KENDAL, Wawasannews.com – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung dengan nuansa berbeda di Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman, Kaliwungu, Kendal. Para santri mengikuti upacara kemerdekaan dengan mengenakan sarung sebagai pakaian khas santri.
Tidak hanya peserta, sejumlah petugas upacara juga tampil mengenakan sarung. Suasana khidmat tetap terasa ketika para santri mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan tertib di lingkungan pondok pesantren.
Tradisi upacara kemerdekaan dengan mengenakan sarung tersebut bukan kali pertama dilakukan. Kegiatan ini telah menjadi agenda rutin di Ponpes APIK Kauman dan telah dilaksanakan selama sekitar delapan tahun terakhir.
Bagi keluarga besar pesantren, sarung bukan sekadar pakaian sehari-hari santri, tetapi juga menjadi simbol identitas dan tradisi yang tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Pengasuh Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu, Gus Aden Sanaya, mengatakan peringatan kemerdekaan menjadi momentum penting bagi santri untuk memahami bahwa pesantren dan para ulama memiliki bagian dalam perjalanan perjuangan bangsa.
Menurutnya, perjuangan santri pada masa kini memiliki bentuk yang berbeda dengan perjuangan para pendahulu. Jika dahulu kemerdekaan dipertahankan dengan keberanian dan pengorbanan, maka generasi santri saat ini memiliki tugas menjaga kemerdekaan melalui ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian.
“Kalau dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata, maka perjuangan santri hari ini dapat dilakukan dengan mengangkat pena, mengembangkan ilmu, menjaga akhlak, membangun ekonomi, mengabdi kepada masyarakat, serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.
Ia menegaskan, menjadi santri di era sekarang tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual. Ilmu harus berjalan bersama akhlak dan sikap tawadhu’. Santri boleh memiliki kemampuan tinggi, tetapi tidak boleh merendahkan orang lain maupun melupakan guru dan orang tua.
Gus Aden juga mengingatkan santri agar mampu menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri. Media sosial dan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk kemajuan, tetapi penggunaannya harus tetap dilandasi etika dan tanggung jawab.
“Santri tidak boleh anti terhadap perubahan, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah karena perubahan. Pegangan kita adalah ilmu, adab, tradisi keilmuan pesantren, dan nilai-nilai Islam,” katanya.
Ia mendorong santri agar mampu menjadi generasi yang menguasai kitab kuning sekaligus memahami perkembangan zaman, tekun mengaji sekaligus mampu memanfaatkan teknologi, serta mencintai tradisi dengan tetap memiliki visi masa depan.
Melalui upacara kemerdekaan dengan sarung tersebut, Ponpes APIK Kauman tidak hanya mempertahankan tradisi pesantren, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan kepada para santri.
Kemerdekaan, lanjut Gus Aden, harus diisi dengan membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, kebencian, perpecahan, serta berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan bangsa.
Upacara yang digelar secara rutin selama delapan tahun terakhir itu pun menjadi pengingat bahwa menjadi santri sekaligus bagian dari bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab besar. Dari lingkungan pesantren, para santri diharapkan tumbuh menjadi generasi yang alim, berakhlak, mandiri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pewarta : Redaksi
Editor : Riyadi






