BPOM Permudah Aturan Kemasan dan Bahan Baku, Kenaikan Harga Obat Diharapkan Tidak Terlalu Tinggi

- Pewarta

Selasa, 2 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPOM Taruna Ikrar ditemui usai Kick Off Pekan Jamu 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (Istimewa/Wawasannews)

Kepala BPOM Taruna Ikrar ditemui usai Kick Off Pekan Jamu 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (Istimewa/Wawasannews)

JAKARTA, Wawasannews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan oleh berbagai sektor usaha, termasuk industri farmasi nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi obat ikut terdampak ketika kurs dolar menguat.

Menghadapi kondisi tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyiapkan sejumlah kebijakan untuk membantu industri farmasi tetap beroperasi dan menjaga harga obat di pasaran agar tidak melonjak tajam.

Salah satu kebijakan yang diberikan adalah kemudahan dalam proses perubahan kemasan produk serta fleksibilitas dalam pengadaan bahan baku obat dari berbagai negara pemasok.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan langkah tersebut telah ditetapkan untuk membantu perusahaan farmasi beradaptasi dengan situasi ekonomi global yang saat ini masih penuh tekanan.

Menurutnya, perusahaan kini dapat lebih mudah melakukan penyesuaian jika mengalami kendala pasokan bahan baku dari negara tertentu. Mereka juga diberi ruang untuk beralih ke pemasok lain tanpa harus menghadapi proses yang terlalu rumit.

“Beberapa kebijakan yang dilakukan antara lain mempermudah perubahan kemasan serta memberikan fleksibilitas dalam bahan baku. Misalnya memungkinkan perusahaan beralih dari pemasok di satu negara ke pemasok di negara lain,” kata Taruna Ikrar usai kegiatan Kick Off Pekan Jamu 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa.

Ia berharap kebijakan tersebut dapat membantu menekan biaya produksi sehingga harga obat tetap terkendali di tengah tekanan nilai tukar dan kondisi global yang belum stabil.

Taruna mengakui bahwa kecenderungan kenaikan harga obat memang sulit dihindari. Sebab sebagian besar bahan baku yang digunakan industri farmasi Indonesia masih berasal dari luar negeri dan transaksi pembeliannya menggunakan dolar AS.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat. Dampaknya kemudian dirasakan oleh produsen yang harus menanggung biaya produksi lebih besar dibanding sebelumnya.

Menurut Taruna, kondisi ini terutama terjadi pada obat-obatan berbahan kimia yang memiliki keterkaitan erat dengan industri petrokimia.

Lebih dari 30 persen bahan baku obat kimia berasal dari sektor petrokimia. Sementara komoditas petrokimia, termasuk bahan bakar dan turunannya, umumnya diperdagangkan menggunakan dolar AS.

Karena itu, perubahan kurs mata uang memiliki pengaruh langsung terhadap harga bahan baku yang digunakan industri farmasi.

Di sisi lain, situasi global juga ikut memberi tekanan tambahan terhadap biaya produksi. Konflik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah dunia menyebabkan rantai pasok bahan baku belum sepenuhnya stabil.

Kondisi tersebut membuat harga berbagai komoditas pendukung industri farmasi ikut mengalami tekanan.

Meski demikian, BPOM menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar kenaikan harga obat tetap berada dalam batas yang wajar dan tidak membebani masyarakat secara berlebihan.

Taruna mengatakan pemerintah memahami bahwa obat merupakan kebutuhan dasar yang harus tetap dapat diakses masyarakat.

Karena itu, pengendalian dampak kenaikan biaya produksi menjadi perhatian bersama antara regulator dan pelaku industri.

“Kenaikan harga akibat penguatan dolar AS, situasi perang yang masih berlangsung, serta kenaikan harga bahan baku memang tidak bisa dipungkiri. Namun pemerintah berharap kenaikan harga obat tidak terjadi secara ekstrem dan berbagai langkah telah disiapkan untuk mengendalikan dampaknya,” ujarnya.

Bagi masyarakat, stabilitas harga obat menjadi hal yang sangat penting. Terutama bagi pasien yang membutuhkan pengobatan rutin dan penggunaan obat dalam jangka panjang.

Kenaikan harga yang terlalu tinggi berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat yang harus membeli obat secara berkala.

Dampak serupa juga dapat dirasakan fasilitas pelayanan kesehatan, apotek, klinik hingga rumah sakit yang membutuhkan pasokan obat secara berkelanjutan. (Dilansir Dari antaranews)

Karena itu, upaya menjaga ketersediaan bahan baku dan mengendalikan kenaikan harga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan baik.

Bagi daerah seperti Jawa Tengah dan Kabupaten Kendal, kestabilan pasokan serta harga obat juga menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Sementara itu, berdasarkan data pasar keuangan pada Selasa pagi, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 54,50 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.859 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.805 per dolar AS.

Pergerakan kurs tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pemerintah karena berpengaruh terhadap berbagai sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor, termasuk industri farmasi nasional. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Pabrik Pertama di Indonesia, Investor China Pilih KEK Kendal untuk Bidik Pasar Global
Dirut BPR Bank Nusamba Jatengdiy Raih Apresiasi ILO atas Dukungan kepada UMKM
Pabrik Godrej Resmi Berdiri di KIK Kendal, Bidik Pasar Indonesia hingga Ekspor
Dexa Group Raih IHYA 2026, Lebih dari 1.800 Produk Farmasi Telah Bersertifikat Halal
GoPay luncurkan program GoPay Next sasar generasi muda
KKP Targetkan 15 Ribu Hektare Tambak di Aceh Kembali Beroperasi, Petambak Disiapkan Benih dan Pakan
PDKN Gandeng Kementerian UMKM RI, Siapkan Program Kewirausahaan bagi Mahasiswa dan Alumni KIP Kuliah
DPRD Jateng Minta Perikanan Jadi Prioritas, Nelayan Dinilai Belum Nikmati Besarnya Potensi Ekonomi Pesisir

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:18

Pabrik Pertama di Indonesia, Investor China Pilih KEK Kendal untuk Bidik Pasar Global

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:19

Dirut BPR Bank Nusamba Jatengdiy Raih Apresiasi ILO atas Dukungan kepada UMKM

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:15

Pabrik Godrej Resmi Berdiri di KIK Kendal, Bidik Pasar Indonesia hingga Ekspor

Sabtu, 26 September 2026 - 09:55

Dexa Group Raih IHYA 2026, Lebih dari 1.800 Produk Farmasi Telah Bersertifikat Halal

Sabtu, 26 September 2026 - 09:39

GoPay luncurkan program GoPay Next sasar generasi muda

Berita Terbaru

Secret Link