Arif Setiawan Angkat Kembali Kisah Panji Witono Lewat Buku “Jejak Panji Witono Welang”

- Pewarta

Rabu, 19 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

KENDAL, Wawasannews.com – Arif Setiawan, tokoh pemuda sekaligus Sekretaris Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, merilis sebuah buku yang mengangkat kembali kisah perjuangan Panji Witono, seorang pahlawan Nusantara yang jejak hidupnya berakhir di Dusun Welang, Tunggulsari.

Buku tersebut diberi judul “Jejak Panji Witono Welang: Kisah Sebuah Perjuangan Panji-panji Nusantara 1749–1805”.

Arif menjelaskan, penulisan buku ini berangkat dari kegelisahannya melihat minimnya pengetahuan generasi muda tentang tokoh lokal yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan melawan kolonial.

“Buku ini saya tulis agar generasi muda tidak tabu akan siapa Raden Pitono atau Panji Witono,” kata Arif.

Buku itu, katanya, disusun berdasarkan berbagai referensi sejarah, salah satunya Babad Carita Lasem karya Panji Khamzah (1825).

Arif berharap, karyanya dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah sekaligus meneruskan nilai perjuangan para leluhur.

“Harapannya lewat buku ini, anak-anak muda bisa melawan lupa, melek sejarah, serta menjunjung toleransi dan kebhinekaan,” tuturnya.

Dalam buku tersebut, Arif menjelaskan bahwa Panji Witono lahir pada 1749 sebagai putra dari Raden Mas Panji Margono, seorang tokoh penting keturunan trah Panji Lasem yang gugur dalam Perang Kuning melawan VOC pada 1750.

Panji Margono dikenal luas dengan nama samaran Tan Pan Ciang atau Encik Macan di dalam Babad Tanah Jawi.

Ia berjuang bersama Raden Ngabehi Widyadiningrat (Oei Ing Kiat) dan Tan Kee Wie.

Ketiganya dikenang dalam Kelenteng Gie Yong Bio yang dibangun warga Tionghoa Lasem pada 1780.

Sebelum wafat, Panji Margono sempat berpesan agar istrinya mengungsikan bayi mereka, Panji Witono, ke Dukuh Narukan, Dorokandang.

Setelah dewasa, Panji Witono melanjutkan perlawanan ayahnya.

Ia dikenal menentang keras penindasan VOC, termasuk menghabisi antek-antek Belanda yang menguasai tambak udang di Rembang.

Dalam pelariannya dari Rembang melalui jalur laut, Panji Witono sampai di Bandengan, Kendal, lalu bergerak ke selatan menuju wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara.

Sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Tunggulsari.

Ia menetap hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di Dusun Welang.

Panji Witono sendiri memiliki tiga anak. Di antaranya yakni, Panji Khamzah, Kamsih dan Panji Kamboro, yang kemudian turut bertempur dalam Perang Diponegoro (1835–1850).

Kini, makam Panji Witono di Dusun Welang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Disdikbud Kendal bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Penetapan ini semakin menguatkan nilai historis kawasan tersebut serta mempertegas pentingnya pelestarian kisah perjuangan tokoh lokal.

Lewat buku ini, Arif Setiawan berharap Tunggulsari tidak hanya dikenal sebagai desa yang tenang, tetapi juga sebagai salah satu titik penting jejak perjuangan Nusantara.

“Ini warisan sejarah yang harus dijaga dan diceritakan kembali,” tandasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Perkuat Inklusivitas dan Isu Penguatan Partai Politik, DPW PKB Jateng Terima Kunjungan Utusan Partai Hijau Jerman
Sambut Ribuan Pelajar NU se-Indonesia, Pemkab Kendal Siap Sukseskan Kongres XXI IPNU dan XX IPPNU di Ponpes Darul Amanah
Sidak Temukan IPAL Bermasalah, Tiga SPPG di Kendal Terancam Suspend jika Mangkir Perbaikan
PKB Siapkan Rp 1 Miliar untuk Santri, Pesantren Digital hingga Sholawat Idol Jadi Andalan
Kapolda Jateng Tekankan Polisi Bersama Masyarakat Harus Dirasakan Lewat Kerja Nyata
Atasi Kekeringan dan Buka Peluang Ekonomi, Tambahsari Mulai Kembangkan Kaliringin Park
Sampel Makanan Korban Tak Tersedia, Penyebab Dugaan Keracunan MBG Batang Belum Terungkap
Laka Maut Depan PG Cepiring, Sopir Truk Box Tewas, Pengemudi Dump Truk Menghilang

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:24

Perkuat Inklusivitas dan Isu Penguatan Partai Politik, DPW PKB Jateng Terima Kunjungan Utusan Partai Hijau Jerman

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:10

Sambut Ribuan Pelajar NU se-Indonesia, Pemkab Kendal Siap Sukseskan Kongres XXI IPNU dan XX IPPNU di Ponpes Darul Amanah

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:43

Sidak Temukan IPAL Bermasalah, Tiga SPPG di Kendal Terancam Suspend jika Mangkir Perbaikan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:56

PKB Siapkan Rp 1 Miliar untuk Santri, Pesantren Digital hingga Sholawat Idol Jadi Andalan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:23

Kapolda Jateng Tekankan Polisi Bersama Masyarakat Harus Dirasakan Lewat Kerja Nyata

Berita Terbaru

Secret Link