, Magelang, muncul satu nama yang semakin hari semakin kuat dibicarakan: KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf.
Dari Tegalrejo: Warisan yang Tidak Ringan
Untuk memahami siapa Gus Yusuf, kita harus terlebih dahulu memahami dari mana ia berasal. Dan asal muasalnya bukan sekadar tempat, namun ia adalah sebuah tradisi, sebuah genealogi keilmuan, sebuah amanah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo bukan pesantren sembarangan. Didirikan pada 15 September 1944 oleh KH Chudlori ayahanda Gus Yusuf, pesantren ini berdiri di tengah kobaran semangat perlawanan terhadap penjajahan. Nama “API” bukan hanya akronim. Bagi sang pendiri, nama itu adalah doa dan harapan agar para santri kelak menjadi penerang di tengah masyarakat, seperti api yang tidak padam diterpa angin zaman.
KH Chudlori sendiri adalah murid Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, di Pesantren Tebuireng Jombang. Jadi jika kita menarik garis sanad, Gus Yusuf adalah cucu spiritual dari lelaki yang mendirikan Nahdlatul Ulama itu sendiri. Ini bukan soal kebanggaan silsilah semata, ini soal kelanjutan tanggung jawab.
Pesantren yang bermula hanya dengan 8 santri pada awal berdirinya, tumbuh luar biasa. Pada 1977 sudah ada sekitar 1.500 santri. Dan hari ini, kompleks pesantren API Tegalrejo dihuni lebih dari 6.000 santri putra dan 4.000 santri putri, menjadikannya salah satu pesantren terbesar dan tertua di Jawa Tengah.
Salah satu alumni paling terkenal dari pesantren ini adalah KH Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur, yang kemudian menjadi Presiden keempat Republik Indonesia. Fakta ini bukan sekadar nostalgia. Ini membuktikan bahwa pesantren API Tegalrejo bukan sekadar tempat menghafal kitab kuning, ia adalah laboratorium kepemimpinan yang telah teruji oleh sejarah.
Gus Yusuf lahir pada 9 Juli 1973. Ia adalah salah satu dari sebelas putra-putri KH Chudlori. Ketika ayahandanya wafat pada 1977, tampuk kepemimpinan pesantren dipegang oleh kakak tertuanya, KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur). Setelah Mbah Dur meninggal pada 2011, tanggung jawab itu beralih ke pundak Gus Yusuf dan.
Tapi sebelum mewarisi amanah itu, Gus Yusuf terlebih dahulu menempuh perjalanan panjang sebagai seorang santri. Dari tahun 1985 hingga 1994, ia nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, di bawah asuhan KH Idris Marzuki. Lirboyo adalah salah satu pesantren paling bergengsi di Indonesia, tempat para kiai-kiai besar ditempa. Kemudian ia memperdalam ilmu di Pesantren Salafiyah Kedung Banteng Purwokerto, lalu di Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen.
Perjalanan itu membentuk Gus Yusuf menjadi seorang kiai yang tidak hanya kaya keilmuan, tetapi juga kaya pengalaman . Ia tahu betul rasanya menjadi santri yang jauh dari rumah, yang berjuang memahami kitab-kitab berbahasa Arab, yang belajar hidup sederhana dan disiplin. Dan pemahaman itu yang kemudian menjadi bekal utamanya dalam mengasuh dan mengembangkan pesantren.
Istiqomah di Jalan Sunyi
Di era ketika banyak kiai berlomba-lomba tampil di layar kaca dan mencari pengaruh lewat jabatan-jabatan politik, Gus Yusuf memilih jalan yang berbeda — jalan yang senyap, namun penuh makna. Walaupun beliau pernah aktif sebagai pimpinan partai politik, namun ia tak pernah tergiur untuk menduduki jabatan publik yang seharusnya sangat mudah untuk ia dapatkan atas privilege-nya.
