KENDAL, Wawasannews – Ketua DPRD Kendal Mahfud Sodiq, S.Pd.I., mendorong para santri agar tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mengembangkan keterampilan, dan mandiri secara ekonomi.
Menurutnya, santri memiliki modal penting untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah, mulai dari bekal ilmu agama, akhlak, kedisiplinan, hingga tradisi keilmuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren.
Mahfud menilai, santri harus memiliki keberanian untuk mengambil peran lebih luas, baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun pemerintahan.
“Santri jangan pernah minder. Santri memiliki bekal ilmu agama, akhlak, dan kedisiplinan yang kuat. Namun, mereka juga harus terus belajar, menguasai teknologi, dan meningkatkan keterampilan agar mampu menghadapi tantangan zaman,” kata Mahfud.
Perjalanan Mahfud hingga menduduki kursi Ketua DPRD Kendal tidak terlepas dari latar belakang pendidikan pesantren dan proses panjang dalam berorganisasi. Ia pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Boja dan Pondok Pesantren Fathul Mubarok Temanggung.
Pengalamannya dalam organisasi juga dimulai sejak muda. Mahfud pernah menjabat Ketua PAC IPNU Patean, Wakil Ketua PC IPNU Kendal, hingga Wakil Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah. Ia juga pernah menjadi anggota GP Ansor Kota Semarang.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi yang membentuk pengalaman kepemimpinannya. Sebelum menjabat Ketua DPRD Kendal pada 2024, Mahfud pernah menjadi Ketua Komisi D DPRD Kendal pada 2019.
Dari pengalaman tersebut, ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak bisa dibangun secara instan. Dibutuhkan proses panjang, pengabdian, serta kesediaan untuk belajar dan bertanggung jawab.
“Santri harus berani mengambil peran di berbagai bidang. Tetap menjaga akhlak, menghormati perbedaan, memegang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, serta mencintai bangsa dan negara,” pesannya.
Pesantren Harus Semakin Mandiri
Mahfud juga memandang pesantren sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga membentuk karakter dan kepedulian sosial masyarakat.
Karena itu, dukungan terhadap pesantren perlu dilakukan melalui kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan. Bentuknya dapat berupa peningkatan sarana dan prasarana, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas pendidik, serta program pemberdayaan ekonomi.
DPRD, lanjutnya, memiliki fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang dapat digunakan untuk mendorong kebijakan pendidikan keagamaan. Pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan kewenangan pemerintah daerah, ketentuan peraturan perundang-undangan, serta kemampuan keuangan daerah.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap guru madrasah dan pendidik pesantren. Pengalaman Mahfud sebagai Kepala MTs NU 29 Patean pada 2008 memberinya gambaran mengenai peran pendidik dalam membentuk masa depan generasi muda.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi dan perhatian terhadap kesejahteraan guru.
“Guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi teladan bagi para siswa. Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan dan kompetensi pendidik,” menjadi salah satu poin yang ditekankan dalam draf wawancara tersebut.
Dorong Santri Berwirausaha
Selain pendidikan, kemandirian ekonomi santri juga menjadi perhatian. Mahfud menilai pesantren memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan, mulai dari pertanian, peternakan, kuliner, perdagangan, hingga produk kreatif.
Pengembangan program santripreneur dinilai dapat membuka peluang usaha sekaligus memperkuat kemandirian pesantren dan masyarakat di sekitarnya.
Untuk mewujudkannya, santri perlu memperoleh akses terhadap pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha, literasi keuangan, pemasaran digital, serta jaringan pemasaran yang lebih luas.
Modernisasi fasilitas pendidikan keagamaan juga perlu menjadi perhatian, terutama terkait kelayakan ruang belajar, sanitasi, dan sarana pendukung pembelajaran.
Mahfud menegaskan, dukungan kebijakan dan anggaran perlu diarahkan agar memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat.
“Pesantren memiliki potensi yang besar. Jika dikelola dengan baik, potensi tersebut dapat membuka peluang kerja dan meningkatkan kemandirian pesantren maupun masyarakat di sekitarnya,” demikian poin komitmen yang perlu dikonfirmasi kepada Mahfud.
Satukan Nilai Pesantren dan Kepramukaan
Di luar tugasnya sebagai Ketua DPRD Kendal, Mahfud juga dipercaya menjadi Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kendal. Ia melihat adanya kesamaan nilai antara pendidikan pesantren dan kepramukaan, terutama dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, pembentukan karakter generasi muda perlu dilakukan melalui praktik nyata, seperti kegiatan sosial, pelatihan kepemimpinan, kerja sama, dan pembiasaan bertanggung jawab.
Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, madrasah, pesantren, hingga masyarakat.
Mahfud berharap santri Kendal dapat tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan kecintaan terhadap bangsa. (red)






