Belajar Berdamai dengan Diri di Tengah Proses yang Tertatih

- Pewarta

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

istimewa/wawasannews

istimewa/wawasannews

OPINI, Wawasannews.com – Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa paling keras mengkritik dirinya sendiri, tetapi justru paling jarang memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. Pada fase itu, pikiran mampu berjalan jauh, terlihat bijak, bahkan penuh nasihat, namun langkah nyata terasa tertahan. Kepala terus bekerja, sementara tubuh dan hati belum sepenuhnya siap bergerak.

Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai kemunduran, padahal jika ditelaah lebih dalam, ia adalah bentuk kebangkitan yang belum stabil. Bangkit, tetapi tidak konsisten. Hari ini merasa yakin, esok kembali ragu. Kondisi ini kerap menimbulkan frustrasi karena progres terasa tidak nyata, seolah waktu berjalan tanpa menyisakan hasil yang bisa dibanggakan.

Baca Juga  Sekolah Terendam Banjir, Puluhan Siswa di Kendal Terpaksa Diliburkan

Dalam analisis diri, ketidakkonsistenan bukan selalu tanda kegagalan. Ia sering muncul sebagai dampak dari ketakutan akan jatuh kembali pada kesalahan yang sama. Ada keinginan kuat untuk berubah, namun dibarengi kecemasan berlebihan terhadap hasil. Akibatnya, seseorang lebih banyak berhenti, merenung, dan mengamati, daripada benar-benar melangkah.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalah semakin kompleks ketika fokus hidup terlalu jauh diarahkan ke luar. Terlalu luas melihat, terlalu besar berharap, dan terlalu sibuk membantu hal-hal yang jauh, hingga lupa bahwa di sekitar diri sendiri masih ada ruang yang membutuhkan perhatian. Padahal, perubahan paling nyata kerap dimulai dari hal-hal kecil yang dekat, sederhana, dan sering dianggap sepele.

Baca Juga  Ketua DPRD Kendal Tekankan Disiplin Berorganisasi di Era Digital

Keinginan untuk berlari kencang dalam hidup adalah hal wajar. Namun realitas tidak selalu menyediakan lintasan yang bersih. Ada batu-batu besar yang menghadang, bukan untuk dihancurkan sekaligus, melainkan untuk dihadapi satu per satu. Sayangnya, banyak orang berhenti bukan karena batu itu terlalu besar, tetapi karena terlalu sibuk membayangkan hasil akhir, bukan proses yang harus dijalani.

Di titik inilah evaluasi diri menjadi penting. Diam tidak selalu berarti malas, dan berhenti sejenak tidak selalu berarti menyerah. Ada diam yang produktif, yaitu merenung untuk memahami arah, dan ada diam yang pasif, yakni terlena oleh ketakutan dan kekhawatiran. Membedakan keduanya adalah bagian dari kedewasaan berpikir.

Baca Juga  Ini Dia Profil Farida Farichah, Mantan Ketum PP IPPNU yang Dilantik Jadi Wamenkop

Sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, proses ini layak diberi ruang dan apresiasi. Reward tidak selalu berbentuk pencapaian besar atau pengakuan sosial, melainkan keberanian untuk tetap bertahan, tetap mencoba, dan tetap mengevaluasi diri. Memberi waktu untuk memahami diri sendiri di tengah tekanan hidup adalah hadiah yang sering kali dilupakan.

Bangkit yang tidak konsisten bukanlah kegagalan moral, melainkan tanda bahwa seseorang sedang berada dalam proses transisi. Selama masih ada kemauan untuk belajar, memperbaiki arah, dan melangkah kembali—meski perlahan—maka proses itu tetap memiliki arti. Dalam dunia yang serba menuntut hasil cepat, memilih untuk memahami diri sendiri mungkin adalah bentuk keberanian yang paling jujur.~mahkota jr~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Dewan Pers Pastikan Platform Digital Jalankan Perpres 32 Tahun 2024
Dugaan Intimidasi Pedagang Es, Kawan Indonesia Minta Panglima TNI dan Kapolri Bertindak
Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Pulau Jawa, Getaran Terasa hingga Lombok
KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Oknum Ditjen Pajak dalam Kasus Manipulasi PBB PT Wanatiara
Bersama Bhayangkari, Polres Kendal Salurkan Menu MBG di SDN Tambakrejo
Garda Bangsa Jateng Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden, Kholid: Amanat Reformasi Harus Dijaga
Tanggul Kali Bodri Tergerus, Polisi dan Pemdes Pasang Tanda Bahaya
Perkuat Karakter Mahasiswa, UIN Palembang Hadirkan Orang Tua Wali Mahasiswa KIP Kuliah

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:41

Dewan Pers Pastikan Platform Digital Jalankan Perpres 32 Tahun 2024

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:01

Dugaan Intimidasi Pedagang Es, Kawan Indonesia Minta Panglima TNI dan Kapolri Bertindak

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:20

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Pulau Jawa, Getaran Terasa hingga Lombok

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:31

Bersama Bhayangkari, Polres Kendal Salurkan Menu MBG di SDN Tambakrejo

Selasa, 27 Januari 2026 - 13:18

Garda Bangsa Jateng Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden, Kholid: Amanat Reformasi Harus Dijaga

Berita Terbaru