Selama bertahun-tahun, ia konsisten hadir di tengah santrinya. Mengajar kitab kuning. Memimpin wirid. Menemui tamu dari berbagai pelosok negeri yang datang untuk sowan dan meminta doa. Ia mengelola radio komunitas Fast FM yang menyiarkan program-program keagamaan, kesehatan, dan kemasyarakatan untuk warga sekitar. Ia mendirikan dan mengelola komunitas kesenian tradisional di Kabupaten Magelang. Ia menjadi penasehat Komunitas Gerakan Anti Narkoba dan Zat Adiktif (KOMGANAZ). Dan setiap tahun, ia menggelar perhelatan seni budaya bertajuk Suran Tegalrejo, sebuah tradisi yang mempertemukan ribuan orang dalam kegembiraan budaya yang berakar pada nilai-nilai Islam Nusantara.
Ini bukan pekerjaan seorang politisi. Ini adalah pekerjaan seorang kiai tulen yang tahu bahwa pelayanan kepada umat tidak harus selalu berwujud jabatan dan sorotan kamera.
Memang, Gus Yusuf sempat aktif di dunia politik praktis. Ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak awal didirikannya bersama Gus Dur pada 1998. Ia memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang dari 1999 hingga 2007. Saat terjadi konflik internal PKB pada pada 2007, ia dipercaya menjabat sebagai pejabat sementara Ketua DPW PKB Jawa Tengah. Pada 2013, ia kembali menjabat sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
Namun yang kemudian menjadi perhatian publik nahdliyin adalah keputusannya yang sangat tak terduga menjelang Muktamar NU: Gus Yusuf memilih mundur dari struktur PKB. Sebuah keputusan yang oleh banyak kalangan dibaca sebagai sinyal serius bahwa ia ingin berkhidmah total di jalur organisasi NU tanpa beban kepentingan partai, tanpa tarik-menarik politik praktis.
KH Imam Jazuli, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Cendekia Cirebon, memberi penilaian tajam soal keputusan itu: “Keputusan Gus Yusuf keluar dari struktur PKB menunjukkan kedewasaan politik dan komitmen keumatan. Ini bukan langkah mundur, tetapi lompatan strategis untuk memimpin NU dengan lebih independen dan bermartabat.”
Independensi ini bukan hal kecil. Salah satu kritik terbesar terhadap kepemimpinan PBNU beberapa tahun terakhir adalah terlalu dekatnya organisasi dengan kepentingan-kepentingan politik tertentu walaupun selalu mengkampanyekan NU tidak terafilisasi salah satu partai. Ketika seorang pemimpin NU terlalu erat dengan kekuatan politik, ia akan sulit bersikap adil kepada seluruh elemen nahdliyin yang pilihan politiknya beragam. Dan Gus Yusuf, dengan keputusannya melepaskan jabatan struktural di PKB, memberikan sinyal kuat bahwa ia ingin menjadi milik seluruh warga NU, bukan milik satu kelompok.
Kiai yang Melek Zaman
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul ketika membicarakan pesantren adalah pertanyaan: apakah pesantren mampu relevan di era digital yang berubah begitu cepat? Apakah para kiai bisa berbicara kepada generasi muda yang lebih akrab dengan YouTube daripada kitab kuning?
Gus Yusuf menjawab pertanyaan itu bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata.
Ia adalah salah satu kiai yang paling lebih awal menyadari bahwa dakwah harus mengikuti perubahan zaman. Ia aktif berdakwah melalui media sosial, khususnya melalui kanal YouTube Gus Yusuf Channel, yang menjangkau jutaan penonton dari berbagai penjuru negeri. Baginya, YouTube bukan sekadar platform hiburan, ia adalah mimbar dakwah abad 21. Ini sesuai dengan kaidah NU “Al-Muhaafadhah ‘alaa al-qadiem al-shaalih wa l-akhdz bi l-jadied al-ashlah”, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Gus Yusuf sudah mengimplementasikannya secara nyata.
“Ya memang eranya seperti ini, mau gak mau kita harus ke situ,” kata Gus Yusuf suatu ketika, dengan nada yang khas: tidak menggurui, tidak mendramatisir, tapi lugas dan realistis.
