SEMARANG, Wawasannews.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, Dinas Pertanian Kota Semarang menemukan enam ekor sapi yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Kasus itu ditemukan di dua wilayah, yakni Kecamatan Ngaliyan dan Banyumanik.
Meski ada temuan tersebut, Dinas Pertanian memastikan seluruh sapi yang terpapar sudah dipisahkan dari ternak lain dan kini masih menjalani perawatan.
Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Shoti’ah mengatakan kasus itu diketahui setelah ada laporan dari peternak.
Awalnya peternak melihat gejala sakit pada ternaknya, lalu melapor kepada petugas.
Tim dari Dinas Pertanian kemudian turun langsung ke kandang untuk melakukan pemeriksaan.
Dari hasil pengecekan tersebut, enam sapi dinyatakan positif PMK.
“Ada enam kasus PMK di Kecamatan Ngaliyan dan Banyumanik. Kondisinya sedang proses penyembuhan dan perkembangannya sudah cukup baik,” kata Shoti’ah di Semarang, Senin.
Temuan itu muncul di tengah meningkatnya aktivitas penjualan hewan kurban menjelang Idul Adha. (Dilansir dari antarajateng)
Karena itu, pengawasan di lapangan juga terus diperketat.
Selain enam kasus tersebut, Dinas Pertanian juga menerima laporan satu ekor sapi anakan di Kecamatan Ngaliyan yang mati.
Hewan tersebut diduga terpapar PMK.
Dari hasil pengecekan petugas, sapi itu diketahui belum sempat mendapatkan vaksin PMK.
Meski ada kasus yang ditemukan, Dinas Pertanian menyebut kondisi tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah kasus PMK di Kota Semarang disebut mengalami penurunan dibanding 2025.
Menurut Shoti’ah, salah satu faktor yang membantu adalah pengalaman peternak dalam menangani PMK.
Saat wabah pertama kali muncul beberapa waktu lalu, banyak peternak panik karena belum mengetahui gejalanya.
Sekarang kondisinya berbeda.
Peternak mulai memahami tanda-tanda awal PMK dan tahu langkah cepat yang perlu dilakukan.
Ketika ternak terlihat lesu atau menunjukkan gejala di mulut dan kuku, peternak lebih cepat melapor.
Mereka juga langsung memisahkan ternak yang sakit agar tidak menular ke hewan lain.
“Kalau sekarang peternak sudah lebih paham. Kalau ada ternak yang terpapar langsung diisolasi sampai kondisinya membaik,” ujarnya.
Untuk mencegah penyebaran lebih luas, vaksinasi PMK terus dilakukan.
Dinas Pertanian tetap mendatangi peternakan di berbagai wilayah Kota Semarang untuk memastikan perlindungan hewan ternak berjalan.
Selain fokus pada PMK, petugas juga memeriksa hewan kurban yang mulai dijual di sejumlah lapak.
Pemeriksaan dilakukan di empat titik penjualan di Kecamatan Banyumanik dan Tembalang.
Petugas mengecek kondisi fisik hewan, kebersihan kandang sementara, dan memastikan hewan layak dijual sebagai kurban.
Dari hasil pemeriksaan di lapangan, tidak ditemukan hewan kurban yang bermasalah secara kesehatan.
Secara umum hewan yang dijual dinilai aman.
Meski begitu, Dinas Pertanian masih menemukan pedagang yang belum melengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan atau SKKH.
Dokumen tersebut penting untuk memastikan hewan yang dijual sudah melalui pemeriksaan kesehatan.
Shoti’ah mengatakan pihaknya terus memberi edukasi kepada pedagang dan peternak terkait kelengkapan administrasi itu.
Imbauan sudah disampaikan agar ke depan seluruh penjual mengikuti ketentuan yang berlaku.
“Masih ada yang belum menggunakan SKKH. Tapi sudah kami minta agar tahun depan semua menyesuaikan,” katanya.
Menjelang Idul Adha, masyarakat diimbau membeli hewan kurban dari lapak yang diawasi petugas dan memastikan hewan dalam kondisi sehat.
Dengan pemeriksaan yang berjalan sejak sekarang, warga diharapkan lebih tenang saat memilih hewan kurban dalam beberapa hari mendatang. (Red)






