MAGELANG, Wawasannews.com — Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan bahwa masyarakat Kota Magelang terus menjaga kehidupan yang harmonis dan rukun di tengah keberagaman.
Di kutip dari antaranewsjateng.com, Hal tersebut disampaikan di sela kegiatan Kirab Salib Tahun 2026 yang digelar umat Katolik Gereja Paroki Santo Ignatius Kota Magelang dalam rangka memperingati Jumat Agung, Jumat (3/4/2026). Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Jadi ke-1.120 Kota Magelang yang diperingati setiap 11 April.
“Ini bukan hanya bagian penting dari kehidupan umat Katolik, tetapi juga menjadi cerminan kehidupan sosial masyarakat Kota Magelang yang harmonis dan rukun meski dalam keberagaman,” ujar Damar.
Ia memberikan apresiasi atas ketertiban dan kekhidmatan penyelenggaraan kirab yang berlangsung di kawasan Alun-Alun Kota Magelang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga simbol kuatnya toleransi di tengah masyarakat.
Damar menilai Kirab Salib memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata religi yang dapat masuk dalam agenda tahunan Kota Magelang.
“Apabila diselenggarakan dengan optimal, ini memberikan nilai tambah bagi seluruh masyarakat dan memperkuat dinamika kehidupan kota yang inklusif,” tambahnya.
Ketua Panitia Kirab Salib 2026, Albertus Indra Febriawan, menjelaskan bahwa selain menjadi momen perenungan wafat Yesus Kristus, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk mendoakan kesejahteraan Kota Magelang.
“Ini menjadi titik mulai kami bersyukur untuk Kota Magelang. Kami berdoa agar kota ini tetap nyaman, asri, dan warganya saling peduli. Kami juga ingin meneguhkan posisi umat Katolik dalam mendukung keharmonisan kota,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan kirab tahun ini, untuk pertama kalinya relik salib Yesus yang tersimpan di Gereja Santo Ignatius sejak tahun 1900 dibawa keluar untuk diarak.
“Kami tampilkan relik salib Yesus yang asal-usulnya dari Yerusalem. Ini kali pertama dikirab di Kota Magelang. Sejak 1894 data tersebut ada, dan gereja ini berdiri tahun 1900, relik tersebut biasanya hanya berada di dalam,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada aparat keamanan, Banser, dan berbagai pihak yang turut mengawal jalannya kirab sehingga berlangsung aman dan lancar.
“Kota Magelang sudah dikenal sebagai kota toleran, dan hari ini kita buktikan bersama. Harapannya damai, sukacita, dan toleransi ini terus terjaga,” katanya.
Sementara itu, Kepala Gereja Paroki Santo Ignatius Kota Magelang Romo FX Alip Suwito menyebutkan sebanyak 13 “salib pengharapan” dari 13 wilayah paroki diarak dalam kirab oleh sekitar 1.200 umat.
Setiap wilayah membawa ikon salib unik serta benda-benda rohani untuk diberkati pada akhir rangkaian ibadah. (red)