Namun bagi Gus Yusuf, adaptasi terhadap era digital bukan hanya soal membuat konten. Ia melihat dimensi yang lebih dalam dan lebih serius. Era digital, menurutnya, membawa ancaman yang tidak bisa disepelekan oleh kalangan pesantren, masuknya paham-paham radikal melalui konten media sosial. Banyak penganut paham ekstrem yang kini direkrut dan dibaiat secara online, tanpa pernah bertemu langsung dengan pemimpinnya. Ini adalah tantangan besar bagi pesantren dan bagi NU secara keseluruhan.
Respons Gus Yusuf terhadap tantangan ini bukan kepanikan, melainkan strategi. Pesantren harus hadir di ruang digital bukan hanya untuk berdakwah, tapi juga untuk menjadi benteng yang melindungi umat dari konten-konten yang merusak. Para santri harus dilatih tidak hanya membaca kitab kuning, tapi juga melek media, mampu membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.
Inovasi Gus Yusuf tidak berhenti di media digital. Di bawah kepemimpinannya, API Tegalrejo melakukan ekspansi yang luar biasa. Bersama almarhum kakaknya KH Abdurrahman Chudlori, ia mendirikan Yayasan Syubbanul Wathon yang membawahi pendidikan formal mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi. Model pendidikan yang ditawarkan adalah perpaduan unik: pagi sekolah formal, sore dan malam ngaji dengan sistem boarding. Santri mendapat keduanya, ilmu umum dan ilmu agama dalam satu atap.
Bahkan yang terbaru, Gus Yusuf merespons undangan dari Kepala Otorita IKN untuk membuka cabang pondok pesantren dan SMK Syubbanul Wathon di Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur. Visinya jelas: pesantren bukan hanya warisan masa lalu, tapi kekuatan masa depan. Dan pesantren harus hadir di mana pun Indonesia sedang tumbuh.
Model pendidikan di cabang IKN itu dirancang dengan sangat kontekstual — memadukan pesantren dengan SMK jurusan konstruksi dan perhotelan, dua bidang yang paling dibutuhkan di kawasan yang sedang berkembang pesat itu. Dan target utamanya bukan santri dari Jawa, melainkan anak-anak lokal Kalimantan. “Tiga tahun pertama kami prioritaskan masyarakat sekitar IKN,” kata Gus Yusuf. Ini adalah pendekatan pemberdayaan yang sesungguhnya — bukan sekadar ekspansi lembaga, tapi misi membangun manusia nusantara.
Merawat Pesantren di Tengah Badai
Menjadi pengasuh pesantren di era modern bukan pekerjaan mudah. Gus Yusuf menyadari hal itu sepenuhnya. Dalam berbagai forum, ia berbicara dengan terbuka tentang tantangan-tantangan yang dihadapi pesantren hari ini.
Salah satu yang paling mengkhawatirkannya adalah penurunan jumlah santri di berbagai pesantren besar Indonesia. Dalam sebuah halaqah di RRI Yogyakarta, sejumlah ulama dan pengasuh pesantren melaporkan fakta yang memprihatinkan: pendaftar santri baru semakin berkurang dari tahun ke tahun. Faktor-faktornya beragam mulai dari tekanan ekonomi keluarga, banyaknya alternatif pendidikan formal dengan beasiswa, hingga dampak negatif dari pemberitaan kasus-kasus di pesantren yang viral di media sosial.
Gus Yusuf tidak menutup mata dari realitas ini. Ia bahkan menggunakan metafora yang sangat tepat: “Pesantren hari ini seperti akuarium — terlihat jelas isinya oleh semua orang.” Artinya, di era keterbukaan informasi ini, setiap masalah internal pesantren, sekecil apapun bisa langsung menjadi konsumsi publik. Pesantren tidak bisa lagi berlindung di balik tembok dan menganggap semuanya urusan internal.
Maka respons yang ia ambil adalah respons seorang pemimpin yang bertanggung jawab: bukan defensif, bukan menyangkal, tapi proaktif. Ketika muncul masalah pencabulan di lingkungan pesantren di berbagai daerah, Gus Yusuf mengambil inisiatif membuat Modul Anti-Pencabulan di Pesantren. Sebuah panduan sistematis untuk mengenali, mencegah, dan menangani kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Modul itu kemudian disosialisasikan ke ratusan pesantren di berbagai daerah.
