BATANG, Wawasannews.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada Agustus 2026, ratusan kader muda NU di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mulai menggelar pembahasan dan menyerap aspirasi dari tingkat daerah.
Lewat Musyawarah Besar Nahdliyin Muda Batang 2026, para peserta berkumpul untuk berdiskusi soal perkembangan organisasi, menyampaikan pandangan, sekaligus membicarakan arah NU ke depan.
Forum itu berlangsung dalam suasana terbuka. Sejumlah isu dibahas, mulai dari kepemimpinan organisasi, posisi NU di tengah masyarakat, hingga harapan generasi muda terhadap perjalanan organisasi ke depan.
Ketua Panitia Mubes Nahdliyin Muda Batang Candra Yudha Satria mengatakan ruang diskusi seperti ini dibutuhkan agar warga NU, terutama generasi muda, bisa menyampaikan gagasan dan aspirasi secara langsung.
Menurut dia, keterlibatan anak muda penting karena mereka menjadi bagian yang ikut menjaga dan melanjutkan peran organisasi di masa mendatang.
“Kami perlu menghadirkan ruang dialog yang sehat agar warga NU, khususnya generasi muda, dapat menyampaikan aspirasi dan pandangannya secara terbuka demi kemaslahatan organisasi,” kata Candra dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Ia menilai musyawarah di tingkat daerah juga menjadi cara untuk menangkap berbagai pandangan yang berkembang di kalangan nahdliyin menjelang muktamar.
Sebab, keputusan yang dihasilkan dalam forum nasional nantinya juga akan berpengaruh pada dinamika organisasi hingga ke daerah.
Bagi kader muda NU di Batang, forum seperti ini juga menjadi kesempatan menyampaikan harapan terhadap kepemimpinan organisasi ke depan.
Dalam forum tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Merah Putih, Nauval Fuad Hasyim, menyampaikan bahwa NU saat ini memiliki fondasi yang kuat sebagai masyarakat madani atau civil society.
Menurut dia, posisi itu membuat NU memiliki peran besar di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Meski begitu, ia menilai NU tetap perlu menjaga kemandirian agar mampu menjalankan fungsi organisasi secara utuh.
Nauval menyebut kemandirian itu mencakup berbagai aspek.
Mulai dari ekonomi, politik, hingga hal lain yang berkaitan dengan kehidupan organisasi dan kebermanfaatannya bagi masyarakat luas.
“Kemandirian bagi NU menjadi sesuatu yang mutlak, baik kemandirian ekonomi, kemandirian politik, maupun kemandirian dalam aspek lainnya,” ujarnya.
Pandangan tersebut mendapat respons serupa dari Pengasuh Pondok Pesantren Misykat Al Anwar Roy Murtadho.
Ia menilai NU perlu terus menjaga posisinya sebagai organisasi keagamaan yang punya peran sosial luas di masyarakat.
Menurut Roy, siapa pun yang nantinya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU harus mampu menjaga keberadaan NU tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Ia menyebut NU selama ini punya keterkaitan dengan banyak bidang.
Mulai dari pendidikan pesantren, kegiatan sosial masyarakat, persoalan ekonomi warga, sampai isu lingkungan hidup.
Karena itu, kepemimpinan ke depan dinilai perlu mampu membaca kebutuhan warga dan menjaga peran NU tetap berjalan di berbagai lini.
“Kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjalankan fungsi civil society secara maksimal,” kata Roy.
Ia juga mengingatkan hubungan antara organisasi dan pemerintah perlu dijaga secara terbuka dan kritis.
Menurut dia, posisi tersebut penting agar NU tetap bisa menyuarakan kepentingan masyarakat dan menjaga agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan bangsa secara luas.
Bagi warga NU di Jawa Tengah, termasuk Batang, pembahasan menjelang muktamar tentu cukup dekat dengan aktivitas keseharian.
Sebab banyak program organisasi di tingkat daerah berjalan melalui struktur NU dan jaringan pesantren.
Arah kebijakan di tingkat pusat sering berdampak pada pelaksanaan kegiatan sosial, pendidikan keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi warga di daerah.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 1 sampai 5 Agustus 2026.
Agenda utama muktamar tersebut salah satunya pemilihan Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya.
Menjelang agenda itu, berbagai diskusi di daerah diperkirakan terus berjalan.
Termasuk di Batang, yang kini mulai menjadi ruang bertemunya aspirasi kader muda untuk ikut memberi pandangan terhadap arah NU ke depan.
Lewat forum tersebut, para peserta berharap suara dari tingkat daerah bisa ikut menjadi bagian dalam pembahasan besar organisasi pada muktamar mendatang. (red)






