Di Kota Astra, waktu bukanlah sesuatu yang abstrak. Waktu adalah komoditas fisik yang berkilau seperti debu emas di udara. Penduduk dapat membeli tambahan sepuluh menit untuk menikmati secangkir kopi lebih lama, atau menjual satu jam masa muda mereka demi sekeping koin perak.
Ellis adalah seorang Kronos-Mekanik. Tugasnya sederhana: memperbaiki jam-jam saku milik kaum bangsawan yang sering macet akibat terlalu banyak “menyuntikkan” waktu ilegal ke dalam mesinnya.
Namun, Ellis menyimpan rahasia.
Di balik bengkelnya yang pengap dan dipenuhi aroma minyak serta logam tua, ia diam-diam mengoleksi detik-detik yang terbuang—sisa waktu yang jatuh di lantai pasar, tercecer di gang sempit, atau tertinggal di bantal orang-orang yang baru meninggal.
Suatu malam, ketika lonceng besar Astra berdentang dua belas kali, seorang wanita berpakaian serba hitam memasuki bengkel itu. Wajahnya tertutup cadar tipis yang tampak seperti terbuat dari jaring laba-laba.
“Aku butuh waktu,” bisiknya. Suaranya terdengar seperti gesekan daun kering.
Ellis tetap fokus pada roda gigi kecil di tangannya. “Toko sudah tutup, Nyonya. Jika Anda ingin membeli waktu, pergilah ke Bank Sentral Masa Depan.”
“Aku tidak ingin membeli waktu yang baru,” jawab wanita itu sambil meletakkan sebuah toples kaca kecil di atas meja.
Di dalamnya, seekor kupu-kupu bersayap bening bergetar lemah.
“Aku ingin kau mengembalikan waktu yang dicuri.”
Ellis membeku. Mencuri waktu adalah kejahatan tertinggi di Astra.
“Siapa yang berani mencurinya darimu?”
“Bukan dariku.”
Wanita itu perlahan membuka cadarnya.
Ellis menahan napas.
Di balik kain hitam itu tidak ada wajah—tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya permukaan kulit pucat yang rata dan kosong.
“Waktu ini dicuri dari seluruh kota,” katanya. “Tidakkah kau sadar? Astra tidak pernah melihat matahari terbit selama tiga ratus tahun. Kita hidup dalam satu malam abadi karena seseorang telah memutar poros dunia ke belakang.”
Ellis menatap toples itu dengan saksama melalui lensa pembesarnya. Barulah ia menyadari: kupu-kupu itu bukan serangga biasa.
Makhluk itu adalah Detik Terakhir.
Jika ia mati, maka konsep “esok hari” akan lenyap untuk selamanya.
Pikiran Ellis mendadak berputar. Semua jam yang selama ini ia perbaiki untuk para bangsawan ternyata bukan sekadar aksesori mewah. Jam-jam itu adalah pompa mekanis yang menyedot masa depan kota demi membiayai keabadian pemiliknya.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Ellis, suaranya bergetar.
Wanita tanpa wajah itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah jam menara di pusat kota.
“Hancurkan Jantung Detak. Kembalikan kekacauan, maka kehidupan akan mengalir kembali.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih.
“Tapi ingat, Ellis. Jika waktu kembali normal, kau tak akan lagi menjadi pemuda. Kau telah hidup seribu tahun di ruangan ini.”
Ellis menunduk, menatap kedua tangannya yang masih halus dan kuat. Ia kemudian memandang kupu-kupu yang semakin melemah di dalam toples.
Ia punya pilihan.
Tetap hidup selamanya di dalam malam yang nyaman, sunyi, dan tak berubah.
Atau membiarkan waktu kembali menyentuh dunia—dan dirinya.
Tanpa sepatah kata, Ellis meraih palu berat dari sudut bengkelnya.
“Waktu bukan tentang seberapa lama kita bernapas,” gumamnya, “melainkan keberanian untuk membiarkan setiap detik berlalu tanpa penyesalan.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga abad, lonceng Astra tidak berdentang.
Sebagai gantinya, terdengar suara kaca pecah yang memekakkan telinga.
Lalu, sesuatu yang telah lama dilupakan seluruh kota muncul perlahan di ufuk timur: cahaya jingga.
Hangat. Asing. Indah.
Di tengah jalanan Astra, seorang lelaki tua berambut seputih salju tersenyum sambil memandang matahari untuk pertama—dan terakhir—kalinya.
Ia mengembuskan napas terakhir tepat ketika jarum jam di seluruh dunia bergerak maju satu detik.
Dan akhirnya, esok pun lahir kembali.
Pewarta : Davin Aditya/Fuad
Editor : Riyadi