Inilah karakter pemimpin yang dibutuhkan NU: bukan yang menghindar dari masalah, tapi yang berani menghadapinya dengan solusi nyata.
Gus Yusuf juga sangat sadar bahwa pesantren adalah institusi yang harus terus bertransformasi. Ia sering menyampaikan pesan ayahandanya: santri harus menjadi guru mengaji di tengah masyarakat dalam arti luas. Bukan hanya guru agama di madrasah, tapi panutan di mana pun mereka berada. “Kalau ada santri yang mau jadi pedagang, silakan — tapi berdaganglah yang sesuai dengan ajaran agama dan menjadi contoh masyarakat,” katanya.
Kebebasan itu, kebebasan santri untuk menjadi apa saja, selama tetap membawa nilai-nilai Islam adalah jiwa dari pesantren Tegalrejo sejak zaman KH Chudlori. Dan hasilnya sudah terbukti: seorang santri Tegalrejo pernah menjadi Presiden, pemimpin partai, pengusaha, ulama, seniman, aktivis. API Tegalrejo bukan pabrik pencetak satu tipe manusia, ia adalah taman yang menumbuhkan beragam potensi.
Mengapa NU Butuh Pemimpin Seperti Gus Yusuf
Kembali ke pertanyaan awal: mau dibawa ke mana NU ini?
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu terlebih dahulu jujur tentang kondisi NU saat ini. Survei Insantara yang menunjukkan 80 persen ketidakpuasan terhadap kepemimpinan PBNU bukan angka yang bisa diabaikan. Ketidakpuasan itu mencerminkan beberapa hal yang nyata:
Pertama, NU terlalu jauh dari akarnya. Pesantren adalah DNA NU. Dari pesantren-pesantren itulah NU lahir, tumbuh, dan mendapat legitimasinya di mata umat. Sering diibaratkan bahwa NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara PBNU dan pesantren terasa ada jarak. Para kiai pengasuh pesantren sering merasa tidak diajak bicara, tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis. Jarang juga saat ini pemimpin PBNU hadir di pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh warga NU di pelosok-pelosok desa. Ada jarak antara gedung PBNU di Kramat Raya dan pondok-pondok pesantren di pelosok negeri.
Kedua, konflik internal menguras energi. Energi yang seharusnya digunakan untuk melayani umat habis tersedot oleh pertikaian internal. Ketika para pengurus PBNU sibuk berseteru, tarik menarik pengesahan SK kepengurusan NU di daerah, warga nahdliyin di daerah tidak mendapat perhatian. Sementara musim kemarau melanda petani nahdliyin, sementara nelayan nahdliyin bergulat dengan harga BBM yang tinggi, pedagang kecil nahdliyin berjuang untuk bertahan, sementara para elit PBNU sibuk dengan agenda-agenda yang belum jelas output yang bisa dirasakan oleh umat.
Ketiga, NU perlu kembali ke khittah-nya sebagai organisasi keumatan. NU bukan partai politik. NU bukan korporasi yang orientasi utamanya adalah profit. NU adalah jam’iyyah ulama dan umat yang tugasnya jelas: mengurus agama, mengurus pendidikan, mengurus sosial kemasyarakatan. Semakin NU terjebak dalam logika politik praktis, semakin ia kehilangan jati dirinya.
Di sinilah relevansi Gus Yusuf menjadi sangat nyata.
Gus Yusuf adalah orang pesantren sejati. Ia lahir di pesantren, tumbuh di pesantren, menghabiskan masa mudanya di pesantren-pesantren besar, dan kini mengasuh salah satu pesantren terbesar di Indonesia. Ketika ia berbicara tentang pesantren, ia tidak sedang membaca laporan atau data, ia sedang berbicara tentang hidupnya. Ia tahu betul apa yang dirasakan oleh kiai pengasuh pesantren kecil di daerah terpencil, karena ia pernah merasakan sisi yang sama dari kehidupan pesantren.
