OPINI, Wawasannews.com – Dalam perjalanan hidup, ada fase ketika seseorang merasa lelah tanpa sebab yang jelas. Tidak ada masalah besar yang tampak di permukaan, namun pikiran dan perasaan seolah kehilangan arah. Kondisi ini kerap dialami banyak orang, tetapi jarang dibicarakan karena dianggap sebagai tanda kelemahan atau kurangnya rasa syukur.
Padahal, rasa lelah dan kebingungan bukanlah kegagalan. Justru, hal tersebut merupakan sinyal bahwa seseorang sedang berada pada tahap evaluasi diri. Tekanan yang dirasakan tidak selalu berasal dari luar, melainkan dari tuntutan batin, ekspektasi lingkungan, serta dorongan untuk segera menentukan arah hidup. Ketika semua itu datang bersamaan, wajar jika seseorang merasa terhenti dan ragu melangkah.
Sering kali, solusi secara logika sudah diketahui, namun secara emosional belum siap dijalankan. Jarak antara akal dan kesiapan hati inilah yang membuat seseorang merasa buntu. Kondisi tersebut tidak seharusnya disikapi dengan menyalahkan diri sendiri, melainkan dengan memahami bahwa setiap individu memiliki proses dan waktu yang berbeda.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam situasi seperti ini, motivasi tidak selalu berarti melakukan perubahan besar. Terkadang, langkah kecil justru lebih bermakna: memberi ruang untuk bernapas, mengurangi tekanan yang tidak perlu, serta berani mengakui bahwa diri sedang lelah. Kesadaran semacam ini merupakan awal dari pemulihan dan pertumbuhan.
Penting bagi setiap orang untuk menyadari bahwa merasa tersesat bukan berarti kehilangan tujuan hidup. Kebingungan hari ini tidak menentukan masa depan selamanya. Selama seseorang masih mau bertahan, berpikir, dan perlahan melangkah, harapan tetap ada. Hidup bukan tentang seberapa cepat mencapai tujuan, melainkan tentang keberanian untuk terus bergerak meski arah belum sepenuhnya jelas.~mahkota jr~








