KENDAL, Wawasannews.com – Program Santri Camp yang digelar Madrasah Budaya Pungkuran, Kaliwungu, Kabupaten Kendal, menjadi ruang pembelajaran alternatif bagi santri laju untuk memperkuat karakter, kemandirian, dan kreativitas. Kegiatan ini diikuti puluhan anak dari lingkungan sekitar dan berlangsung selama tiga hari.
Santri laju merupakan santri yang menempuh pendidikan pesantren tanpa harus menetap di asrama. Selama ini, mereka datang ke pesantren untuk mengaji dan belajar ilmu agama, kemudian kembali ke rumah masing-masing. Melalui Santri Camp, para santri diajak merasakan suasana kehidupan santri secara lebih utuh, layaknya santri mukim di pondok pesantren.
Program ini dirancang tidak hanya untuk memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga sebagai sarana penguatan karakter dan peningkatan kapasitas diri. Beragam aktivitas disusun untuk melatih kerja sama, kreativitas, tanggung jawab, serta keterampilan hidup santri.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah pelatihan memasak dengan materi pembuatan pizza. Didampingi juru masak profesional, para santri tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari menyiapkan adonan, mengoperasikan tungku pemanas, hingga menata aneka toping sesuai selera. Bahan-bahan seperti bawang bombay, saus pedas manis, sosis, dan bakso dibawa langsung oleh para santri dari rumah.
Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran, Abdul Muis, mengatakan Santri Camp merupakan bagian dari ikhtiar pesantren dalam membentuk santri yang tidak hanya religius, tetapi juga mandiri dan kreatif.
“Santri Camp ini diharapkan dapat memberikan keterampilan dan bekal kepada santri laju agar mereka memiliki karakter, kepribadian, serta kepercayaan diri yang kuat,” ujar Abdul Muis yang akrab disapa Gus Muis.
Menurutnya, kegiatan memasak dipilih sebagai media pembelajaran karakter. Melalui aktivitas tersebut, santri belajar berkreasi, mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, serta bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Sementara itu, juru masak pizza, Arfi Cahya Fetrianto, menjelaskan bahwa seluruh bahan pizza merupakan bawaan santri sendiri. Para santri juga diberi kebebasan menentukan toping sesuai keinginan masing-masing.
“Dengan cara ini, santri dilatih untuk berani menentukan pilihan dan diharapkan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Arfi.
Selain pelatihan keterampilan, Santri Camp tetap menekankan penguatan ilmu agama. Para santri laju mendapatkan pembelajaran mengaji kitab kuning, tahfidz tematik, fikih ibadah, hingga fikih kontemporer. Madrasah Budaya Pungkuran juga menyediakan berbagai program pengembangan minat dan bakat, seperti madrasah musik, seni lukis, seni teater, jurnalistik digital, public speaking, serta bahasa Inggris.
Konsep santri laju atau santri kalong sendiri merupakan model pendidikan pesantren yang lebih inklusif. Dalam bahasa Kaliwungu, “laju” atau “nglaju” berarti pulang atau kembali ke rumah, menegaskan bahwa menjadi santri tidak harus selalu tinggal di pondok pesantren.
Melalui program Santri Camp, Madrasah Budaya Pungkuran ingin menegaskan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan agama, merupakan hak setiap anak. Karena itu, pesantren diharapkan mampu hadir secara ramah di tengah masyarakat dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.
Dengan adanya Santri Camp, para santri laju diharapkan tidak hanya mengisi waktu dengan kegiatan positif, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang religius, kreatif, mandiri, serta siap menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. (fad)








