KENDAL, Wawasannews – Sejumlah peternak telur meluapkan keberatan dengan mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tlahap, Kabupaten Kendal, Kamis (15/10/2026) sore. Mereka memprotes dugaan pembelian telur di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) dan mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen SPPG tersebut.
Namun, kedatangan para peternak yang dipimpin perwakilan mereka, Subakir, itu tidak mendapat respons dari pengelola. Pintu bangunan SPPG tertutup rapat sehingga mereka tidak bisa bertemu langsung untuk menyampaikan tuntutan.
Para peternak kemudian membentangkan sejumlah poster di pintu gerbang. Mereka meminta BGN menindaklanjuti laporan yang telah disampaikan dan menjatuhkan sanksi tegas apabila dugaan pelanggaran terbukti.
Subakir mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk keberatan atas persoalan harga pembelian telur yang dinilai tidak sesuai dengan harga acuan. Mereka meminta pengelola SPPG menjelaskan secara terbuka dasar penentuan harga dan mekanisme pengadaan telur.
Menurutnya, persoalan itu bukan sekadar menyangkut transaksi antara pemasok dan pembeli. Para peternak khawatir praktik pembelian di bawah harga acuan dapat memengaruhi harga telur di tingkat peternak rakyat jika diikuti SPPG lainnya.
Selain mempersoalkan harga, para peternak juga meminta pemilik SPPG Tlahap, Rosida, memberikan klarifikasi atas sejumlah pernyataan yang mereka persoalkan. Mereka menyinggung nama seorang anggota LSM bernama Mario Sandi yang, menurut mereka, disebut sebagai pihak yang membekingi SPPG dan ingin diadu dengan peternak.
Peternak juga meminta transparansi mengenai koperasi yang disebut menjadi pemasok telur untuk SPPG Tlahap.
Subakir menyebut, pihaknya telah melayangkan surat kepada BGN agar laporan tersebut segera ditindaklanjuti. Mereka mendesak penutupan permanen apabila dugaan pelanggaran yang dilaporkan terbukti.
Para peternak turut meminta penjelasan mengenai dasar penetapan harga pembelian telur di SPPG. Mereka mempersoalkan harga yang disebut berada pada kisaran Rp 26.000 hingga Rp 26.500 per kilogram.
Sementara itu, Ketua Paguyuban SPPG Kendal, Sugiono, mengatakan pihaknya telah menyosialisasikan kepada seluruh SPPG agar membeli telur sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP).
“Kita sudah sosialisasikan ke semua SPPG agar membeli dengan harga sesuai HAP. Karena kita itu hanya sekadar membelanjakan uang dari pemerintah,” katanya.
Sugiono menjelaskan, pengadaan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diarahkan untuk menggerakkan perekonomian berbagai kalangan. Karena itu, SPPG dapat membeli telur dari beragam pemasok, termasuk peternak dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ini agar menghidupkan perekonomian semuanya,” ujarnya.
Hingga berita ini disusun, pemilik SPPG Tlahap, Rosida, belum berhasil ditemui untuk dimintai keterangan terkait protes dan tuntutan para peternak tersebut. (ags)






