Sang Pencuri Waktu di Kota Tanpa Bayang

- Pewarta

Selasa, 5 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampilan depan cerpen. (Istimewa/Wawasannews)

Tampilan depan cerpen. (Istimewa/Wawasannews)

Di Kota Astra, waktu bukanlah sesuatu yang abstrak. Waktu adalah komoditas fisik yang berkilau seperti debu emas di udara. Penduduk dapat membeli tambahan sepuluh menit untuk menikmati secangkir kopi lebih lama, atau menjual satu jam masa muda mereka demi sekeping koin perak.

Ellis adalah seorang Kronos-Mekanik. Tugasnya sederhana: memperbaiki jam-jam saku milik kaum bangsawan yang sering macet akibat terlalu banyak “menyuntikkan” waktu ilegal ke dalam mesinnya.

Namun, Ellis menyimpan rahasia.

Di balik bengkelnya yang pengap dan dipenuhi aroma minyak serta logam tua, ia diam-diam mengoleksi detik-detik yang terbuang—sisa waktu yang jatuh di lantai pasar, tercecer di gang sempit, atau tertinggal di bantal orang-orang yang baru meninggal.

Suatu malam, ketika lonceng besar Astra berdentang dua belas kali, seorang wanita berpakaian serba hitam memasuki bengkel itu. Wajahnya tertutup cadar tipis yang tampak seperti terbuat dari jaring laba-laba.

“Aku butuh waktu,” bisiknya. Suaranya terdengar seperti gesekan daun kering.

Baca Juga  TERBONGKAR! Strategi Inovasi SDM yang Bawa PERURI Sabet Silver Award HREA 2025

Ellis tetap fokus pada roda gigi kecil di tangannya. “Toko sudah tutup, Nyonya. Jika Anda ingin membeli waktu, pergilah ke Bank Sentral Masa Depan.”

“Aku tidak ingin membeli waktu yang baru,” jawab wanita itu sambil meletakkan sebuah toples kaca kecil di atas meja.

Di dalamnya, seekor kupu-kupu bersayap bening bergetar lemah.

“Aku ingin kau mengembalikan waktu yang dicuri.”

Ellis membeku. Mencuri waktu adalah kejahatan tertinggi di Astra.

“Siapa yang berani mencurinya darimu?”

“Bukan dariku.”

Wanita itu perlahan membuka cadarnya.

Ellis menahan napas.

Di balik kain hitam itu tidak ada wajah—tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya permukaan kulit pucat yang rata dan kosong.

“Waktu ini dicuri dari seluruh kota,” katanya. “Tidakkah kau sadar? Astra tidak pernah melihat matahari terbit selama tiga ratus tahun. Kita hidup dalam satu malam abadi karena seseorang telah memutar poros dunia ke belakang.”

Baca Juga  Jafar/Felisha jadi finalis kelima Indonesia di Australia Open 2025

Ellis menatap toples itu dengan saksama melalui lensa pembesarnya. Barulah ia menyadari: kupu-kupu itu bukan serangga biasa.

Makhluk itu adalah Detik Terakhir.

Jika ia mati, maka konsep “esok hari” akan lenyap untuk selamanya.

Pikiran Ellis mendadak berputar. Semua jam yang selama ini ia perbaiki untuk para bangsawan ternyata bukan sekadar aksesori mewah. Jam-jam itu adalah pompa mekanis yang menyedot masa depan kota demi membiayai keabadian pemiliknya.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Ellis, suaranya bergetar.

Wanita tanpa wajah itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah jam menara di pusat kota.

“Hancurkan Jantung Detak. Kembalikan kekacauan, maka kehidupan akan mengalir kembali.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih.

“Tapi ingat, Ellis. Jika waktu kembali normal, kau tak akan lagi menjadi pemuda. Kau telah hidup seribu tahun di ruangan ini.”

Ellis menunduk, menatap kedua tangannya yang masih halus dan kuat. Ia kemudian memandang kupu-kupu yang semakin melemah di dalam toples.

Baca Juga  Awardee BIB Kemenag di University of Groningen: Studi dari Teologi hingga Artificial Intelligence

Ia punya pilihan.

Tetap hidup selamanya di dalam malam yang nyaman, sunyi, dan tak berubah.

Atau membiarkan waktu kembali menyentuh dunia—dan dirinya.

Tanpa sepatah kata, Ellis meraih palu berat dari sudut bengkelnya.

“Waktu bukan tentang seberapa lama kita bernapas,” gumamnya, “melainkan keberanian untuk membiarkan setiap detik berlalu tanpa penyesalan.”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga abad, lonceng Astra tidak berdentang.

Sebagai gantinya, terdengar suara kaca pecah yang memekakkan telinga.

Lalu, sesuatu yang telah lama dilupakan seluruh kota muncul perlahan di ufuk timur: cahaya jingga.

Hangat. Asing. Indah.

Di tengah jalanan Astra, seorang lelaki tua berambut seputih salju tersenyum sambil memandang matahari untuk pertama—dan terakhir—kalinya.

Ia mengembuskan napas terakhir tepat ketika jarum jam di seluruh dunia bergerak maju satu detik.

Dan akhirnya, esok pun lahir kembali.

Pewarta : Davin Aditya/Fuad
Editor : Riyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Hidup Terasa Monoton? Ini Cara Memahami dan Menikmati Setiap Fasenya
Polres Kendal Ungkap Peredaran Sabu 8,7 Gram, Seorang Pengedar Diamankan
Krisis Ganda Hantui Pantura Jawa, AHY Minta Penanganan Serius dan Cepat
Setahun Beraksi, Praktik Penggandaan Uang Berkedok Ritual Terbongkar di Kendal
Kendal Masuk Prioritas Sungai Watch, Aktivis Global Soroti Darurat Sampah
Darul Amanah Kendal Buka Beasiswa Santri Atlet, Saring Talenta Sepak Bola Nasional
Kasus Pesantren Pati, Menteri PPPA Tekankan Pemenuhan Hak Korban
Banjarmasin Masuk Peta Pembinaan Nasional Sepak Bola Putri Lewat MLSC

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:38

Hidup Terasa Monoton? Ini Cara Memahami dan Menikmati Setiap Fasenya

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:12

Sang Pencuri Waktu di Kota Tanpa Bayang

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:42

Polres Kendal Ungkap Peredaran Sabu 8,7 Gram, Seorang Pengedar Diamankan

Senin, 4 Mei 2026 - 19:18

Krisis Ganda Hantui Pantura Jawa, AHY Minta Penanganan Serius dan Cepat

Senin, 4 Mei 2026 - 15:29

Setahun Beraksi, Praktik Penggandaan Uang Berkedok Ritual Terbongkar di Kendal

Berita Terbaru

Tampilan depan cerpen. (Istimewa/Wawasannews)

Cerpen

Sang Pencuri Waktu di Kota Tanpa Bayang

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:12