KENDAL, Wawasannews – Sebelas tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah gerakan sosial untuk tetap bertahan. Namun itulah yang berhasil dijaga Sedekaholic Community Kendal yang hingga kini masih rutin membagikan nasi bungkus kepada masyarakat yang membutuhkan setiap Jumat pagi.
Komunitas yang lahir di Kecamatan Kaliwungu pada 2015 tersebut berawal dari kepedulian sejumlah anak muda terhadap pekerja jalanan yang kerap memulai aktivitas sejak dini hari. Dengan dana hasil patungan, mereka membeli nasi bungkus dari warung-warung kecil dan membagikannya kepada tukang becak, penyapu jalan, buruh harian, hingga warga terlantar yang ditemui di jalan.
Salah satu pendiri Sedekaholic Community, Edi Prayitno, mengatakan kegiatan itu bermula dari keinginan sederhana untuk membantu masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan pagi.
“Kami melihat banyak pekerja jalanan yang sudah bekerja sejak subuh. Dari situ muncul gagasan untuk berbagi nasi setiap Jumat pagi,” ujarnya.
Berbeda dengan kegiatan sosial yang dipusatkan di satu lokasi, para relawan memilih turun langsung menyusuri jalan-jalan untuk mencari warga yang membutuhkan bantuan. Selain pekerja informal, mereka juga kerap menjumpai tuna wisma hingga orang dengan gangguan kejiwaan yang hidup di ruang-ruang publik.
Menurut Edi, tidak semua penerima bantuan dapat menerima kehadiran relawan dengan baik. Dalam beberapa kesempatan, relawan bahkan pernah mendapat penolakan saat mencoba memberikan makanan.
“Ada yang menolak, ada juga yang marah. Tapi kami memahami kondisi mereka dan tetap berusaha membantu dengan cara yang baik,” katanya.
Kegiatan yang rutin dibagikan melalui media sosial itu kemudian menarik perhatian masyarakat. Semakin banyak warga yang ikut bergabung sehingga gerakan berbagi yang semula hanya berlangsung di Kaliwungu berkembang ke sejumlah wilayah lain di Kabupaten Kendal.
Dalam perjalanannya, Sedekaholic Community sempat memiliki beberapa pos kegiatan di berbagai kecamatan. Saat ini kegiatan berbagi nasi bungkus masih aktif dijalankan di Pos Kaliwungu, Pos Kota Kendal, Pos Patebon, dan Pos Gemuh.
Meski telah berkembang, komunitas tersebut tetap mempertahankan konsep awal yang sederhana. Mereka tidak membentuk yayasan maupun struktur organisasi formal. Seluruh kegiatan dijalankan secara sukarela oleh para relawan.
Pendanaan kegiatan juga berasal dari swadaya anggota dan para dermawan yang ikut mendukung program berbagi. Nasi bungkus yang dibagikan sengaja dibeli dari warung-warung kecil agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Kami berusaha agar sedekah ini tidak hanya membantu penerima, tetapi juga mendukung pedagang kecil yang menyiapkan makanan,” jelas Edi.
Seiring berjalannya waktu, Sedekaholic Community tidak hanya menjalankan program berbagi nasi bungkus. Berbagai kegiatan sosial lain juga dilakukan, seperti donor darah, bazar pakaian layak pakai, bantuan perlengkapan ibadah, pembagian Al-Qur’an, santunan anak yatim, hingga pemasangan listrik gratis bagi warga kurang mampu.
Komunitas tersebut juga pernah menggelar pembagian kacamata gratis bagi siswa sekolah dasar serta program edukasi kepedulian sosial di lingkungan sekolah.
Ketika bulan Ramadan tiba, kegiatan berbagi nasi Jumat diganti dengan pembagian takjil dan buka puasa bersama anak yatim. Namun semangat berbagi tetap dijaga sebagaimana yang telah dilakukan sejak awal berdiri.
Bagi para relawan, keberlangsungan gerakan ini bukan semata soal jumlah bantuan yang diberikan, melainkan menjaga kepedulian agar tetap hadir di tengah masyarakat.
Dari puluhan nasi bungkus yang dibagikan setiap pekan, Sedekaholic Community membuktikan bahwa aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menghadirkan manfaat bagi banyak orang dan tetap bertahan melintasi lebih dari satu dekade.
Foto: Relawan Sedekaholic Community Kendal saat membagikan nasi bungkus kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Kendal. Program berbagi setiap Jumat pagi tersebut telah berjalan konsisten selama 11 tahun. (Red)






