KENDAL, Wawasannews.com – Banjir bandang Sungai Waridin kembali menerjang wilayah Kecamatan Kaliwungu dan Brangsong, Kabupaten Kendal, Kamis (15/1/2026) malam. Luapan air yang datang secara tiba-tiba selepas salat Isya itu mengakibatkan ratusan rumah warga terendam, sejumlah bangunan jebol, serta menelan satu korban jiwa.
Peristiwa bermula ketika debit Sungai Waridin meningkat drastis akibat hujan deras di wilayah hulu. Air meluap deras melalui portal sungai dan langsung menggenangi permukiman warga di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kaliwungu. Dalam waktu singkat, ketinggian air mencapai dada orang dewasa dan bertahan lebih dari empat jam sebelum perlahan surut.
Salah satu rumah yang terdampak cukup parah adalah milik Solikin, warga RT 2 RW 1 Desa Kumpulrejo. Derasnya arus banjir menghantam rumah dan warungnya hingga menyebabkan dinding bangunan jebol. Selain itu, tanggul Sungai Waridin di sekitar lokasi tergerus sedalam sekitar 50 sentimeter dengan lebar hampir satu meter.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
“Air datang sangat cepat dan deras, kejadiannya selepas Isya,” ujar Solikin saat ditemui, Jumat (16/1/2026). Ia bersama istri dan anaknya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman demi menyelamatkan diri ketika banjir berada di puncaknya.
Di sisi barat Sungai Waridin, kondisi serupa terjadi di Desa Kebondalem, Kecamatan Brangsong. Kepala Desa Kebondalem, Bisri, menyebut sedikitnya 695 rumah warga terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.
“Hampir seluruh rumah warga kami tergenang. Hanya beberapa rumah baru yang lantainya sudah ditinggikan yang tidak terdampak,” kata Bisri.
Banjir di Kebondalem diperparah oleh kiriman air dari desa-desa di wilayah selatan Kendal. Sejumlah warga terpaksa mengungsi semalaman, sementara proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan bantuan BPBD Kendal dan personel Polres Kendal untuk memastikan keselamatan warga.
Di tengah upaya penanganan banjir, kabar duka datang dari Desa Kebondalem. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia saat banjir berlangsung. Berdasarkan keterangan pemerintah desa, korban diketahui memiliki riwayat penyakit stroke.
“Saat mendengar kabar sungai meluap, korban diduga panik, terjatuh, lalu meninggal dunia. Korban memang memiliki riwayat stroke,” jelas Bisri.
Hingga Jumat pagi, genangan banjir di Desa Kumpulrejo dan Kebondalem berangsur surut. Warga mulai kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa lumpur dan mengecek kondisi bangunan. Meski demikian, kekhawatiran akan banjir susulan masih dirasakan warga, mengingat Sungai Waridin dikenal kerap meluap saat hujan deras mengguyur kawasan hulu.
Pemerintah desa bersama instansi terkait diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi tanggul dan aliran Sungai Waridin guna meminimalkan risiko banjir berulang, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan warga menghadapi potensi cuaca ekstrem ke depan.(ucl)








