Bukan Fisik, Tapi Hati ( cerpen )

- Pewarta

Senin, 19 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

istimewa/wawasannews

istimewa/wawasannews

“Kenapa sekarang kamu jarang terlihat jalan sama siapa-siapa?” tanya seorang teman sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.

Aku tersenyum tipis. “Bukan kenapa-kenapa. Cuma merasa nggak perlu.”

Ia menatap sebentar, seolah menimbang jawabanku. “Padahal dulu, kamu gampang dekat sama siapa pun.”

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku mengangguk pelan. Dulu memang begitu. Perhatian datang tanpa dicari. Pergaulan kampus, rasa percaya diri, dan usia muda membuat semuanya terasa mudah. Pacaran, jalan berdua, nongkrong sampai malam, semua pernah dilewati. Tapi entah sejak kapan, ada rasa kosong yang muncul, tanpa sebab yang jelas.

“Capek?” ia kembali bertanya.

“Mungkin,” jawabku. “Atau mungkin aku mulai sadar, nggak semua yang terlihat menyenangkan itu benar-benar penting.”

Aku terdiam sejenak. Dalam hati, pertanyaan itu sering datang sendiri. Waktu terasa habis begitu saja. Pikiran penuh, tapi tujuan hidup justru makin kabur. Banyak hal berputar di fisik dan tampilan luar, tapi sedikit yang benar-benar menyentuh hati.

Baca Juga  Hilirisasi Inovasi Energi untuk Ketahanan Pangan dan Mitigasi Bencana di Jepara

“Terus sekarang?” katanya lagi.

“Aku berhenti,” jawabku jujur. “Bukan karena nggak bisa, tapi karena pengin jaga diri.”

Keinginan itu tentu masih ada. Ketertarikan pada rupa, pada fisik, adalah hal yang wajar. Tapi semakin ke sini, aku belajar bahwa perempuan bukan sekadar tentang penampilan. Yang bertahan lama justru hati, cara bersikap, dan ketulusan. Fisik bisa menarik, tapi hati yang menenangkan jauh lebih berharga.

Aku mulai mengalihkan fokus pada hal yang lebih nyata: belajar, bekerja, dan berusaha membahagiakan orang tua. Dari situ, hidup terasa lebih terarah. Ada capek, tapi juga ada tenang.

“Aku juga sempat masuk ke dunia anonim,” lanjutku pelan. “Bukan buat cari siapa-siapa, tapi buat belajar memahami.”

Baca Juga  Bantu Warga Terdampak Bencana, Para Pedagang Buah dan Sayur Keluhkan Kondisi Pasar Darurat

Di ruang tanpa nama dan wajah, aku mengamati cara orang berbicara. Dari kalimat sederhana, respons jujur, hingga sikap yang kadang tiba-tiba menghilang. Banyak pertemanan hanya bertahan singkat. Satu bulan, dua bulan, lalu selesai tanpa penjelasan.

“Dan kamu nggak kecewa?” tanyanya.

“Awalnya iya,” kataku. “Tapi lama-lama aku paham.”

Tidak semua orang datang untuk menetap. Ada yang hadir hanya untuk memberi pelajaran. Namun sesekali, muncul sosok yang berbeda. Bukan karena cantik atau menarik secara fisik, melainkan karena sikapnya yang tenang, ucapannya yang dijaga, dan hatinya yang terasa tulus meski hanya lewat kata-kata.

“Ada yang bikin kamu berubah?” ia tersenyum kecil.

“Ada yang bikin aku mengerti,” jawabku. “Bahwa memahami perempuan itu bukan soal memiliki, tapi menghargai. Bukan soal rupa, tapi hati.”

Baca Juga  Kemalasan yang Diam-Diam Menjauhkan Kita dari Mimpi

Aku menatap keluar jendela. Hujan turun perlahan, membuat suasana semakin sunyi.

“Aku yakin,” kataku pelan, “suatu hari nanti aku akan jadi suami. Dan bekalku bukan dari banyaknya hubungan, tapi dari cara memandang perempuan dengan lebih dewasa, lebih manusiawi, dan lebih jujur.”

Temanku mengangguk. “Sekarang kamu kelihatan lebih tenang.”

Aku tersenyum. Karena memang begitu rasanya. Pada akhirnya, yang paling berharga bukan cahaya dari fisik yang mudah pudar, melainkan cahaya dari hati yang mampu bertahan dalam waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Dewan Pers Pastikan Platform Digital Jalankan Perpres 32 Tahun 2024
Dugaan Intimidasi Pedagang Es, Kawan Indonesia Minta Panglima TNI dan Kapolri Bertindak
Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Pulau Jawa, Getaran Terasa hingga Lombok
KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Oknum Ditjen Pajak dalam Kasus Manipulasi PBB PT Wanatiara
Bersama Bhayangkari, Polres Kendal Salurkan Menu MBG di SDN Tambakrejo
Garda Bangsa Jateng Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden, Kholid: Amanat Reformasi Harus Dijaga
Tanggul Kali Bodri Tergerus, Polisi dan Pemdes Pasang Tanda Bahaya
Perkuat Karakter Mahasiswa, UIN Palembang Hadirkan Orang Tua Wali Mahasiswa KIP Kuliah

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:41

Dewan Pers Pastikan Platform Digital Jalankan Perpres 32 Tahun 2024

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:01

Dugaan Intimidasi Pedagang Es, Kawan Indonesia Minta Panglima TNI dan Kapolri Bertindak

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:20

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Pulau Jawa, Getaran Terasa hingga Lombok

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:31

Bersama Bhayangkari, Polres Kendal Salurkan Menu MBG di SDN Tambakrejo

Selasa, 27 Januari 2026 - 13:18

Garda Bangsa Jateng Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden, Kholid: Amanat Reformasi Harus Dijaga

Berita Terbaru