OPINI, Wawasannews.com – Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa paling keras mengkritik dirinya sendiri, tetapi justru paling jarang memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. Pada fase itu, pikiran mampu berjalan jauh, terlihat bijak, bahkan penuh nasihat, namun langkah nyata terasa tertahan. Kepala terus bekerja, sementara tubuh dan hati belum sepenuhnya siap bergerak.
Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai kemunduran, padahal jika ditelaah lebih dalam, ia adalah bentuk kebangkitan yang belum stabil. Bangkit, tetapi tidak konsisten. Hari ini merasa yakin, esok kembali ragu. Kondisi ini kerap menimbulkan frustrasi karena progres terasa tidak nyata, seolah waktu berjalan tanpa menyisakan hasil yang bisa dibanggakan.
Dalam analisis diri, ketidakkonsistenan bukan selalu tanda kegagalan. Ia sering muncul sebagai dampak dari ketakutan akan jatuh kembali pada kesalahan yang sama. Ada keinginan kuat untuk berubah, namun dibarengi kecemasan berlebihan terhadap hasil. Akibatnya, seseorang lebih banyak berhenti, merenung, dan mengamati, daripada benar-benar melangkah.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah semakin kompleks ketika fokus hidup terlalu jauh diarahkan ke luar. Terlalu luas melihat, terlalu besar berharap, dan terlalu sibuk membantu hal-hal yang jauh, hingga lupa bahwa di sekitar diri sendiri masih ada ruang yang membutuhkan perhatian. Padahal, perubahan paling nyata kerap dimulai dari hal-hal kecil yang dekat, sederhana, dan sering dianggap sepele.
Keinginan untuk berlari kencang dalam hidup adalah hal wajar. Namun realitas tidak selalu menyediakan lintasan yang bersih. Ada batu-batu besar yang menghadang, bukan untuk dihancurkan sekaligus, melainkan untuk dihadapi satu per satu. Sayangnya, banyak orang berhenti bukan karena batu itu terlalu besar, tetapi karena terlalu sibuk membayangkan hasil akhir, bukan proses yang harus dijalani.
Di titik inilah evaluasi diri menjadi penting. Diam tidak selalu berarti malas, dan berhenti sejenak tidak selalu berarti menyerah. Ada diam yang produktif, yaitu merenung untuk memahami arah, dan ada diam yang pasif, yakni terlena oleh ketakutan dan kekhawatiran. Membedakan keduanya adalah bagian dari kedewasaan berpikir.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, proses ini layak diberi ruang dan apresiasi. Reward tidak selalu berbentuk pencapaian besar atau pengakuan sosial, melainkan keberanian untuk tetap bertahan, tetap mencoba, dan tetap mengevaluasi diri. Memberi waktu untuk memahami diri sendiri di tengah tekanan hidup adalah hadiah yang sering kali dilupakan.
Bangkit yang tidak konsisten bukanlah kegagalan moral, melainkan tanda bahwa seseorang sedang berada dalam proses transisi. Selama masih ada kemauan untuk belajar, memperbaiki arah, dan melangkah kembali—meski perlahan—maka proses itu tetap memiliki arti. Dalam dunia yang serba menuntut hasil cepat, memilih untuk memahami diri sendiri mungkin adalah bentuk keberanian yang paling jujur.~mahkota jr~








