Teheran, Wawasannews.com – Iran dan Oman kembali melanjutkan komunikasi terkait situasi di Selat Hormuz. Kali ini, delegasi Oman datang langsung ke Teheran untuk membahas pengelolaan lalu lintas pelayaran di jalur laut yang menjadi salah satu rute perdagangan energi paling sibuk di dunia.
Pertemuan tersebut difokuskan pada mekanisme navigasi di Selat Hormuz. Jalur ini memiliki peran besar dalam distribusi minyak dan gas ke berbagai negara sehingga setiap perkembangan di kawasan selalu mendapat perhatian internasional.
Berdasarkan laporan kantor berita IRNA, kunjungan delegasi Oman merupakan bagian dari konsultasi yang telah berlangsung antara kedua negara. Dialog itu dilakukan untuk membahas berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi di Selat Hormuz.
Selain menerima kunjungan delegasi Oman, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Percakapan tersebut membahas perkembangan terbaru di kawasan perairan strategis tersebut.
Mengutip laporan Al Jazeera pada Sabtu (25/7/2026), Iran belum membeberkan secara rinci usulan yang dibicarakan dalam komunikasi tersebut. Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan tetap terbuka terhadap kemungkinan pengelolaan Selat Hormuz dilakukan bersama Oman.
Sikap Iran itu mendapat respons berbeda dari Amerika Serikat dan sejumlah negara Teluk. Mereka menolak gagasan mengenai pengelolaan Selat Hormuz sebagaimana yang disampaikan Iran.
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, Oman tetap memegang posisi yang cukup penting. Negara itu berada di pintu masuk Selat Hormuz dan selama ini dikenal sering berperan sebagai mediator dalam berbagai persoalan yang melibatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Menurutnya, jalur tersebut tidak boleh terganggu oleh tindakan yang dapat menghambat kebebasan navigasi maupun arus perdagangan dunia.
Pernyataan itu menunjukkan pentingnya menjaga kelancaran aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global yang dilintasi kapal-kapal pengangkut minyak dan gas setiap hari.
Sebelum konflik di kawasan meningkat, sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap ketegangan yang terjadi di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi internasional.
Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan global. Gangguan pada jalur pelayaran dapat berdampak pada distribusi energi ke berbagai negara yang bergantung pada pasokan melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, situasi politik dan keamanan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali saling melancarkan serangan, meski upaya diplomatik masih terus dilakukan.
Pembicaraan untuk menghidupkan kembali nota kesepahaman (MoU) juga belum membuahkan hasil. Salah satu penyebabnya adalah masih adanya perbedaan pandangan mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Hingga kini, komunikasi antara Iran dan Oman terus berlangsung. Kedua negara masih membahas berbagai kemungkinan terkait pengelolaan jalur pelayaran tersebut, sementara dinamika politik dan keamanan di kawasan tetap menjadi perhatian dunia. (Red)