Gus Yusuf memiliki legitimasi keilmuan yang tidak diragukan. Sebagai alumni Lirboyo — salah satu pesantren paling prestisius di Indonesia, ia diakui oleh komunitas keilmuan pesantren. Sanad keilmuannya bersambung langsung kepada para ulama besar. Ini bukan hal sepele di dunia NU, di mana legitimasi keilmuan adalah modal utama kepemimpinan di NU.
Gus Yusuf memiliki jangkauan yang luas. Sebagai alumni Lirboyo, ia memiliki koneksi dan legitimasi kuat di pulau Jawa, basis terbesar nahdliyin. Sebagai pengasuh pesantren berpengaruh di Magelang, ia berakar kuat di Jawa Tengah. Kombinasi keduanya menjadikannya sosok yang potensial untuk menyatukan dua arus besar Nahdliyin.
Gus Yusuf adalah pemimpin yang sudah teruji. Memimpin pesantren dengan lebih dari 10.000 santri bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kemampuan manajemen, kemampuan komunikasi, kemampuan membangun tim, kemampuan mengambil keputusan di tengah berbagai tekanan. Gus Yusuf telah melakukannya dan hasilnya bisa dilihat: pesantren API Tegalrejo terus tumbuh, terus berinovasi, dan tetap relevan.
Gus Yusuf bebas dari konflik kepentingan politik. Keputusannya melepaskan jabatan struktural di PKB adalah langkah yang membuktikan bahwa NU adalah prioritasnya, bukan partai, bukan kekuasaan. Ini memberikan kebebasan baginya untuk bersikap adil kepada seluruh elemen nahdliyin tanpa harus menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak tertentu di Pemerintahan.
Suara Warga Nahdliyin
Survei-survei menjelang Muktamar 2026 berbicara sendiri. Dalam simulasi yang dilakukan Insantara dengan 14 nama kandidat, nama KH Yusuf Chudlori berada di posisi ketiga nasional dengan perolehan 17 persen, sebuah angka yang sangat signifikan mengingat ia berasal dari klaster tokoh pesantren, bukan klaster internal PBNU yang memiliki akses langsung ke struktur.
Survei pollingkita.com yang bermula pada Februari 2026 dan merekam hampir 6.000 partisipan menempatkan Gus Yusuf sebagai salah satu dari tiga teratas bersama KH Imam Jazuli dan KH Marzuqi Mustamar. Yang menarik, petahana Gus Yahya hanya memperoleh 580 suara, jauh di bawah tiga kandidat dari klaster pesantren tersebut.
Ini adalah pesan yang sangat jelas dari warga nahdliyin: mereka ingin pemimpin yang berakar di pesantren. Mereka ingin pemimpin yang mengerti dunia santri, dunia kiai kampung, dunia jamaah pengajian. Mereka tidak hanya butuh teknokrat atau politisi yang kebetulan bergelar kiai , mereka butuh kiai yang sungguh-sungguh mengerti dunia pesantren.
Dinamika Muktamar NU memang tidak sesederhana hasil survei. Sistem pemilihan di NU memiliki mekanisme tersendiri yang melibatkan jaringan PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia. Lobi-lobi antar kiai, konsolidasi di tingkat wilayah dan cabang, semua ini adalah arena yang tidak selalu tampak di permukaan. Tapi justru di sinilah karakter Gus Yusuf menjadi modal yang kuat: ia adalah orang yang telah membangun hubungan personal dengan banyak kiai dan pengurus NU di berbagai daerah, bukan melalui kekuasaan, tapi melalui silaturahmi dan dakwah yang tulus.
Visi yang Dibutuhkan NU
Jika Gus Yusuf terpilih memimpin PBNU, apa yang bisa diharapkan?
Berdasarkan rekam jejaknya selama ini, ada beberapa hal yang bisa dibayangkan:
NU lebih memperhatikan pesantren. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, ia adalah institusi sosial, moral, dan budaya yang menjadi penopang utama identitas nahdliyin. Di bawah kepemimpinan seorang kiai pesantren, perhatian PBNU terhadap keberlangsungan dan pengembangan pesantren di seluruh Indonesia akan lebih nyata.
