JAKARTA, Wawasannews.com — Tim nasional tenis meja Indonesia mulai memperkuat persiapan fisik para atlet menjelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni menggandeng Physiorehab untuk memberikan pendampingan selama training camp.
Pendampingan ini diarahkan untuk menjaga kondisi fisik atlet di tengah program latihan yang memiliki intensitas tinggi.
Pelatih Tim Tenis Meja Indonesia Anton Suseno mengatakan persiapan menuju kompetisi tingkat Asia membutuhkan kondisi fisik yang terjaga.
Menurutnya, atlet tidak hanya dituntut menjalani latihan teknis. Kondisi tubuh juga harus dipantau agar mereka dapat mengikuti program latihan dengan baik.
“Persiapan menuju pesta olahraga terbesar di Asia ini tentu membutuhkan kondisi fisik yang optimal karena atlet menjalani rangkaian latihan dengan intensitas tinggi,” kata Anton dalam keterangan resmi, Jumat.
Ia mengatakan keberadaan tim fisioterapi membantu pelatih dalam menjaga kondisi para atlet selama menjalani pemusatan latihan.
Pendampingan tersebut juga diharapkan membuat atlet lebih siap ketika memasuki pertandingan.
“Pendampingan dari Physiorehab membantu kami dalam menjaga kondisi fisik para atlet selama Training Camp, sehingga latihan dapat berjalan dengan baik dan atlet dapat lebih siap menghadapi kompetisi,” ujarnya.
Dalam program tersebut, Physiorehab bekerja bersama tim pelatih nasional yang terdiri dari Anton Suseno dan Yon Mardiyono.
Pendampingan diberikan berdasarkan kebutuhan masing-masing atlet. Tidak hanya berfokus pada pemulihan, program juga mencakup perawatan dan latihan pendukung kondisi fisik.
Beberapa bentuk pendampingan yang diberikan meliputi treatment, recovery, mobility, serta strengthening.
Keempat bagian tersebut menjadi rangkaian yang diberikan untuk membantu atlet mempertahankan kesiapan fisik selama menjalani latihan.
Program ini melibatkan 12 atlet tenis meja nasional yang dipersiapkan menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Mereka terdiri dari Muhammad Bima Abdi Negara, Muhammad Naufal Junindra Irawan, Gusti Syaiful Desrizal, Affan Mauladana Pratama, Muhammad Kahfi Inzaghi, dan Braydon Juvensim Susilo.
Sementara dari sektor putri terdapat Citra Rasmi, Almaira Nebuchadnezzar, Cindy Marcella Putri, Komang Anik Sudarnita, Ni Ketut Devinta Maharani, serta Siti Aminah.
Keterlibatan tim fisioterapi dalam training camp membuat kondisi fisik atlet dapat mendapat perhatian secara khusus di sela-sela program latihan.
Bagi cabang olahraga seperti tenis meja, kesiapan fisik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persiapan pertandingan. Atlet harus tetap menjaga kondisi tubuh sambil menjalani latihan secara rutin.
Chief Physiotherapist Physiorehab Simon Tri Prasetyo mengatakan pendampingan terhadap atlet seharusnya tidak hanya dilakukan ketika mereka sedang menghadapi kompetisi.
Menurut dia, kondisi fisik atlet perlu diperhatikan dalam berbagai tahapan. Termasuk ketika atlet menjalani persiapan, melakukan pemulihan setelah pertandingan, hingga kembali berlatih.
“Ajang olahraga terbesar di Asia ini merupakan salah satu milestone dalam perjalanan mereka, tetapi perhatian terhadap kondisi fisik atlet perlu terus berlanjut setelah kompetisi selesai,” kata Simon.
Ia mengatakan Physiorehab ingin terlibat dalam perjalanan atlet dalam jangka panjang.
“Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan jangka panjang tersebut, baik ketika atlet sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi, melakukan recovery setelah bertanding, maupun ketika mereka kembali membangun kekuatan untuk menghadapi tantangan berikutnya,” ujarnya.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi salah satu agenda yang sedang dipersiapkan tim tenis meja Indonesia.
Dengan persiapan yang berlangsung sejak masa training camp, perhatian terhadap kondisi fisik menjadi bagian dari rangkaian persiapan sebelum para atlet memasuki arena pertandingan.
Pendampingan fisik tersebut sekaligus melengkapi program latihan yang dijalani 12 atlet nasional. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing atlet selama masa persiapan.






