Ketua DPRD Kendal Dukung Rencana Kembalinya Sekolah 6 Hari, Paparkan Tujuh Alasan

- Pewarta

Selasa, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPRD Kendal, Mahfud Sodiq  menilai kebijakan ini lebih sesuai dengan kondisi psikologis siswa, sarana prasarana sekolah, serta kehidupan keluarga di tingkat akar rumput. Dok Pribadi. (Wawasannews)

Ketua DPRD Kendal, Mahfud Sodiq menilai kebijakan ini lebih sesuai dengan kondisi psikologis siswa, sarana prasarana sekolah, serta kehidupan keluarga di tingkat akar rumput. Dok Pribadi. (Wawasannews)

KENDAL, Wawasannews.com – Rencana diberlakukannya kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) enam hari sekolah di Jawa Tengah mendapat dukungan dari Ketua DPRD Kendal. Ia menilai kebijakan tersebut menjawab berbagai persoalan yang muncul selama penerapan lima hari sekolah, terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Menurut Ketua DPRD Kendal, keputusan mengembalikan pola belajar enam hari bukan sekadar perubahan jadwal, tetapi upaya menyesuaikan pendidikan dengan kondisi riil siswa dan sekolah di lapangan. Setidaknya terdapat tujuh alasan yang menurutnya mendukung penerapan kembali KBM enam hari.

Pertama, aspek psikologis siswa. Anak usia SD dan SMP memiliki keterbatasan daya serap setelah pukul 13.00. Mengutip kajian psikologi, Ketua DPRD menjelaskan bahwa pada jam-jam tersebut kemampuan konsentrasi siswa hanya sekitar 60 persen. “Kalau belajar dipaksakan hingga pukul 15.00, materi pelajaran tidak bisa terserap maksimal,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).

Kedua, aspek sarana dan prasarana. Banyak sekolah di Jawa Tengah belum memiliki musala, masjid, maupun fasilitas wudu yang memadai untuk seluruh siswa dan guru. Kondisi ini membuat pelaksanaan ibadah zuhur berjamaah menjadi tidak optimal meski sudah dilakukan bergantian. Kekurangan sarpras tersebut dinilai menjadi kendala yang terus berulang selama lima hari sekolah diterapkan.

Ketiga, aspek keamanan. Pulangnya siswa pada waktu yang bersamaan dengan buruh atau pekerja membuat transportasi umum lebih padat. Beberapa daerah bahkan melaporkan siswa yang sampai pulang menjelang malam. “Situasi ini rawan bullying, kerawanan sosial, maupun potensi kriminalitas di perjalanan,” ujarnya.

Keempat, aspek pengembangan kompetensi nonakademik. Penerapan lima hari sekolah dinilai mengurangi ruang gerak siswa untuk mengembangkan bakat olahraga, seni, dan keterampilan lainnya. Waktu bermain dan interaksi sosial anak dengan lingkungan rumah juga ikut berkurang.

Kelima, aspek geografis. Sekolah-sekolah di pegunungan dan pedesaan masih kesulitan akses transportasi. Kondisi ini paling berdampak pada anak perempuan yang harus menempuh perjalanan lebih jauh ketika pulang sore.

Keenam, aspek mental spiritual. Jawa Tengah memiliki lebih dari 10 ribu madrasah diniyah dan puluhan ribu TPQ, dengan 60 persen siswa adalah anak SD dan SMP. Lembaga-lembaga pendidikan keagamaan tersebut biasanya mulai belajar pukul 14.00. “Selama lima hari sekolah diberlakukan, banyak anak tidak bisa mengikuti kegiatan madrasah maupun TPQ,” katanya.

Ketujuh, aspek ketahanan keluarga. Di banyak daerah, anak dari keluarga kurang mampu biasanya membantu orang tua sepulang sekolah—mulai dari menjaga adik, ikut ke sawah, berdagang, hingga membantu pekerjaan rumah. Jadwal pulang yang terlalu sore membuat peran sosial anak di rumah terganggu.

Ketua DPRD Kendal menegaskan bahwa dukungan terhadap KBM enam hari bukanlah bentuk penolakan terhadap inovasi pendidikan, tetapi penyesuaian berdasarkan kondisi riil di masyarakat. Ia berharap kebijakan baru yang disusun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah nantinya mempertimbangkan masukan dari daerah agar pelaksanaannya berjalan efektif.

“Intinya, kebijakan pendidikan harus berpihak pada kebutuhan anak, kemampuan sekolah, serta realitas sosial di masyarakat,” katanya.
Ia juga mengajak pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain untuk bersama-sama memastikan implementasi hari sekolah enam hari berjalan tertib dan tidak menambah beban bagi siswa maupun guru. (fuad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Mahfud Sodiq: 2.503 Anggota Pramuka Kendal Lolos Seleksi Ketat Raih Predikat Pramuka Garuda
PKB Kendal Gelar Ta’aruf dan Upgrading Pengurus, Bidik Hattrick Pemilu 2029
Kementan Salurkan Bantuan Alsintan dan Pompa Air di Kendal
Dengar Aspirasi Warga, Ketua Komisi C DPRD Kendal Dorong Program Agroforestry untuk Kurangi Risiko Banjir dan Longsor
Kendal Open Fair 2026 Ditutup dengan Kendal Bersholawat, Dikunjungi 462 Ribu Orang dan Catat Omzet Rp60,65 Miliar
Petani Muda Kendal Disiapkan Hadapi Era Pertanian Modern Berbasis AI
Usai Dipanggil Polda Jateng, DPRD Kendal Minta Mora Sandhy Tak Ikuti Agenda Kedewanan Sementara
PSIS Semarang Resmi Pertahankan Raffinha, Penyerang Brasil Ini Siap Antar Mahesa Jenar Kejar Promosi

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:30

Mahfud Sodiq: 2.503 Anggota Pramuka Kendal Lolos Seleksi Ketat Raih Predikat Pramuka Garuda

Jumat, 31 Juli 2026 - 22:56

PKB Kendal Gelar Ta’aruf dan Upgrading Pengurus, Bidik Hattrick Pemilu 2029

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:42

Kementan Salurkan Bantuan Alsintan dan Pompa Air di Kendal

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:54

Dengar Aspirasi Warga, Ketua Komisi C DPRD Kendal Dorong Program Agroforestry untuk Kurangi Risiko Banjir dan Longsor

Rabu, 29 Juli 2026 - 12:58

Kendal Open Fair 2026 Ditutup dengan Kendal Bersholawat, Dikunjungi 462 Ribu Orang dan Catat Omzet Rp60,65 Miliar

Berita Terbaru

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian RI, Andi Nur Alam Syah, menyerahkan secara simbolis bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari saat kunjungan kerja di Dukuh Saren, Desa Sidomukti, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Kamis (30/7/2026). (Istimewa/Wawasannews)

Jawa Tengah

Kementan Salurkan Bantuan Alsintan dan Pompa Air di Kendal

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:42