KENDAL, Wawasannews – Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Kendal terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal agar memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Vokasi Nasional Batch 6 Tahun 2026 yang diikuti 80 peserta.
Program pelatihan yang dibuka pada Rabu (28/10/2026) di UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kendal, Desa Jenarsari, Kecamatan Gemuh, tersebut mencakup dua kejuruan, yakni operator garmen dan pengelasan.
Kepala Disperinaker Kendal, Ardy Prasetyo, mengatakan, pelatihan vokasi menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan memiliki daya saing. Melalui pembekalan keterampilan, pencari kerja diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor industri.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin menyiapkan tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Dengan begitu, mereka memiliki bekal kompetensi untuk bersaing dan mengisi peluang kerja yang tersedia,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pembangunan sektor ketenagakerjaan di Kabupaten Kendal. Karena itu, pelatihan diarahkan pada bidang keterampilan yang dapat diterapkan langsung di lingkungan kerja.
Pada Batch 6 tahun ini, sebanyak 64 peserta mengikuti pelatihan operator garmen yang terbagi dalam empat kelas. Sementara itu, 16 peserta lainnya mengikuti pelatihan Fillet Welder SMAW 2F/PB Kualifikasi 2.
Kedua program tersebut dirancang dengan memadukan pembelajaran teori dan praktik. Materi pelatihan juga mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) agar keterampilan yang diperoleh peserta sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Ia berharap, dengan pelatihan ini semakin banyak tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan terstandar dan siap bersaing di pasar kerja.

Kepala UPTD BLK Kendal, Hendro Setiyo Utomo, S.IP., M.Sos., menjelaskan, pelatihan operator garmen berlangsung selama 23 hari atau 180 jam pelajaran. Peserta dibekali keterampilan mengoperasikan mesin jahit lockstitch, mesin obras, mesin lubang kancing, teknik penyetrikaan, serta materi pendukung mengenai produktivitas dan keterampilan kerja.
Adapun pelatihan pengelasan berlangsung selama 20 hari atau 160 jam pelajaran. Peserta mempelajari keselamatan dan kesehatan kerja (K3), persiapan material, teknik pengelasan sudut posisi horizontal menggunakan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW), hingga pemeriksaan visual hasil pengelasan.
“Pelatihan Batch 6 ini kami rancang untuk menjawab kebutuhan riil dunia usaha dan dunia industri. Kami ingin memastikan peserta memiliki keterampilan teknis, kedisiplinan, dan kemampuan kerja yang dibutuhkan perusahaan,” jelas Hendro.
Salah satu keunggulan program pelatihan vokasi ini adalah seluruh biaya ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan demikian, peserta tidak dipungut biaya untuk mengikuti pelatihan.
Selain mendapatkan pembelajaran teori dan praktik, peserta memperoleh seragam, makan siang, bantuan transportasi, modul pembelajaran, serta perlindungan jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM) melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Peserta juga mendapatkan sertifikat pelatihan resmi serta fasilitas sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Lulusan operator garmen dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri pakaian jadi dan konveksi. Sementara itu, peserta pelatihan pengelasan diarahkan untuk memiliki keterampilan yang relevan dengan sektor manufaktur, fabrikasi logam, konstruksi, hingga galangan kapal.
Pelatihan dilaksanakan dengan sistem nonasrama atau pulang-pergi, setiap Senin hingga Sabtu pukul 07.00–14.30 WIB. (Red)






