JAKARTA, Wawasannews.com – Lahir di pesisir utara Jawa, tepatnya di Demak pada 03 September 2000, Muhammad Najwa Sidqi tumbuh dalam lingkungan sederhana yang membentuk karakter tangguh dan peka terhadap persoalan rakyat kecil. Sejak kecil, Najwa telah akrab dengan kehidupan laut dan pertanian. Orang tuanya berprofesi sebagai guru dan pelaut, dua pekerjaan yang menggambarkan denyut nadi masyarakat pesisir. Dari sanalah ia belajar tentang kerja keras, kemandirian, dan arti bertahan hidup di tengah ketidakpastian sosio – ekonomi.
Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Miftahul Falah, kemudian melanjutkan ke MTS Miftahul Falah, dan MA Negeri Demak. Semasa SMA, Najwa tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menorehkan prestasi di bidang olahraga dengan meraih penghargaan sepak takraw tingkat kabupaten melalui kegiatan ekstrakurikuler. Semangat kompetitif dan kedisiplinan yang dibangun dari olahraga itu kemudian terbawa dalam perjalanan hidupnya.
Pada 2018, Najwa diterima di Universitas Negeri Semarang dan menyelesaikan studi pada 2024. Masa kuliah menjadi titik penting dalam pembentukan pemikiran sosial dan politiknya. Ia aktif di berbagai organisasi, mulai dari HIMA EP UNNES 2020, BEM FEB UNNES 2021, BEM KM UNNES 2022, hingga terlibat dalam BEM SI Kerakyatan 2022. Selain itu, ia juga aktif di PMII 2022, Maritim Muda Nusantara Daerah Jawa Tengah 2023, dan Penerus Negeri Jawa Tengah 2024.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak organisasinya sejatinya telah dimulai sejak remaja. Ia pernah terlibat di IPNU Ranting Desa Betahwalang, Karang Taruna Desa Betahwalang, Kelompok Nelayan Desa Betahwalang, hingga menjadi bagian dari OSIS MTS. Pengalaman berorganisasi dari desa hingga tingkat nasional membuat Najwa memahami dinamika kepemimpinan, advokasi, serta pentingnya keberpihakan terhadap masyarakat kecil.
Selain aktif di dunia organisasi, Najwa memiliki hobi mendaki gunung dan membaca buku. Kegiatan pecinta alam yang ia jalani sejak mahasiswa bukan sekadar hobi, melainkan cara membangun kedekatan dengan alam sekaligus merenungi realitas sosial. Baginya, gunung mengajarkan ketahanan dan strategi, sementara buku membuka cakrawala berpikir.
Selepas lulus kuliah, Najwa memilih merantau ke ibu kota. Ia mempertaruhkan masa depan demi kehidupan yang lebih layak dan kesempatan berkontribusi untuk bangsa dan negara, karena terinspirasi oleh Sutan Sjahrir bahwasanya “ hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan “. Di Jakarta, ia bergerak di bidang sosial-ekonomi dan politik. Pengalaman hidup di pesisir dan interaksi langsung dengan masyarakat bawah membuatnya memiliki gagasan kuat tentang arah ideal Indonesia sebagai negara kepulauan.
Dalam perjalanan asamaranya sendiri najwa belum melabuhkan hatinya kepada seseorang perempuan. Jika dia menemukan kartininya , ia akan memperjuangkan dan hidup bersama selamanya.
Menurut Najwa, Indonesia harus memperkuat identitasnya sebagai negara maritim dengan memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi secara merata. Ia menekankan bahwa akses kesehatan dan pendidikan bukan sekadar program, melainkan hak dasar warga negara yang wajib dijamin negara. Landasan konstitusionalnya jelas, sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) tentang hak memperoleh pelayanan kesehatan, serta Pasal 31 ayat (1) dan (2) yang menegaskan hak atas pendidikan dan kewajiban negara membiayai pendidikan dasar.
Dalam pandangannya, pembangunan ekonomi tidak boleh meninggalkan masyarakat pesisir dan pedesaan. Negara harus hadir melalui kebijakan yang berpihak, mulai dari penguatan sektor kelautan, perlindungan nelayan, hingga distribusi anggaran pendidikan dan kesehatan yang adil.
Dengan latar belakang sederhana, pengalaman organisasi yang panjang, serta gagasan yang berakar dari realitas rakyat kecil, Muhammad Najwa Sidqi hadir sebagai representasi generasi muda pesisir yang membawa harapan perubahan. Perjalanannya dari laut Demak hingga ibu kota menjadi simbol bahwa tekad, pendidikan, dan keberanian bermimpi mampu menembus batas geografis maupun sosial.
Salam,
Tanah Tuhan milik Semesta