NU yang lebih independen. Lepas dari tarik-menarik kepentingan politik, PBNU bisa lebih fokus pada misi utamanya: melayani umat, menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, dan menjaga persatuan bangsa.
NU yang adaptif terhadap perubahan zaman. Gus Yusuf adalah contoh nyata bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Kitab kuning dan kemajuan teknologi bisa hidup dalam satu ekosistem. Inilah model NU yang dibutuhkan: teguh pada prinsip, fleksibel pada metode.
NU yang lebih membumi. Ketika pemimpin NU adalah seorang kiai yang setiap harinya berinteraksi langsung dengan santri, dengan petani, dengan pedagang kecil, dengan masyarakat biasa, maka kebijakan-kebijakan yang diambil akan lebih terasa dampaknya di akar rumput. Bukan kebijakan yang lahir dari rapat-rapat mewah di hotel bintang lima, tapi kebijakan yang lahir dari pemahaman langsung tentang apa yang dibutuhkan umat.
Kiai yang Tidak Terburu-buru
Ada satu hal yang perlu dicatat tentang Gus Yusuf, dan ini mungkin yang paling membedakannya dari kebanyakan calon pemimpin pada umumnya.
Ia tidak tampak seperti orang yang sedang berkampanye.
Tidak ada manuver-manuver politik yang mencolok. Tidak ada pernyataan-pernyataan ambisius tentang program-program yang akan ia lakukan jika terpilih. Ia terus melakukan apa yang selalu ia lakukan: mengajar santri, menghadiri pengajian, bersilaturahmi dengan para kiai, merawat pesantren, dan menjalin komunikasi intens dengan jaringan pengurusu NU.
Dan justru itulah yang membuat banyak orang semakin yakin. Karena dalam tradisi NU, pemimpin yang sesungguhnya bukanlah mereka yang paling keras berteriak ingin memimpin — melainkan mereka yang paling ikhlas berkhidmah, kemudian dipercayakan amanah itu oleh umat.
Penutup: Panggilan Zaman
Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengar dalam khazanah kepemimpinan Islam: “Al-imam dhaminun” , seorang pemimpin itu menanggung. Menanggung beban umat, menanggung amanah, menanggung pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Bagi Gus Yusuf, kepemimpinan bukan ambisi, ia adalah tanggung jawab. Bukan panggung untuk bersinar, ia adalah ladang untuk berkhidmah. Dan ketika zaman memanggil, seorang kiai yang sudah teruji tidak bisa sekadar menghindar.
NU hari ini butuh pemimpin yang mengerti bahasa pesantren, bahasa yang dimengerti oleh jutaan santri dan alumni pesantren yang tersebar di seluruh pelosok negeri. NU butuh pemimpin yang bebas dari beban kepentingan politik, yang bisa berdiri tegak di atas semua golongan, menjadi pemersatu, bukan pembelah. NU butuh pemimpin yang sudah terbukti bisa merawat amanah, yang tidak hanya pandai berbicara, tapi sudah menunjukkan hasil nyata dari kerja keras bertahun-tahun.
KH Muhammad Yusuf Chudlori, Gus Yusuf memenuhi semua kriteria itu.
Dari Tegalrejo, dari pesantren yang api-nya tidak pernah padam sejak 1944, muncul seorang kiai yang tidak hanya mewarisi tradisi leluhurnya tapi juga membawanya melangkah maju menghadapi tantangan zaman. Ia adalah jembatan antara salafiyah dan modernitas, antara pesantren dan dunia, antara masa lalu yang kaya dengan masa depan yang penuh harapan.
Muktamar ke-35 NU akan segera digelar. Warga nahdliyin di seluruh pelosok negeri sedang menanti. Dan dari lereng Merapi, seorang kiai yang selama ini memilih jalan sunyi, kini siap menjawab panggilan zaman.
Wallahu’alam bi showaf.
Oleh : Al Faqir, Ferial Farkhan IA.
Penulis adalah warga Nahdliyin & alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).









