SPORT, Wawasannews.com – Perjalanan Manchester City di UEFA Champions League musim ini kembali harus berakhir lebih cepat setelah dikalahkan Real Madrid. Kekalahan tersebut memperpanjang catatan pahit tim asuhan Pep Guardiola di kompetisi elite Eropa.
Pada pertandingan leg kedua yang berlangsung di Etihad Stadium, Real Madrid berhasil meraih kemenangan 2-1 sekaligus memastikan keunggulan agregat 5-1 atas Manchester City. Hasil ini memperlihatkan perbedaan besar dalam hal pengalaman serta mentalitas bermain di Liga Champions.
City sebenarnya datang ke pertandingan dengan misi berat setelah kalah 0-3 pada leg pertama. Mereka membutuhkan kemenangan besar untuk membalikkan keadaan. Namun situasi menjadi semakin sulit ketika gelandang mereka, Bernardo Silva, menerima kartu merah pada menit ke-20 setelah melakukan pelanggaran di area berbahaya.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Wasit kemudian memberikan penalti kepada Real Madrid yang sukses dieksekusi oleh Vinícius Júnior. Gol tersebut membuat tekanan terhadap tuan rumah semakin besar.
Meski harus bermain dengan 10 pemain, Manchester City sempat memberikan perlawanan. Striker andalan mereka, Erling Haaland, berhasil mencetak gol penyeimbang sebelum turun minum dan sempat membangkitkan harapan publik Etihad.
Namun Real Madrid kembali menunjukkan kualitas serta ketenangan mereka dalam pertandingan besar. Gol kemenangan yang tercipta pada masa injury time memastikan langkah klub asal Spanyol itu melaju ke babak berikutnya, sekaligus mengakhiri perjalanan Manchester City di Liga Champions musim ini.
Kekalahan ini menambah daftar panjang kegagalan City di Eropa sejak kedatangan Pep Guardiola pada tahun 2016. Saat itu, Guardiola diharapkan mampu membawa klub tersebut menjadi penguasa Liga Champions setelah sukses besar bersama Barcelona dan Bayern Munchen.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Manchester City telah menggelontorkan dana yang sangat besar dalam membangun skuad. Diperkirakan lebih dari 1 miliar pound atau sekitar Rp20 triliun telah diinvestasikan klub untuk mendatangkan pemain-pemain bintang di berbagai lini.
Guardiola juga hampir selalu mendapatkan pemain yang diinginkannya. Mulai dari bek kelas dunia, gelandang kreatif, hingga penyerang tajam seperti Erling Haaland. Namun besarnya investasi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan prestasi di Liga Champions.
Sepanjang era Guardiola, Manchester City baru mampu meraih satu gelar Liga Champions, yakni pada tahun 2023 ketika mereka mengalahkan Inter Milan di partai final yang berlangsung di Istanbul. Saat itu kemenangan tersebut sempat dianggap sebagai awal dominasi baru City di kompetisi Eropa.
Namun setelah itu, perjalanan mereka kembali diwarnai kegagalan di fase gugur. Kekalahan demi kekalahan membuat trofi tersebut terlihat seperti pengecualian, bukan sebagai bagian dari konsistensi prestasi yang diharapkan dari klub sebesar Manchester City.
Menariknya, kegagalan di Eropa justru berbanding terbalik dengan dominasi Manchester City di kompetisi domestik. Bersama Pep Guardiola, City menjelma menjadi salah satu kekuatan terbesar di Premier League dan kerap mendominasi perburuan gelar.
Gaya permainan yang diterapkan Guardiola bahkan membawa pengaruh besar terhadap perkembangan taktik sepak bola di Inggris. Banyak klub lain mulai mengadaptasi pendekatan permainan berbasis penguasaan bola yang menjadi ciri khas pelatih asal Spanyol tersebut.
Meski demikian, Liga Champions tetap menjadi ujian berbeda bagi Manchester City. Kompetisi ini menuntut mental juara, pengalaman panjang, serta ketepatan strategi di momen-momen krusial.
Sebaliknya, Real Madrid kembali membuktikan reputasi mereka sebagai raja Eropa. Klub asal Spanyol itu memiliki tradisi kuat di Liga Champions dan dikenal mampu tampil maksimal pada pertandingan-pertandingan penting.
Kemenangan ini juga menandai ketiga kalinya secara beruntun Real Madrid menyingkirkan Manchester City di Liga Champions. Fakta tersebut semakin mempertegas bahwa pengalaman dan mentalitas di kompetisi Eropa masih menjadi keunggulan yang dimiliki Los Blancos.
Bagi Manchester City, kegagalan ini tentu menjadi bahan evaluasi besar. Sementara bagi Real Madrid, kemenangan tersebut semakin mengukuhkan status mereka sebagai salah satu tim paling berpengalaman dan berbahaya di panggung Liga Champions.









