Tradisi Maulid di Kaliwungu, Dari Aweh Jadi Weh-wehan, Begini Asal Usulnya

- Pewarta

Senin, 24 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemeriahan tradisi weh-wehan di Kaliwungu saat bulan Maulud, Selasa (24/8/2026) (Wawasannews)

Kemeriahan tradisi weh-wehan di Kaliwungu saat bulan Maulud, Selasa (24/8/2026) (Wawasannews)

KENDAL, Wawasannews.com – Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menghadirkan suasana berbeda di Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Selain diwarnai kegiatan keagamaan, masyarakat setempat juga menjaga tradisi weh-wehan atau ketuwinan yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Tradisi tersebut menjadi salah satu ciri khas peringatan Maulid di Kaliwungu. Warga saling berbagi dan bertukar makanan dengan tetangga, keluarga, maupun masyarakat di sekitar tempat tinggal.

Bagi sebagian masyarakat Kaliwungu, kemeriahan Maulid bahkan membuat bulan tersebut kerap disebut sebagai “lebaran ketiga”, setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Suasana weh-wehan semakin terasa ketika anak-anak dan remaja mulai berkeliling kampung. Mereka membawa makanan dari rumah untuk diberikan kepada tetangga, kemudian menerima makanan dari rumah yang dikunjungi.

Pemandangan tersebut salah satunya terlihat di Kampung Kenduruan, Desa Krajan Kulon, Kecamatan Kaliwungu. Anak-anak tampak antusias mengikuti tradisi yang digelar setiap bulan Maulid tersebut.

“Ini tradisi saling memberi makanan kepada orang lain. Tradisi ini hanya ada di Kaliwungu untuk memperingati Maulid Nabi,” kata warga Kenduruan, Muhammad Alif, Selasa (24/8/2026)

 

Berasal dari Kata Aweh

Di balik tradisi saling bertukar makanan tersebut terdapat makna yang berkaitan erat dengan budaya berbagi.

Tokoh masyarakat Kaliwungu, Muhammad Tommy Fadlurrahman, menjelaskan bahwa istilah weh-wehan berasal dari kata Jawa aweh, yang berarti memberi.

“Diajarkan untuk saling memberi kepada sesama tanpa memandang status sosial,” ujar pria yang biasa disapa Gus Tommy.

Menurutnya, nilai tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam pelaksanaan weh-wehan. Warga tidak hanya membagikan makanan kepada orang-orang tertentu, tetapi juga saling memberi kepada tetangga dan masyarakat di lingkungan sekitar.

Tradisi tersebut kemudian dipopulerkan oleh Mbah Akhmad Rukyat, salah satu sesepuh dan ulama Kaliwungu.

Ajaran mengenai kebersamaan, saling memberi dan tenggang rasa kemudian terus diwariskan melalui tradisi weh-wehan hingga sekarang.

 

Makanan Menjadi Media Berbagi

Dalam pelaksanaannya, tidak ada ketentuan khusus mengenai makanan yang harus dibawa. Warga dapat memberikan berbagai jenis jajanan, makanan rumahan maupun makanan kemasan.

Namun, sejumlah makanan tradisional tetap identik dengan weh-wehan. Salah satunya adalah sumpil.

Sumpil merupakan makanan berbahan beras yang dibungkus menggunakan daun bambu. Makanan tersebut biasanya disantap bersama parutan kelapa dengan bumbu bercita rasa pedas.

Selain sumpil, ketan dengan berbagai warna juga kerap menjadi makanan yang dibagikan warga saat weh-wehan.

Makanan yang diperoleh dari tetangga kemudian dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga.

 

Tradisi yang Dikenalkan Sejak Anak-anak

Kehadiran anak-anak dalam tradisi weh-wehan bukan sekadar menambah kemeriahan. Mereka juga menjadi bagian dari proses pewarisan budaya di Kaliwungu.

Sejak kecil, anak-anak diperkenalkan dengan kebiasaan berbagi, bersilaturahmi dan berinteraksi dengan tetangga melalui kegiatan tersebut.

Karena itu, weh-wehan tidak hanya menjadi tradisi tahunan dalam memperingati Maulid Nabi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai sosial kepada generasi berikutnya.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut masih dipertahankan masyarakat Kaliwungu. Warga terus menjalankan kebiasaan saling memberi makanan sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dari kata aweh yang berarti memberi, lahirlah tradisi weh-wehan yang hingga kini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Kaliwungu saat bulan Maulid.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Perkuat Inklusivitas dan Isu Penguatan Partai Politik, DPW PKB Jateng Terima Kunjungan Utusan Partai Hijau Jerman
Sambut Ribuan Pelajar NU se-Indonesia, Pemkab Kendal Siap Sukseskan Kongres XXI IPNU dan XX IPPNU di Ponpes Darul Amanah
Sidak Temukan IPAL Bermasalah, Tiga SPPG di Kendal Terancam Suspend jika Mangkir Perbaikan
PKB Siapkan Rp 1 Miliar untuk Santri, Pesantren Digital hingga Sholawat Idol Jadi Andalan
Kapolda Jateng Tekankan Polisi Bersama Masyarakat Harus Dirasakan Lewat Kerja Nyata
Atasi Kekeringan dan Buka Peluang Ekonomi, Tambahsari Mulai Kembangkan Kaliringin Park
Sampel Makanan Korban Tak Tersedia, Penyebab Dugaan Keracunan MBG Batang Belum Terungkap
Laka Maut Depan PG Cepiring, Sopir Truk Box Tewas, Pengemudi Dump Truk Menghilang

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:24

Perkuat Inklusivitas dan Isu Penguatan Partai Politik, DPW PKB Jateng Terima Kunjungan Utusan Partai Hijau Jerman

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:10

Sambut Ribuan Pelajar NU se-Indonesia, Pemkab Kendal Siap Sukseskan Kongres XXI IPNU dan XX IPPNU di Ponpes Darul Amanah

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:43

Sidak Temukan IPAL Bermasalah, Tiga SPPG di Kendal Terancam Suspend jika Mangkir Perbaikan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:56

PKB Siapkan Rp 1 Miliar untuk Santri, Pesantren Digital hingga Sholawat Idol Jadi Andalan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:23

Kapolda Jateng Tekankan Polisi Bersama Masyarakat Harus Dirasakan Lewat Kerja Nyata

Berita Terbaru

Secret Link