KENDAL, Wawasannews – Sekitar 40 perusahaan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal memaparkan kebutuhan kompetensi dan tenaga kerja kepada perguruan tinggi vokasi dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan industri dengan pendidikan vokasi.
Paparan tersebut berlangsung dalam Workshop Kemitraan Strategis Politeknik Negeri dan Akademi Komunitas Negeri (AKN) se-Indonesia di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu Kendal, Rabu (23/9).
Forum nasional itu diikuti sekitar 44 politeknik dan lima AKN. Selain perguruan tinggi vokasi, puluhan perusahaan yang beroperasi di KEK Kendal turut hadir untuk menyampaikan profil usaha, kebutuhan kompetensi, kebutuhan tenaga kerja, serta peluang kerja sama.
Perusahaan yang terlibat berasal dari sejumlah sektor industri, antara lain elektronik, energi terbarukan, peralatan medis, fashion, otomotif hingga packaging.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek RI, Dr Beny Bandanadjaja, ST, MT, mengatakan mahasiswa perlu memperoleh pengalaman industri sejak masih menempuh pendidikan. Salah satunya melalui program magang di perusahaan.
“Tujuannya agar proses pembelajaran mahasiswa bisa lebih baik karena mahasiswa terlibat di dalam kegiatan industri. Contohnya magang. Kalau mahasiswa bisa magang di sini, dia punya pengalaman industri,” kata Beny.
Selain memberikan kesempatan magang, perusahaan juga diharapkan mengirimkan praktisi untuk terlibat dalam pembelajaran di kampus. Praktisi dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan tenaga kerja, budaya kerja, hingga perkembangan industri.
Menurut Beny, keterlibatan langsung industri dalam pendidikan menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi vokasi.
Executive Director KEK Kendal, Juliani Kusumaningrum, mengatakan perkembangan kawasan industri perlu diikuti dengan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Seiring dengan perkembangan kawasan dan semakin beragamnya aktivitas industri, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai juga semakin luas. Karena itu, kami melihat kolaborasi dengan pendidikan vokasi sebagai bagian penting untuk memastikan kebutuhan industri dapat terhubung dengan pengembangan talenta sejak dari proses pendidikan,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut diperkuat melalui penandatanganan MoU antara PT Kawasan Industri Kendal (KIK) dengan Politeknik Negeri dan AKN se-Indonesia serta dengan HOPE International Economic Cooperation (Wuhan) Co. Ltd.
Direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines), Dr Garup Lambang Goro, ST, MT, mengatakan perkembangan industri dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan di dunia pendidikan.
“Perkembangan di industri kadang-kadang lebih cepat daripada perkembangan di pendidikan. Salah satu caranya menghadapi itu adalah kerja sama agar kita bisa lebih cepat,” ujarnya.
Menurut Garup, kerja sama antara kampus dan industri tidak hanya diarahkan pada penyerapan tenaga kerja. Riset dan inovasi yang dikembangkan dosen maupun mahasiswa juga dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri.
Kemitraan yang dibahas dalam forum tersebut mencakup program magang dan praktik kerja, rekrutmen, pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri, penelitian terapan, pengembangan kompetensi, serta inovasi.(Red)






